
"Kita kerumah sakit ya, ngobatin luka kamu?!" bujuk Wiliam.
"Ngak usah bang, ini sudah di obatin sama ibu?!" tolak Nina.
"Tapi klau di bawa ke rumah sakit kan cepat sembuh, bisa di kasih obat anti nyeri, ini pasti sakit?!" tunjuk Wiliam ke muka Nina.
"Ngak kok!"
"Apanya yang ngak, itu muka udah bonyok kek gitu, di tampar bapak bolak balik lagi dan di dorong pula itu jidat jenongnya makin gede noh?!" seru Aisyah.
"Dek!!" kesal Nina.
"Apa, ngak usah teriak teriak, angkut aja bang kerumah sakit, klau ngak mau pikul aja kayak karung beras?!" saut Aisyah lagi.
"Ya ampun dek?!" kesel Nina melihat kelakuan adiknya itu, jangan tanya Ibu dan Aris sang kaka hanya bisa tepuk jidat, Aisyah emang gitu, klau ngomong asal nyablak, apa yang nyangkut di lag lagkannya lansung keluar tanpa filter.
Aisyah hanya acuh, tanpa memperdulikan ucapan sang kaka.
Wiliam yang mengikuti saran dari Aisyah lansung membopong tubuh Nina.
Belum sampai di luar, ke buru Ayah Nina masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa apaan ini, turunin anak sialan itu!!" bentak si Bapak.
"Apaan sih pak, apa ngak liat kaka udah babak belur bapak tampar, biarin aja di bawa sama abang itu kerumah sakit?!" marah Aisyah.
"Ngak bisa, biarin aja kayak gitu, dia mau di rias, dia akan nikah sekarang juga!!" bentak si bapak.
"Ngak ya aku ngak akan sudi nikah sama aki aki itu!!" teriak Nina dan meronta minta di turunin.
"heh... anak tak tau diri, manding kau nikah sama aki aki, bisa ngasih aku duit, dari pada sekolah tinggi tinggi tapi ngak guna, hidup masih tetap melarat!!" bentak pak toni.
"Bapak butuh duit, kerja pak, jangan ngandalin dari anak istri, apa bapak ngak malu hah... numpang hidup sama anak dan istri bapak, dan sekarang mau jual anak bapak sama bandot tua haa...!!" teriak Aisyah.
Hati Wiliam mendidih, mendengar ucapan Bapak Nina tersebut.
"Jaga ucapan anda Tuan, seharusnya anda yang menjaga anak anak anda, ini malah anda yang menjahatinya!"
"Heh... siapa kau, yang sok ngajarin aku hah..."
"Saya kekasih Nina, kenapa emang!"
"Oh... tak semudah itu anak muda, klau kau mau sama anak sialan itu, kau harus punya uang, baru bisa kau akui dia, klau tidak ada uang, jangan harap anak sialan itu akan bisa kau miliki, masih banyak orang yang mau membelinya!"
__ADS_1
Sakit sungguh sakit hati Nina dan Ibunya mendengar ucapan sang bapak, tega menjual darah dagingnya gara gara uang.
"Bapak butuh uang, berapa yang bapak butuh kan?!" tantang Wiliam.
"Hahahha... kau yakin bisa kasih aku uang?!" ledek Pak Toni.
"Sebutin aja nominalnya!"
"Aku mau tiga ratus juga, apa kau punya hahahha..." ucap Pak Toni sambil tertawa.
"Baik lah, besok akan aku bayar dan sebelum anda mendapatkan uangnya anda harus menikah kan Nina dengan saya dan anda tak di izinkan lagi untuk mengganggu Ibu, Aris dan Aisyah lagi klau sampai anda mengganggu mereka akan saya laporkan ke polisi!" ancam Wiliam.
"Ngak usah banyak bacot, besok gue tunggu lu bawa uang, awas sampai kau bohong, habis kau!!" sambil meletakan jarinya di leher seolah olah itu pisau, dan pak Toni lansung pergi dari rumah itu.
Sebelum sampai di luar, dia berbalik dan melihat ke Nina, istrinya Aris dan Aisyah, "Hari ini kalian selamat, klau besok lelaki itu tak ada bawa uang, kau harus nikah sama laki laki pilihan Bapak!" ancam Pak Toni.
Mereka hanya melengos tak mau melihat sang Bapak.
Wiliam lansung menelpon seseorang dengan serius, setelah itu dia kembali membopong Nina untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.
Bersambung...
__ADS_1