
"Gimana ini Bu.... mau tinggal dimana kita Aaagghhh... ini gara gara Ayah yang tak bertanggung jawab itu!!" kesal Ayu frustasi.
"Ibu juga bingung....!!" Bu Ningsih.
"Kenapa sih Ibu mau maunya jadi simpanan Ayah yang tak bertanggung jawab itu, lihat hidup kita sekarang, apa mau jadi gembel?!" sungut Ayu.
"Tutup mulut kamu Yu... ngak usah nyalah nyalahin Ayahmu, itu semua juga salah kamu dan laki laki tolol itu, ngapain coba rumah di jual segala!!" kesal Bu Ningsih, menyalahkan Ayu dan Pak Alek.
"Loh... kenapa aku yang salah sih... Bu?"
"Coba kamu pikir pakai otak cantik mu itu, seandainya kamu tidak terluka dan kehilangan darah, pasti ini semua ngak akan terjadi, kita masih aman dan masih bisa tinggal dengan nyaman di rumah itu, nah sekarang kita mau tinggal di mana coba, akibat keteledoran kamu itu!" kesal Bu Ningsih.
"Sudah lah... Bu, jangan nyalahin aku terus, salahin aja cinta Ibu yang salah itu, sudah ada orang yang setia, malah pake selingkuh, apa selingkuhan Ibu bertanggung jawab hah... saat kita sulit kayak gini dia dimana, orang yang selalu Ibu cintai sampai mati itu dimanaa...!" teriak Ayu frustasi.
"Apakah laki laki bangsat itu ngasih makan kita ngak kan, apa dia bisa menyayangi aku seperti laki laki yang ibu sebut tolol itu, ngak kan, sekarang gimana kita di jalanan apa laki laki yang ibu cintai itu ada hah...!!"
Bu Ningsih hanya bisa terdiam, mendengar ocehan Ayu yang ada benarnya juga.
Selama ini, yang membesarin Ayu adalah Pak Alek, tanpa ada campur tangan dari Pak Roy, yang mengaku ngaku sebagai Ayah biologis Ayu itu, dia hanya mentingin hidupnya sendiri, kebahagiaannya sendiri tanpa perduli sama kedua wanita yang katanya cinta matinya dan yang katanya anak kandung kesayangan, namun mana di saat sekarang mereka butuh tempat bersandar dia juga ikut menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
"Maafkan" Ibu Yu!?" ucap Bu Ningsih lemah.
"Sudahlah Bu... ngak usah mikirin yang sudah lewat, semakin pusing kita, sekarang kita harus mikirin hidup kita kedepannya Bu?!" ucap Ayu merasa bersalah sama sang Ibu.
"Iya" ucap Bu Ningsih berkaca kaca.
"Ya udah kita cari kontrakan yang bisa kita tempati sesuai dengan isi kantong kita aja Bu?!"
"Iya baik lah..."
Baru saja mereka mau melangkah, sudah di hadang sama teman teman sosialitanya.
"Katanya ke kota J ya, ke pesta pernikahan Aira, Aira dapat konglomerat ya bu?"
"Eh... tapi, aku dengar dari orang yang ikut sama kalian, Ayu berusaha membunuh Aira ya, kenapa? syirik ya sama Aira dapat suami kaya raya dan genteng lagi.
"Ayu katanya bukan Anak Pak Alek ya Bu? katanya Ayu Anak Pak Roy, mantan kamu yang nikah sama orang kaya juga!!"
"Kamu di cerai ya sama Pak Alek!"
__ADS_1
"Sekarang kamu mau tinggal dimana Bu... rumahnya kan sudah di jual sama Pak Alek, kamu jadi miskin dong sekarang!"
"Ayu anak haram ya Bu!"
"Kok kamu bisa sih, selingkuhin Pak Alek yang baik banget itu, padahal Ayu di sayang banget sama Pak Alek, Aira saja ngak pernah di sayang sama Pak Alek.
"Pantes ya kamu ngak sayang sama Aira, ini toh masalah!"
"Sekarang mana kekasih mu Jeng, saat susah gini kamu di aku ngak? kan sudah ketemu sama Ayah kandung Ayu, kok balik lagi ke sini?, apa jangan jangan di buang juga sama dia?!"
Banyak kata kata menohok yang di lontarkan oleh teman teman sosialita Bu Ningsih, tak satupun yang mampu di jawab oleh Bu Ningsih.
"Sudah Bu... ngak usah dengarin, yuk... kita pergi?!" ucap Ayu yang kasihan melihat wajah sang ibu sudah berubah.
"Heh... Yu, kamu kok tumben ngak jawab, biasanya mulut kamu berkoar koar kek bebek!"
"Mana bisa lagi berkoar koar, taringnya sudah copot hahahha...."
Teman teman Bu Ningsih tertawa puas melihat dua manusia, yang dulunya sok kaya, sok cantik, sok terpandang, yang suka menghina orang itu, kini hinaan yang sering mereka lontarkan berbalik ke mereka.
__ADS_1
Bersambung....