Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
10 terbaring sakit


__ADS_3

"Jadi benar ya gosip itu,lo pacaran sama Dia,lo munafik Cha bukanya loe sukanya sama Abang ya, trus ini apa jalan sama Iqbal dasar so cantik lo cha." Cercanya mendorong tubuh Icha,namun di tahan oleh Iqbal sehingga Dia tidak terjatuh.


"Dari dulu lo selalu tebar pesona kepada setiap laki-laki ,Dan asal lo tau gw pernah tidur sama dia." sambil menunjuk Iqbal,Iqbal pun mengelengkan kepala.


"Apa?"


Bukan Icha atau pun Iqbal yang menjawab tapi seseorang yang berjalan menghampiri mereka,laki-laki itu langsung melotot ke arah Amanda.


Manda menelan silvanya dia kaget, karna Desta mendengar perkataannya.


"Sayang, aku bisa jelasin." ucap Amanda sedikit takut.


Lantas dia meraih tangan Desta namun lelaki itu segera menepisnya kasar.


"Gue semakin yakin, kalo anak yang loe kandung bukan darah daging gue lo sengaja kan jebak gue waktu gue mabuk," teriak nya


"Jawab gue sialaan." Desta murka dia mencengkram tangan Amanda kuat membuat sang empu meringis.


Sedangkan Icha hanya menyimak pertengkaran itu dan air mata nya tumpah tak bisa di tahan.


Icha tak menyangka ternyata pria yang selama dua tahun ini di cintai nya tega menghianatinya.


"Sayang ini anak kamu, aku gak bohong sayang kamu harus percaya sama aku." Amanda terus memelas, namun Desta pergi begitu saja tanpa menoleh.


Sedangkan Icha tampak menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala tak menyangka dengan apa yang terjadi pria yang selama ini di cintainya ternyata menghianatinya.


Icha menyaksikan semua itu pertengkaran di depan matanya dia pun terus menangis gemetar.


Iqbal pun membawa Icha ke dalam pelukan nya dia juga tak menyangka kalo pria itu pacar nya Icha.


Sedangkan Amanda tampak kesal di tinggal begitu saja, dia terus saja meminta maaf.


Baru saja Desta akan membuka mobil, dia baru tersadar kalo wanita yang berada dalam pelukan laki-laki itu adalah Icha kekasihnya wanita yang hampir 2 taun ini bersamanya.


Degg


"Icha." gumannya.


Sedangkan Icha tak menghiraukan dia masuk ke dalam mobil Iqbal meninggalkan mereka.


Desta pun berlari mengejar Icha yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Iqbal.


"Cha, berenti cha aku bisa jelasin." teriaknya memanggil-manggil Icha yang sudah pergi, tak menghiraukan teriakan Desta yang terus memanggil namanya.


Desta pun menangis sambil berlutut di pinggir jalan menyaksikan Icha yang pergi meninggalkannya.


Sedangkan Amanda nampak tersenyum puas melihat Icha terpuruk, memang ini adalah rencana nya agar Icha dan Desta putus.


"Maafin gue cha, gue gak maksud buat sakitin kamu," ucapnya terisak sambil terus menjambak rambutnya.


"Sayang kamu kenapa sih? ko malah ngejar cewek gatel itu dia tuh cewek gak bener kenapa kamu bisa kenal sama dia?" tanya Amanda sambil mengelus pundak nya.


Namun Desta segera menepis kasar tangan itu dia langsung berdiri dan menjambak rambut Amanda.


"Ini semua salah lo, semua terjadi karna lo jebak gue dasar wanita murahan dan jangan sekali-kali lo sebut nama Icha dengan mulut kotor lo, apalagi rendahin dia karna dia jauh lebih segalanya dari lo dasar sialan." teriak Desta murka sambil mengusap air matanya.


"Kenapa lo salahin gue, apa jangan-jangan lo ada hubungan dengan nya." tukas Amanda tak kalah emosi.


"Dia tunangan gue paham lo dan sampai kapan pun dia hanya milik gue." ujar Desta menekan kan.


