Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 144


__ADS_3

Bu Ningsih hari ini sengaja menunggu Pak Alek di depan kantor Pak Alek, dia menunggu hingga waktu makan siang.


"Kemana sih, tua bangka ini, dari tadi tak kelihatan, kaki aku sudah pegal berdiri?!" Bu Ningsih bersungut sungut seorang diri, karena Ayu tak mau ikut, dia memilih berdiam diri di rumah.


Capek menunggu akhirnya Bu Ningsih melihat Pak alek, keluar dari dalam kantor, berjalan bergandengan tangan dengan cewek cantik yang bergelayut manja di lengan Pak Alek.


Terlihat dengan jelas, wajah Pak Alek sangat berseri seri dan senyum tak luntur dari bibirnya karena di gandeng mesra oleh gadis cantik itu.


Membuat hati Bu Ningsih meradang kesal, melihat kemesraan mereka.


"Sialan laki laki bangkotan, dia malah enak enakan, bermesraan dengan gadis gatel itu, gue menderita kayak gini!!" gedumel Bu Ningsih menatap nyalang Pak Alek dan gadis cantik tersebut.


Pak Alek keluar dari kantor menuju parkiran, dan membuka pintu depan mobil bagian penumpang dan mempersilahkan gadis cantik tersebut masuk, dan kembali menutup pintu tersebut, Pak Alek mengitari mobil tersebut dan masuk di bagian kemudi, dan melajukan mobil keluar dari parkiran pergi entah mau pergi kemana.


Itu tak luput dari pandangan Bu Ningsih, dia buru buru mencari taxi untuk mengikuti mobil tersebut,


"Ikuti mobil di depan Pak?!" uca Bu Ningsih.


" Baik Bu...?!" jawab sang sopir.


Mobil Pak Alek pergi menjauh menyusuri jalan kota itu.

__ADS_1


"Kita mau makan siang di mana sayang?!" ucap Pak Alek sambil membelai rambut Aira.


Iya gadis yang bergelayut manja di lengan Pak Alek adalah Aira.


"Tadi abang bilang makan di restoran di dekat kantor abang aja Yah?!"


"Baiklah kalau gitu?!" Pak Alek melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju arah kantor Wiliam.


Di belakang mobil mereka di ikuti oleh mobil lainnya, Aira menyadari itu, tapi dia tak ambil pusing dan tidak mau membuat ayahnya khawatir.


"Kapan kalian akan pulang ke kota J?!" tanya Pak Alek.


Pak Alek terkekeh melihat anak gadisnya yang sedang merajuk itu.


"Mana ada seperti itu, Ayah malah lebih senang kamu di sini?!" membelai kepala Aira penuh kasih sayang.


"Maafin Ayah ya nak, sudah mengabaikan kamu?!" ucap Pak Alek sendu.


"Ihh... Ayah ngapain di ingat lagi sih, udah lupain aja Yah..? aku sudah bahagia sekarang, aku sudah dapatin kasih sayang dari Ayah, abang Bima, suamiku, dan mertua yah, jangan di ingat ingat lagi yang lalu, biarlah itu menjadi kenangan dan pelajaran buat kita?!" ucap Aira dengan lembut.


Aira tau itu bukan sepenuhnya salah sang Ayah, itu ikut andil dari sikap Ibu dan kaka tirinya, yang tidak menyukai Aira, dan menuntut sang Ayah agar bekerja lebih keras lagi agar sang Ibu dan Kakak tirinya bisa berfoya foya.

__ADS_1


Dan karena cinta buta sang Ayah mengikuti aja setiap kemauan sang Ibu, dan begitu saja mempercai fitnah yang Ibu dan Kakak tirinya buat.


Aira tak membenci sang Ayah, Ibu dan Kakak tirinya, Aira hanya menjalankan takdir yang tuhan berikan kepadanya, dan menjalankan dengan ikhlas.


Mobil yang di kendarai Pak Alek terus melaju, dan memasuki sebuah parkiran restoran yang cukup elit di kita itu.


Pak Alek keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Aira, dia memperlakukan Aira benar benar seperti tuan putri.


Dan tak menyadari seseorang yang sedang menahan amarah melihat kemesraan meraka itu.


"Sialan kau bandot tua, kau jual rumah untuk bersenang senang dengan ****** mu itu, awas saja kau, habis kau sama aku Lek!!"


"Sialan aku di sini menderita tak punya apa apa, dia malah enak enakan bersama ja*angnya awas kau ****** tunggu pembalasan ku!!" gerutu Bu Ningsih di luar sana. kerena tak bisa masuk, berhubung uangnya tak cukup untuk memesan makanan di restoran tersebut.


Dan dia tak menyadari kalau yang sedang di gandeng Pak Alek Adalah Aira, anak yang tak pernah dia akui.


Bersambung....


****Haiiii... jangan lupa like komen dan vote.


Maaf ya aku ngak sempat membalas pesan kalian satu persatu******

__ADS_1


__ADS_2