
"Sementara kita tinggal di sini dulu ya?!" ucap Bu Ningsih kepada Ayu.
Sekarang mereka menempati sebuah kontrakan tiga petak, yang di katakan jauh dari kata layak.
"Iya ngak pa apa Bu, yang penting bisa berteduh sementara?!" jawab Ayu lesu, dia membayangkan apa yang akan terjadi dengan kehidupannya nanti.
"Trus apa rencana ibu, selanjutnya?!" tanya Ayu.
"Besok Ibu ingin menemui laki-laki sialan itu ke kantornya, enak saja dia jual rumah sesuka hatinya!!" sungut Bu Ningsih.
"Emang itu rumah milik Ibu?"
"Bukan, itu rumah warisan dari orang tuanya?!"
"Trus kenapa Ibu malah marah? sudah lah bu... kita cari hidup buat kita aja, jangan lagi mengganggu mereka?!" ucap Ayu yang mulai sadar.
"Ngak bisa gitu dong! Ibu sudah berkorban untuk mereka, di ikat dengan tali pernikahan selama ini, sudah melahirkan anak buat dia. sekarang ibu mau minta bayarannya!"
"Terserah Ibu saja?!" ucap Ayu yang malas berdebat, kepalanya mumet, memikirkan apa yang terjadi pada hidupnya.
Di tempat lain...
Wiliam sedang mengikuti Nina pulang ke kampung halamannya diam diam, karena Wiliam mendengar Nina bicara di telepon sedikit berteriak namun Wiliam tak bisa mendengarkan pembicaraan mereka dengan jelas.
Di sini lah Wiliam berada di sebuah desa yang asri dengan luas hamparan sawah yang hijau memanjakan mata memandangnya, namun tidak di rumah sederhana itu keadaan sedikit manas.
__ADS_1
"Pokok nya Bapak ngak mau tau, kamu harus menikah dengan Haji Mamad!!" teriak Bapak Nina.
"Aku ngak mau, nikah sama dia, sudah tua bangka banyak istri juga, ngapain aku nikah sama dia!" kesal Nina.
"Kamu jangan kurang ajar Nin, turutin permintaan Bapak!!" teriak Bapak Nina.
"Itu ngak akan terjadi Pak, dan aku ngak sudi!!"
"Heee... anak sialan, sudah di besarin, tidak tau diri kamu!!"
Bapak besarin aku dari mana?? pernah ngak
Bapak ngasih makan kami, Ibu Pak... Ibu yang kasih kami makan, Bukan Bapak!! bahkan aku juga kerja sambil sekolah, Bapak yang ngak tau di untung di sini, yang maunya enak doang!!" teriak Nina, yang tak memandang itu Ayahnya lagi, sudah cukup penderitaan yang dia berikan kepada Istri dan anak anaknya, dan kali ini Nina tak akan mau mengalah lagi.
"Heh....anak kurang ajar kamu...!!"
Plak..
Nina...
Kakak..
Teriak Ibu dan adik adik Nina.
Nina jatuh tersungkur di lantai dan kepalanya membentur tiang rumah, bibir Nina mengeluarkan darah, karena saking kerasnya tamparan sang Bapak.
__ADS_1
Nina bukanya takut, dia malah melotot tajam menatap Bapaknya itu.
"Apaaa... puas Bapak menamparku, apa mau bunuh aku sekalian, bunuh coba...!!" teriak Nina.
"Anak sialan kau...!!" Bapak Nina sudah mengangkat kakinya ingin menendang Nina, namun itu tak jadi dia lakukan, kerena ancaman Aris adik ke dua Nina.
Awas sampai Bapak menendang kak Nina, akan aku lapor ke polisi, aku sudah merekam semua perbuatan Bapak!!" teriak Aris.
"Aakkggg... sialan kalian, ngak ada guna kalian semua, mati aja kalian semua!!" teriak Bapak dan meninggalkan rumah tersebut sambil membanting pintu.
Aris mendekati sang kaka yang masih terduduk di lantai.
"Maafin Aris kak? belum bisa jaga kalian?!" isak Aris sambil memeluk sang kaka.
"Ngak pa apa, sudah jangan nangis nanti Ibu juga ikutan sedih?!" ucap Nina menenangkan hati sang adik,
"Maafin Ibu nak?!" ucap Ibu sendu.
"Ngak pa apa Bu, aku baik baik aja kok?!" ucap Nina meringis menahan sakit di pipinya.
"Huuu... uuuu.. kakak... hiks... hiks....." tangis Aisyah.
"Sudah jangn nagis nanti cantiknya ilang loh...?!" goda Nina.
"Ih... kaka mah, ini lagi sedih lho... kak, kok malah di ketawain?!" omel Aisyah cemberut, membuat yang tadi lagi bersedih, kini malah jadi tertawa melihat tingkah Aisyah yang lucu.
__ADS_1
Jangan lupa orang yang sedang mengintai di luar, tangan nya terkepal kuat, menahan amarah di dadanya, melihat orang yang mengganggu ke damain hatinya babak belur.