Lantas dia pun melangkah pergi meninggalkan Amanda yang masih tersulut emosi.


"Desta tunggu, Desta gue istri lo bukan dia." teriaknya.


"kita cuma nikah siri,dan gue cerein lo sekarang juga." ucapnya lantang dan bergegas naik mobil.

__ADS_1


"Brengsek lo Desta,awas aja tunggu pembalasan gue." teriaknya dan terus memanggil Desta yang telah pergi menaiki mobilnya.


"Desta tunggu sialan." dia tidak terima di tinggalkan begitu saja.


Disisi lain Icha sudah sedikit tenang, namun Icha masih diam saja, dan Iqbal pun memberikan icha waktu untuk berpikir.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Bude yati,mobil pun berhenti namun Icha masih nyaman dalam lamunan nya.


"Cha kita udah sampai." ucapnya.


hening...


"Cha,hey kamu dengerin aku gak?" sambil menggoyangkan bahu Icha membuat Icha tersadar.


"Eh iya,maaf aku gak denger dah sampe ya." jawabnya lemas.


"Ayo aku anterin kamu kedalam." serunya dan di angguki oleh Icha.


Mereka pun masuk dan di sambut Febri di ruang tamu.


"kalian udah pulang?" tanya nya.


"Iya mas, Icha langsung masuk ya." jawabnya


"Iqbal makasih ya udah ajak aku keluar, aku masuk dulu." ujar nya melirik IQbal sambil tersenyum,Iqbal pun mengganggukan kepalanya.


Icha pun langsung berlari menaiki tangha menuju kamarnya,Febri yang melihat itu geleng-geleng kepala, sedang kan Iqbal tampak sendu.


"Icha kenapa? gak biasanya dia kaya gitu."


Namun Iqbal hanya mengangkat kedua bahu nya acuh.


"Gue langsung cabut ya Mas."


"Iya.. hati-hati di jalan." ucap Febri dan dianggukinya.


Di sisi lain Icha langsung mengunci pintu kamarnya,dia terduduk di balik pintu dan memeluk lututnya sambil bergetar menahan tangis.


Ponselnya yang dari tadi berdering terus dia abaikan, sampai akhirnya dia pun mematikan nya.


*Tuhan apakah aku terlalu banyak dosa sehingga ujian terus datang bertubi-tubi*batin nya.


Dia pun terus menangis sampai akhirnya dia tertidur.


Suara ketukan pintu membangunkannya, Icha pun mengerjam dan melihat kanan kirinya ternyata dia baru sadar klo dia tertidur sambil duduk di depan pintu.


"Jam berapa ini." gumannya sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul 06 pagi.


Dengan sempoyongan dia pun berdiri dan memegangi kepalanya yang sedikit berat.


dia pun membuka pintu kamar, tampak Bude yang sudah berdiri di sana.


"Sayang kamu baru bangun?" tanya Bude.


"Iyaa Bude,maaf Icha kesiangan." Jawabnya sambil tersenyum.


"Ya udah mandi sana, Bude tunggu di bawah ya kita sarapan ya." ucap Bude mengelus kepala Icha.


"Iya nanti Iha turun." Jawabnya masih menunduk menahan pusing kepalanya.


Namun baru saja Icha mau menutup pintu dia malah terjatuh dan tak sadarkan diri, gelap itu yang Icha rasakan.


Bude pun langsung panik melihat keponakan nya pingsan, dia pun segera berlari memghampiri Icha yang tergeletak di lantai.


"Sayang, bangun kamu kenapa nak?" Seru Bude panik.

__ADS_1


"Mas sini, mas tolongin mama," teriak nya memanggil Febri yang masih di kamarnya.


Febri yang mendengar teriakan Ibunya pun langsung menghampirinya,dia pun sama panik nya dengan sang mama dan langsung mengangkat Icha ke atas kasur.


"Panggil Dokter Sam sekarang, suruh dia kesini cepetan Mas,bandannya panas banget Icha demam." seru Bude masih panik.


"Iya ma aku telpon dulu Dokter Sam sekarang." Febri pun langsung menelpon Dokter pribadi nya itu.


