Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 232


__ADS_3

"Wooo.... peralatannya canggih semua, aku belum punya yang ini" teriak Aira berbinar melihat alat alat canggih di dalam ruangan itu.


Aira melangkah menuju sebuah alat yang sangat canggih di sana dengan mata berbinar bagai melihat berlian langka untuk wanita wanita sosialita, namun bagi Aira tidak, dia malah tertarik dengan berbagai peralatan canggih di dalam ruangan itu.


Tangannya dengan sangat lihai menari nari di layar komputer itu, semua mata melotot tidak percaya, ternyata di luar negeri sana, perusahaan Tuan Robert sedang berusaha di bobol orang orang tidak bertanggung jawab.


"Apa apaan ini!!" marah Tuan Robert.


"Tenang lah Paman serahkan kepada Aira" ucap Tommy menenangkan Tuan Robert.


Leonel tidak kalah marahnya melihat sistem nya mau di bobol orang.


Tangan Aira menari nari lincah di sana, matanya tidak lepas dari layar di depannya itu.


Di belahan dunia sana


"Brengsek... kenapa bisa ketahuan sih... kenapa kalian bodoh sekali melawan pria tua bangka itu!" marah seseorang di dalam ruangan gelap itu.


"Tenang lah kau ini, kami sedang berusaha, kau bisanya marah marah saja, memecah konsentrasi kami saja!" kesal Si A.


"Saya tidak mau tau, kalian harus bisa mengambil alih perusahaan itu, gara gara Pria tua bangka itu perusahaan saya kalah dan semua investor kabur dan tidak mau bekerja sama sama saya" tegas Pria itu.


"Ncek.. ngebacot doang bisanya" gerutu orang yang sedang bekerja keras melawan Aira.


"Gimana Nih, kita di blok, haduh... banyak ranjau" celoteh temannya.


Di sisi lain Aira sedang menyeringai bak iblis betina, dia berhasil membuat lawan kocar kacir.

__ADS_1


"Mampus kau..."


Yang melihat senyum Aira lansung bergidik ngeri.


"Ya ampun bumil ini, bikin gue takut saja" gerutu Wiliam.


"Astaga, kenapa bini gue berubah kayak gini sih" gumam Brian.


"Wanita yang unik, gue suka tapi sayang sudah istri orang" Leonel.


"Adek gue dari dulu ngak pernah berubah" gumam Tommy.


"Gadis pintar kamu harus jadi anak angkat saya" gumam Tuan Robert.


Sedang orang yang sedang mereka dumelin, semakin seru dengan permainannya.


"Ahhkkk... sial, peratan gue hancur...!!" teriak si A.


"Hah... Sialan, brengsek kau tua bangka, hancur semua hancur, gue ngak mau jadi gelandangan!!" jerit histeris lelaki yang tidak muda lagi itu.


Dor...


Dor...


Suara tembakan menggema di ruangan itu.


Sosok misterius tersebut lebih memilih bunuh diri dari pada, berurusan dengan polisi, hidup juga ngak guna, sudah bangkrut di tinggal keluarganya pula.

__ADS_1


"Done....." ucap Aira dengan senyum manisnya, namun tidak dengan orang yang melihatnya.


"Hah... lemah segitu doang ngak asik" ucap Aira santai.


"Apa katanya lemah, segitu doang, ngak asik! trus yang asik baginya seperti apa?" dumel Leonel.


Tommy terkekeh mendengar ocehan Leonel.


"Kau belum tau dia pernah berurusan dengan musuh dua hari dua malam tanpa tidur" kekeh Tommy.


"Haaa...." cengok semuanya.


Aira mah santai kek di pantai, memakan cemilan yang sudah di bawakan oleh suami siaganya itu, tanpa memperdulikan ocehan ocehan orang orang di sekelilingnya itu.


"Bahkan kalian, belum pernah melihat dia membunuh lawan dengan tangan kosong kan, menjatuhkan musuh satu lawan dua puluh Bodyguard tangguh belum pernah lihat kan, gue sudah" bangga Tommy.


Yang lain hanya menelan ludah, takut.


"Maka berhati hati lah, jangn sampai kalian menghianatinya, jangan kan perusahaan kalian akan tumbang, anak cucu kalian akan musnah di bumi ini" ucap Tommy menakuti orang orang di sana.


Melihat wajah wajah pucat pasi itu Tommy malah terkekeh.


"Bang kau menakuti mereka" kesal Aira.


"Tidak, cuma ngasih peringatan doang" ucap Tommy santai.


"Kenapa mereka tidak menjadi kakak adik kandung saja Ded, itu sangat cocok, tampang tampang malaikat, tapi berjiwa iblis" bisik Leonel ke Tuan Robert.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2