Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 151


__ADS_3

Di rumah sakit. Ayu sedang mondar mandir, menunggu kabar dari dalam IGD, sudah lebih dari satu jam belum ada tanda tanda dokter untuk menemuinya.


"Ya Allah tolong selamatkan Ibu hamba, hanya dia yang hamba punya Ya Allah... Hiks... Hiks...Hiks..."


"Bu, tolong bertahan demi Ayu Bu... jangan tinggalin Ayu sendiri Bu, Ayu ngak punya siapa siapa Bu, hiks... hiks..." tangis Ayu.


Ceklek....


Pintu IGD terbuka, dan keluarlah sosok dokter dari dalam sana.


Ayu lansung menemui sang dokter dengan tergesa gesa.


"Gimana keadaan Ibu saya Dok?!" tanya Ayu lirih.


Hufff.....


Sebelum dokter menjawab pertanyaan Ayu, terlebih dahulu sang dokter membuang nafasnya dan kembali meraup udara sebanyak banyaknya, pertanda keadaan sedang tak baik baik saja.


"Ibu anda keadaannya cukup memprihatinkan, kepalanya terbentur lumayan keras, mengakibatkan tengkorak kepalanya retak, dan kaki nya juga patah parah, harus di laksanakan operasi sekarang juga, klau terlambat nyawanya bisa tak tertolong lagi!" ucap sang dokter


Membuat Ayu seketika limbung, hampir saja dia terjatuh, klau tidak di tolong oleh sang dokter.


"Anda baik baik saja Nona?!" tanya sang dokter yang masih menahan tubuh Ayu.

__ADS_1


"Ah... "terima kasih" dok?!" ucap Ayu sambil berdiri kembali.


"Tolong dok, selamatkan ibu saya, tolong lakukan yang terbaik untuk Ibu saya dok ?!" ucap Ayu lirih.


"Baik Nona kami akan melakukan semampu kami, tolong anda mengurus ke bagian administrasi segera!?" ucap sang dokter.


"Baik dok?!" Ayu berlalu ke bagian administrasi untuk mengurus biaya operasi dan ruang rawat inapnya.


"Mbak Saya mau mengurusa biaya operasi dan ruang inap atas nama Bu Ningsih?!" ucap Ayu.


"Tunggu sebentar ya kak saya proses dulu?!" ucap si petugas.


Ayu duduk dengan gelisah, memikirkan biaya pengobatan sang Ibu, bagai mana cara membayarnya, sedangkan dia tidak punya uang lagi.


Biaya seluruhnya dua ratus lima puluh juta kak?!" ucap petugas administrasi.


"Klau kelas tiga seratus tujuh puluh lima juta kak?" ucap si petugas dengan ramah.


"Apa tidak bisa kurang lagi mbak?!" tawar Ayu.


"Tidak bisa kak, itu sudah ketentuan dari rumah sakit?!" ucap petugas.


Beruntungnya uang yang di berikan Brian masih ada, belum sampai di habiskan oleh mereka, dan Ayu masih bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Baik mbak, saya ambil yang ini?!" ucap Ayu


Bu ningsih sudah di bawa kedalam ruang operasi, Ayu menunggu di luar dengan harap harap cemas.


"Ya Tuhan salah dan dosa apa aku ya?" tanyanya, yang tak sadar sudah zolim terhadap adiknya sendiri.


"Gimana caranya aku membayar biaya rumah sakit, pasti setelah ini Ibu akan sering bolak balik kontrol, uang sudah ngak punya, apa aku coba aja ya menelpon Bang Bima, biar bagai manapun Ibu tetap Ibu kandung Bang Bima.?!' monolog Ayu sendiri.


"Ah masa bodo aku harus menghubungi Bang Bima, di tolong atau tidak yang penting di kabarin dulu, semoga aja aku masih menyimpan nomor bang Bima?!" Ayu sibuk mengotak atik hp nya untuk mencari nomor abangnya itu.


"Ahh... syukur lah, aku masih mempunyai nomor bang Bima.


"Hubungi ngak, hubungi ngak, ah... bodolah, aku hubungi aja?!" Ayu langsung memencet nomor telpon Bima.


Tut...


Tut...


Tut...


Agghhh... kok ngak di angkat sih, kesel deh, dasar anak durhaka, Ibunya terkapar di rumah sakit, dia ngak angkat telponnya lagi, ngapain sih, senang senang kali ya sama istri yang yang jelas asal usulnya itu?!" sungut Ayu karena panggilannya tak di angkat.


"Bodo amat pokoknya aku terus telepon dia sampai dia mengangkat telepon dari aku?!" kesal Ayu.

__ADS_1


Bersambung...


Hai... hai.. haiiii.. sayang sayangnya aku, tetap temanin aku menulis ya, jangan lupa like komen vote dan hadiah ya....


__ADS_2