
Dua jam sudah mereka menunggu di depan pintu ruang operasi tersebut, tapi belum ada tanda tanda pintu itu akan terbuka,
Bria, Wiliam dan Arya, sudah dapat penanganan dan mengganti pakaian mereka, seharusnya mereka di suruh istirahat, namun karena mereka bersikeras menunggu Aira,
"Lama banget sih...?!" Brian frustasi, dia dari tadi tak tenang, duduk berdiri, jalan kesana kamari, membuat yang menunggu ikutan pusing melihat tingkah Brian
"Sabar nak...?! sekarang lebih baik kamu duduk tenang dekat Mami! dari pada kamu mondar mandir ngabisin tenaga!" ucap sang Papi.
"Aku, ngak tenang Pi...!?" ucap Brian lirih
"Sabar... kita doakan saja operasinya berjalan lancar! serahkan semua sama Allah...?!' ucap sang kakek, tak kalah cemas,
"Huuuffff... kenapa dia malah nyelamatin aku sih Pi... harusnya aku, yang berada di sana!" ucap Brian dengan lelehan Air matanya.
Akhirnya yang lain hanya diam mendengarkan keluh kesah Brian, mereka juga tak tau mau jawab apa, mereka pun sama, sama kacau memikirkan Aira,
"Padahal... aku berniat melamarnya minggu ini..?!" lanjut Brian, sambil menerawang dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Hening....
Hanya itu yang terjadi, tampa ada yang berniat menjawab omongan Brian, walaupun mereka mendengar ucapan Brian namun saat ini jujur mereka bingung mau berbuat apa.
Lama menunggu akhirnya pintu ruang operasi itu, akhirnya terbuka juga.
Meraka langsung mengerubuni Dokter yang keluar dari ruangan tersebut, mereka ingin tau, bagai mana keadaan Aira saat ini.
"Bagai mana Dok...! keadaan anak kami?!" ucap sang Papi.
Dokter dengan wajah lelahnya, mencoba tersenyum, walau sedikit deg degan dengan keadaan Aira sekarang ini, namun dia harus tetap memberi tahu keadaan Aira kepada orang orang yang mungkin saja saudaranya, menurut sang Dokter.
"Apaaa.... koma!!" ucap mereka serempak.
"Iya... kami akan memindahkan nona Aira ke ICU, ucap sang dokter.
Huaaaaa... hiks ... hiks... hiks.... pecah sudah tangis Aleta yang tadi dengan susah payah dia tahan, berharap sang sahabat karib,
__ADS_1
dewi penolongnya itu berharap baik baik saja, ternyata harapannya tak sesuai,
Brukkk.....
Brian jatuh tersungkur mendengar keadaan sang kekasih, "Ngak mungkin... ngak mungkin...!!" teriak Brian putus asa,
terdengar isak tangis di ruangan tersebut, tak ada yang tak mengeluarkan Aira mata semuanya menangis, tak ada lagi wajah sangar mantan preman itu, tak adalagi tampang cool lagi, tak ada lagi tampang ceria lagi di sana, semuanya larut dalam kesedihan,
Mereka tak menyadari, tak jauh dari sana, ada seseorang mengintai mereka,
"Bagus... tak dapat membuat kamu celaka Bri, setidaknya, orang yang kalian sayangi celaka, hahaha.... semoga dia mati! dan kau tak menolakku lagi, hahahaha....!" tawa jahat seseorang di ujung sana, dan pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tak lama pintu ruangan operasi tersebut, terbuka dari dalam, terlihat beberapa perawat mendorong bad rumah sakit, yang di atasnya terbaring lemah gadis cantik yang mereka sayangi, dengan wajah pucat lengkap dengan berbagai selang terpasang di tubuh mungil tersebut.
Sakit sungguh sakit hati mereka melihat bidadari tak bersayap itu, yang di dorong terburu buru, menuju ruang ICU, mereka hanya bisa mengikuti dari belakang dengan segala pikiran buruk dan segala kecemasan di hati mereka,
Sang Momy tak kuat melihat gadis yang sudah di angkat anak sama dia itu, langsung jatuh pingsan.
__ADS_1
Brian tak ada tenaga lagi melihat pujaan hatinya dalam keadaan yang tak baik baik saja, terpaksa mereka memapah Brian, menuju ruang ICU.
Bersambung...