Dan tak lama Dokter pun datang,Dokter pun langsung masuk ke kamar Icha dan langsung memeriksanya.


"Gimana dok, Icha sakit apa?" tanya Bude penasaran.


"Dia cuma kecapean dan kaya nya lagi banyak pikiran sebentar lagi dia sadar dan ini resep obatnya, biarkan dia istirahat." Jawab Dokter tampan itu.


Dokter Sam Aripin atau sering di sebut dokter Sam itu adalah teman kuliah Febri dulu sekaligus menjadi dokter pribadinya Bude yati, 30 tahun umur nya yang masih tergolong muda dia sudah menjadi dokter yang hebat .


"Saya langsung pamit ya tante." Ucapnya pamit undur diri, dan di angguki bude.


Mereka pun keluar kamar menyisakan Bude dan juga Icha yang masih belum sadarkan diri.


"Bro gw langsung pulang ya semoga sepupu lo cepet sembuh," serunya sambil menepuk pundak Febri.


"Makasih bro, sorry ganggu istirahat lo." ucapnya sungguh-sungguh.


"Ga papa nyantai aja,semoga Icha cepet sembuh ya." ucapnya sambil tersenyum.


Setelah beberapa saat akhirnya, Icha pun mulai tersadar.


"Sayang mana yang sakit, kamu bikin Bude panik nak."


"Aku ga papa Bude, cuma butuh istirahat mungkin aku terlalu pokus dengan pelajaran jadi kaya gini deh." jawabnya sambil tersenyum.


Bude pun melepaskan kerudung Icha, dan segera menyuapi bubur yang sudah s Mbok buat.


"Makan yang banyak, trus minum obat ya biar cepet sehat lagi." seru Bude sambil mengelus-ngelus rambut Icha.


"Iya Bude, makasih banyak ya. "


" Kamu itu anak Bude, udah kewajiban Bude jagain kamu, Hari ini Bude mau ke rumah Nadia sama Mas mu,kamu gak papa kan Bude tinggal,ada s Mbok yang jagain kamu."


"Engga papa ko, kalian berangkat aja, Icha pengen istirahat gak perlu di pikirin nanti juga sembuh,maaf Icha gak bisa ikut Bude." Jawabnya sendu.


Seharusnya hari ini dia ada pertemuan keluarga di rumah calon kaka ipar nya membahas pesta pernikahan Febri dan Nadia, namun Icha malah demam ,jadi terpaksa hanya Bude dan febri yang kesana karna Pakde sudah lama meninggal tepatnya satu tahun yang lalu kerena penyakit jantung.


Setelah minum obat Icha pun memejamkan lagi matanya, Bude pun keluar kamar dan siap-siap pergi.


Baru saja mereka akan berangkat tiba-tiba saja Desta datang.


"Pagi Bude, Mas,Icha nya ada?" tanyanya sambil menyalami Bude.


"Eh Desta,ayo masuk nak Icha ada di dalam kamu masuk aja,di lagi gak enak badan,tapi maaf Bude dan Febri ada keperluan gak bisa nemenin." Ucap Bude merasa bersalah.


"G papa Bude lagian ada mbok kan di rumah? " tanya Desta.


"Ya sudah kami berangkt sekarang,Bude titip Icha ya." ucapnya dan langsung diangguki Desta.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah,Desta pun melangkah menaiki tangga di temani Mbok dan sampai lah dia di depan kamar Icha, dia pun mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.


"Mungkin mba Icha nya lagi istrahat Den. " Seru s mbok.


"Ga papa bi aku mau jagain Icha, takutnya butuh sesuatu. " Seru Desta membuka pintu kamar.


Mbok pun meninggalkan mereka, membiarkan pintu kamar terbuka.


"Cha .." Panggilnya pelan,melihat Icha berbaring lemas dengan jarum inpus menancap di tangannya ,hatinya merasa sakit melihat kondisi Icha yang seperti itu terlihat sangat pucat.

__ADS_1


Diapun mengelus rambut panjang Icha, sambil terus meminta maaf.


__ADS_2