
"Sayanggg....!? denger ngak sih... abang ngomong!" rajuk Brian pada Aira, yang merasa sang kekasih hanya diam tak menjawab permintaannya,
Aira terkekeh melihat Brian, yang merajuk itu.
"Abang.... Barusan ngajak aku nikah?" kembali kembali bertanya kepada Brian,
Brian menganggukkan kepalanya penuh harap,
"Ncek... Aira berdecak lidah karena jengkel sama Brian,
"Abang itu, ngak ada tempat lain apa gitu! buat ngungkapin persaan sama aku, dan ngajak nikah aku jugal! kesal Aira,
Maksudnya...! tanya Brian tak mengerti,
"Kemaren nembak aku di parkiran!, sekarang ngajak nikah di kontrakan! ternyata bener kata Aleta sama kak Jasmin, abang itu Ceo miskin tau pelit!" sungut Aira kesal,
Brian terkekeh dengan tingkah Aira dan membenarkan ucapan Aira, dan sedikit kesal kepada dua sepupu perempuannya itu, yang mengatai dirinya Ceo miskin,
"Maaf" kekeh Brian melihat sang pujaan hati,
"Abang jago soal bisnis!, tapi abang kurang mengerti tentang hal berpacaran dan melamar perempuan!?, karena ini pertama kali jatuh cinta, itu sama kamu sayang!"
"Yakin itu cinta! bukan obsesi?" tanya Aira, dia takut terburu buru untuk menerima cinta Brian, sejujurnya dia masih takut untuk terluka, luka yang di berikan oleh keluarganya saja belum sepenuhnya sembuh, akan di tambah lagi dengan luka baru, Aira sudah tak mampu untuk itu semua.
Brian pun hanya terdiam, benar kata Aira ini cintakah atau hanya obsesi sesaat, kenapa harus terburu buru! kenapa dia tak meyakinkan hatinya terlebih dahulu,
Brian memandangi manik mata Aira, "Trus menurut adek gimana!" tanya Brian kepada sang kekasih,
"Abang tanya hati abang paling dalam dulu! abang Sholat istiqorah dulu! untuk mendapatkan jawabannya, aku juga akan melakukan yang sama, dan kita jangan ketemu untuk sementara waktu! sampai mendapatkan jawaban dari yang kuasa!" Ucap Aira panjang lebar,
__ADS_1
Brian terdiam dengan ucapan Aira, benar kata Aira dia harus meminta petunjuk pada sang pencipta, tapi satu hal yang membuat dia berat hati, kenapa Aira melarang untuk bertemu, dua hari tak bertemu Aira saja pikirannya sudah tak tenang, apa lagi di suruh menunggu sampai mendapat jawabannya, sanggupkah?" itu yang ada di otak Brian saat ini.
"Kenapa diam!" tanya Aira,
"Iya abang akan Sholat Istiqorah, tapi...kenapa kita tidak boleh ketemu selama belum mendapatkan jawabannya!" tanya Brian.
Aira tersenyum memandang Brian,
"Biar kita tau bagai mana perasaan kita masing masing abang...! dan biar menghindari kemesuman abang itu! abang klau ketemu aku bawaannya mesum melulu!" kesal Aira,
Brian mengangguk setuju dengan pendapat pertama Aira, namun tidak untuk yang ke dua, apa katanya mesum, Brian ngak mau di katai mesum,
"Alasan pertama abang setuju! tapi alasan ke dua abang ngak setuju! kesal Brian,
"Emang kenapa ngak setuju?!" tanya Aira,
"Abang di katai mesum! abang ngak mesum ya...!" kesal Brian
"Klau ngak mesum, apa coba namanya? asal ketemu, langsung nyosor kek soang!" kesal Aira.
"itu bukan mesum, tapi mengungkapkan perasaan abang bodoh!" kesal Brian,
"Ya... ya... terserah abang lah! sekarang abang pulang dulu! sudah malam, besok kerja!" titah Aira.
"Kamu... ngusir abang!" ucap Brian tak terima.
"Ncek, bukan ngusir abang sayang..... tapi suruh pulang! sudah malam, ngak enak di lihat orang malam malam ada tamu cowok di kontrakan cewek, dan abang butuh istirahat, karena baru pulang pasti capek! dan besok abang juga kerja, bira fresh abang istirahat yang cukup!" ucap Aira panjang lebar.
"Brian mendengus pasrah, "Baik lah... abang pulang! tapi... minta suntik vitamin dulu! tawarnya.
__ADS_1
"Suntik vitamin apa? emang aku dokter!" ucap Aira polos,
"Ncek, yang ini ni..." kesal brian langsung meny*sor bibir ranum itu, menyerang tampa ampun, jangan lupa tangan nackhal Brian sudah tak tunggal diam sudah mencari apa yang bisa dia pegang dan dia raba,
Entah lah Aira hanya bisa pasrah, tampa bisa menolak, setiap apa yang di lakukan Brian kepadanya, dia juga menikmati setiap sentuhan yang di berikan Brian dan mende*an nikmat,
Apa lagi sekarang tangan nackhal Brian sudah bertengger di puncak gunung himalaya, dan bibir Brian sudah pindah mengendusi leher Aira,
Aira yang berada di pangkuan Brian hanya bisa menggelinjang dan mende*ah nikmat,
Bibir itu terus turun ke bawah dan naik naik kepuncak gunung, membuat Aira membenamkan kepala Brian di sana, Aira menarik rambut Brian menahan sesuatu di bawah sana,
Aahhgg.... Abang?"
Brian berhenti sampai di sana, dia tidak mau sampai ke babblasan, hanya deru nafas mereka yang terdengar naik turun, dengan cepat,
Dia memandang mata Aira yang sudah sama sayunya dengan matanya itu, sebelum melepas kan Aira dia kembali melu*at bibir tipis itu, dan merapikan pakai Aira dan pakaian dia sendiri,
Setelah nafasnya normal seperti sedia kala, baru lah brian bangkit dan izin pulang sama sang kekasih, yang masih malu malu meong itu.
"Abang... pulang ya sayang?! dan di anggukin oleh Aira,
Aira mengantar Brian sampai di depan pintu,
"Dah, masuk gih! abang pulang!" ucap Brian, melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang,
cup....
memberikan satu buah kecipan di bibir ranum yang sudah membengkak ulahnya itu,
__ADS_1
Brian meninggalkan kontrakan setelah sang kekasih masuk ke dalam kontrannya,