Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 238


__ADS_3

Hari demi hari minggu demi minggu sudah terlewati.


Bu Ningsih dan Ayu kini berubah jauh lebih baik dan Bu Ningsih kembali bersemangat berlatih agar bisa berjalan.


Walau dia masih tertatih tatih untuk melangkah, dia tetap semangat berlatih, di bantu oleh seorang perawat yang di datangkan oleh Aira untuk membantunya.


Berhubung hari lahiran Aira sudah dekat, jadi Ayah dan abangnya sudah datang ke kota Y untuk menemani Aira lahiran.


"Tih... tih... dedek?!" ucap Anak Bima sambil memegang perut Aira.


"Iya di sini ada dedek, sebentar lagi abang punya teman bermain" ucap Aira sambil mengelus kepala ponakannya.


"Ndong tih... ( gendong aunty) ucap si bayi lucu itu, meminta Aira menggendongnya.


"Duduk sini aja ya, di samping Aunty, klau gendong nanti adeknya ke tindihan" ucap Aira lembut.


"Ya... duk ni, amping tih" ( iya duduk sini samping Aunty) sambil memukul tempat kosong di samping Aira.


Aira terkekeh melihat anak kecil nan gemes bernama Ivano itu.


Ivano di angkat sang Ayah, agar bisa duduk di samping Aunty cantiknya itu.


"Tih... yum de dek tih" ( Aunty mau cium dedek Aunty)


"Abang mau cium dedek?" tanya Aira lembut.


"Au...." mau ucapnya.

__ADS_1


"Cium sini..." ucap Aira memegang perutnya.


Ivano lansung mencium perut Aira.


Aira terkekeh melihat tingkah ponaknnya itu.


"Dek, kata adek Ibu di sini sama Ayu? beneran dek, dia sudah ngam bikin masalah lagi kan?" tanya Bima cemas.


"Iya Bang mereka di sini, waktu itu...."


Aira menceritakan waktu dia ketemu dengan sang ibu dan Ayu. Bla.... bla...


Ucap Aira panjang kali lebar.


"Begitu Bang ceritanya" ucap Aira menyidahi ceritanya.


"Iya bang, makanya itu aku membantu mereka, jangankan Ibu dan Kak Ayu, orang lain ke susahan saja kita bantu walaupun mereka menyakiti kita, apa lagi Ibu dan Kak Ayu bang" ucap Aira panjang kali lebar.


Semua keluarga yang berkumpul di sana, menatap penuh kekaguman dan bangga kepada Aira, yang tidak mempunyai sifat dendam sedikit pun.


"Ayah juga ingin ketemu sama mereka" ucap Ayah sendu, walau Ayahnya pernah di tipu habis habisan oleh mantan istrinya itu, namun dia tetap merasa Iba karena mereka pernah hidup berdampingan puluhan tahun dan Bu Ningsih tetap ibu yang melahirkan anak anaknya.


Kembali merajut kasih, tentu saja itu tidak mungkin, melihat penghianatan dari Bu Ningsih, namun menjadi saudara apa salahnya, karena mereka mempunyai anak dari pernikahan itu.


"Assalamualaikum..." salam orang dari luar.


"Wa'alaikum salam" jawab seluruh orang di dalam sana.

__ADS_1


"Nah... ini orang yang barusan di ceritakan, panjang umur rupanya" ucap Aira.


"Bapak, abang..." teriak Ayu menghampiri Pak Alek dan Bima sang abang.


"Maafin Ayu pak, Maafin Ayu bang, maaf sudah banyak membuat salah sama kalian, maaf sudah menjauhkan kalian dari Aira, maaf karena aku kalian membenci Aira, Ayah sama abang boleh hukum aku sesuka kalian, aku ikhlas melakukannya" ucap Ayu sesegukan di kaki Pak Alek.


Bu Ningsih tertegun di sana melihat mantan suaminya dan anak sulungnya yang menatap Bu Ningsih.


"Nak..." panggil Bu Ningsih.


Bima berjalan ke arah Bu Ningsih.


"Apa kabar Ibu?" tanya Bima dan bersimpuh di hadapan kursi roda yang di pakai oleh Bu Ningsih.


"Seperti yang kamu lihat nak. Maafkan kesalahan ibu, maaf ibu telah menelantarkan kalian,maaf ibu sering menyakiti kalian, ibu menyesal" ucap Bu Ningsih pilu.


"Sudah bu, jangan minta maaf terus, tanpa ibu minta aku sudah memaafkan Ibu" jawab Bima sambil memeluk sang ibu.


"Terimakasih nak, kalian memang anak anak yang baik, ibu bangga pada kalian dan ibu sangat menyesal menelantatkan kalian" ucap Bu Ningsih, Aira dan Ayu mendekat ke arah abang dan ibunya berpelukan dan mereka pun ikut berpelukan.


Pak Alek melihat itu tersenyum dan ikut senang melihat anak anaknya sudah merasakan pelukan sang ibu, yang tidak pernah mereka rasakan selama ini.


Bersambung...


Haiii.. jangan lupa like komen dan vote ya....


"Terimakasih.."

__ADS_1


__ADS_2