
Dor...
Aaggghhh....
Dor....
Aaaaggghhh....
Airaaa ...... teriak Brian, Wilian dan Arya, yang mendengar lengkingan suara Aira yang sudah terkulai lemas dalam pelukan Brian.
Iya Aira melihat pistol yang sudah siap menebak ke arah Brian, Aira berlari melindungi tubuh sang kekasih dari hantaman timah manas itu,
Aira.... bangun sayang....! bangun..... huaaaa......" Bria. tak bisa lagi menahan tangisnya, melihat sang kekasih yang berada dalam dekapannya yang sudah bersimbah darah.
"A-abanggg... a-aku me - cin - ta - i... a-bbb.... dengan suara terputus putus dan sisa sisa tenaga yang Aira punya dia mengungkapkan isi hatinya kepada Brian, kata kata itu tak sampai selesai di ucapkan Aira, dia keburu tak sadarkan diri dan terkulai lamas dalam dekapan Brian.
"Bangun sayang.... Bangun... jangan begini, hiks... hiks... hiks...
Brian tak mampu lagi melihat sang kekasih yang menutup matanya dan tersenyum manis di bibir pucatnya itu,
Sedangkan Wiliam dan Arya, yang hampir gagal fokus sama Aira mau tak mau kembali menyerang musuhnya secara brutal, sebelum mereka yang mati konyol oleh musuhnya,
Di saat mereka yang hampir terjepit oleh musuh itu, di selamatkan para preman yang dulu pernah berantem dengan Aira,
__ADS_1
Preman itu melihat gadis yang ada di pangkuan Brian adalah gadis yang pernah mereka keroyok itu, langsung memukul lawan membabi buta.
Sialan loe.... brengsek... klau berantam jangan gunakan senjata loe.... pakai tangan kosong, sialan.....!!" preman tersebut malah ikut mengamuk dengan melihat tubuh lemah Aira, mereka bukan membenci gadis cantik itu, malah hormat sama sang gadis, karena gadis tersebut sudah banyak menolong para teman teman mereka dari ke Hidupan keras yang mereka jalani selama ini.
Bag....
Bug...
Krakkk...
Bag....
Bug...
Bunyi tendangan dan pukulan dan tulang tulang patah, mereka membabi buta menyerang musuh musuh Brian tersebut, dan sebagian kecil dari mereka membawa Aira ke rumah sakit, karena Brian sudah tak mampu untuk melakukan apa apa lagi, hanya memeluk sang kekasih dan meraung sejadi jadinya,
Setelah musuh musuh tumbang, dan beberapa musuh mereka bawa ke markas mereka, untuk mengetahui siapa dalang dari penyerangan tersebut.
Mereka juga membawa Wiliam dan Arya yang sudah babak belur tersebut ke rumah sakit.
"Bang tolong anter kami, ke rumah sakit tempat Aira di bawa bang...!" mohon Wiliam
"Sabar Pak...!" kami akan mengantar kalian ke sana, tapi sebelumnya obati dulu luka luka kalian...!" ucap kepala preman tersebut
__ADS_1
"Tidak bang... tidak apa dengan luka kami, kami tidak peduli dengan luka kecil ini, kami ingin melihat adik kami, hiks... hiks... hiks..."
Pecah sudah tangis dua pria tampan itu, hilang sudah wajah dinginnya, hilang sudah wibawa seorang pengusaha terhormat, gara gara Aira.
Preman tersebut hanya bisa menghela nafas, melihat tingkah dua pria tampan tersebut, mereka juga khawatir dengan Aira, tapi setidaknya bersihkan dulu luka luka mereka, barulah pergi mencari Aira, namun melihat kelakuan dua pria tampan nan gagah yang sudah berubah wujud jadi pria cengeng itu, mau tak mau, mereka membawa dua pria tersebut ke rumah sakit tempat Aira mendapatkan pertolongan.
Aira yang sudah sampai di rumah sakit di depan pintu IGD rumah sakit setia budi itu, Brian langsung berteriak teriak minta pertolongan.
"Dokter... suster.... tolong kekasih saya...!" teriak Brian frustasi.
Melihat korban yang sudah bersimbah darah itu, team dokter dan perawat langsung sigap menangani Aira, Brian yang ingin masuk menemui sang kekasih, langsung di hadang oleh perawat.
Maaf Tuan.. anda di larang masuk, korban akan kami tangani di dalam!" ucap perawat tersebut
"Tapi saya ingin melihat dia sus...!" ucap Brian frustasi.
"Tuan tunggu di sini saja, biarkan
Dokter melakukan tugasnya..!" ucap Perawat tersebut lagi
"sudah tuan, tuan tunggu di sini dulu, biar Aira di tangani oleh para dokter dulu!" ucap salah satu preman yang turut mengantar Aira ke rumah sakit tersebut.
Mau tak mau Brian terpaksa menunggu Aira dengan perasaan yang kacau dan dengan tubuh lemah itu, dia mengabaikan rasa sakit dan perih di tubuhnya sendiri.
__ADS_1