
Keesokan hari nya Revan pagi-pagi sudah bangun karna mendengar ponsel nya berdering tertera nama Mama Dini di sana.
[Hallo Ma ada apa pagi-pagi telpon aku? ]
[Revan Mama sama Oma sudah kembali dari Singapura, kamu kapan pulang Oma terus menanyakan kamu dan istrimu dari semalam]
[Gak tahu Mah, nanti aku tanya Kaila dulu]
[Ya sudah nanti kabarin lagi yah, Mama tunggu secepat nya]
[Iya Mah]
[Papa juga kata nya ada yang mau di bicara kan sama kamu, kamu bujuk Kaila ya agar mau Kuliah di sini biar adik kamu ada teman nya]
[Iya Mah tapi aku gak janji ,kalo Kaila gak mau Kuliah di sana Mama jangan marahin Kaila ya]
[Ya Enggak lah sayang, Mama juga gak bakalan maksa kalo dia nya gak mau]
[Ya udah kalo gitu nanti aku telpon lagi Ma]
Telpon pun terputus, Revan meletakan nya di atas nakas dan melirik jam 4.30 pagi, dia melihat sebelah nya sudah kosong, seperti nya Kaila sedang di kamar mandi.
Ceklek.
Kaila pun membuka pintu kamar mandi sudah segar mungkin dia baru selesai mandi, seperti biasa mereka akan sholat berjamaah.
"Tumben, baru mau aku bangunin," ucap melihat Revan sudah terbangun dan duduk mneyandar ke ranjang
Kaila pun lantas mengambil mukena meja dekat sofa.
"Iya tadi Mama Dini telpon suruh pulang katanya," ujar Revan berlari masuk ke dalam kamar mandi karna sudah kebelet.
"Maksud nya gimana sih?" tanya Kaila namun Revan sudah tidak ada.
"Mas, loh kok gak jawab sih kalo ngomong tuh yang jelas," ujar nya bingung.
"Apa terjadi sesuatu yah sama keluarga nya Mas Revan, ko dadakan benget nguruh pulang nya,"batin Kaila.
lima belas menit kemudian Revan sudah segar dan memakai baju yang rapi untuk berjamaah bareng Kaila.
__ADS_1
"Mas..!!"
"Hmmm," jawab Revan.
"Mas tadi ngomong apa sih aku gak jelas denger nya?" tanya kaila sambil memberikan sejadah kepadanya.
"Mama Dini nyuruh pulang," jawab nya.
"Terus Mas mau pulang ke Jakarta gitu, kalo Mas pulang aku tinggal sama Bunda berarti," ujar nya tersenyum senang.
"Ya pulang sama kamu lah sayang, kamu kan istri aku masa aku ke Jakarta kamu di tinggal," jawab nya tersenyum gemas sekali melihat istri nya itu.
"Yah aku kira cuma Mas aja yang pulang gitu, maka nya aku nanya dulu takut salah," jawab nya.
Revan pun hanya tersenyum dan mereka pun menjalan kan ibadah dengan khusu.
"Nanti siang kita pulang ya langsung ke Jakarta aja, nanti kita izin sama Ayah, Bunda," ujar nya.
"Ya udah nanti aku ngomong deh sama Ayah sama Bunda tapi kita gak lama kan di sana aku kan harus cepat daftar kuliah," ujar nya dan Revan pun mengangguk.
Jam 7 pagi mereka turun dan ikut sarapan dengan yang lain di sana terlihat Bunda Icha dan juga Ayah Zaenal, Oma Yati, juga Om Febri dan tante Nadia.
"Tumben Mas Faisal gak ikutan sarapan apa masih marah ya," batin Kaila.
"Pagi juga sayang, pagi Revan," sapa Bunda Icha.
"Pagi juga anak-anak," jawab Febri dan Nadia tersenyum menyambut mereka.
"Ayo duduk nak jangan sungkan," ucap Oma Yati menyuruh Revan duduk di sebelah Kaila.
Kaila pun menambil kan nasi kuning dan ayam goreng lengkuas kedalam piring suami nya, dia tahu suami nya tak suka soto seperti yang lain karna Revan tidak suka makanan bersantan.
Revan memperhatikan yang lain, hanya dia saja dan Kaila yang makan nasi kuning itu.
"Ayo makan Mas," bisik nya dan Revan pun mengangguk.
"Dari mana dia tahu kalo aku gak suka makanan bersantan, padahal aku gak pernah bilang apa apa sama Kaila," batinnya.
Setelah selesai sarapan Kaila menghampiri Bunda nya yang sedang menyiram tanaman di belakang rumah bersama tante Nadia, sedangkan Revan keluar bersama Ayah nya dan Om Febri.
__ADS_1
"Bunda,"
"Sini sayang," ujar Icha menyuruh Kaila duduk di kursi kayu didekat nya.
"Bunda aku mau cerita," ungkap nya.
"Cerita apa," tanya Icha masih serius dengan tanaman nya sedangkan Nadia nampak nya ke depan karna di pangil oleh Oma Yati.
"Bunda liat aku dong kok malah ngurusin itu terus," protes nya mengembungkan pipi nya.
Icha pun mencuci tangan nya dengan air kran dan ikut duduk di sebelah Kaila."Iya ada apa sayang?" tanya Icha.
"Mas Revan mau ke Jakarta, katanya di suruh pulang sama Mama Dini," ucap nya.
"Cie cie.. udah panggil Mas ya sekarang, Bunda tahu kamu pasti udah mulai suka kan sama dia ayo ngaku," canda Bunda Icha membuat pipi Kaila memerah.
Kaila pun memalingkan wajah nya malu di tatap Bunda nya seperti itu."Aku serius ihh Bunda," ucap nya pura -pura merajuk.
"Iya Bunda tahu kok, semalam Dini telpon Bunda dia meminta kamu sama Revan tinggal di sana," jujur saja Icha awal nya keberatan namun apa boleh buat istri harus ikut suami nya kemana pun itu.
"Terus Bunda izinin aku ikut sama Mas Revan?" tanya Kaila mengerut kan kening nya.
"Ya mau gimana lagi kamu kan harus nurut sama suami kamu, kasian Papa Adam dia gak ada yang bantuin di perusahaan,"
"Tapi Bun aku takut kalo harus jauh dari Bunda," ujar nya.
"Sayang dengerin Bunda, di sana ada suami kamu ada mertua kamu juga kenapa harus takut, kasian tahu suami kamu kalo tinggal di sini harus kerja di perusahaan milik orang lain, sedangkan dulu dia CEO,"
"Tapi Mas Revan gak keberatan kok kerja di perusahaan Om Arif," jawab nya.
"Dia bertahan demi kamu sayang, bagai mana bisa dia bekerja panas- panasan di sini, kamu gak kasian sama dia?"
Kaila pun nampak diam, selama dua minggu ini memang Revan terlihat lelah apalagi kemarin pas pulang dari luar kota.
"Kai gak semua yang kita inginkan itu harus jadi kenyataan, kita juga harus belajar mengalah demi orang lain,"
"Terus aku harus gimana Bun?" tanya Kaila bingung.
"Kamu turutin aja kemauan Revan, biarkan dia bekerja di perusahaan Papa nya lagian hanya Revan penerus keluarga, Mama Dini gak punya saudara dan perusahaan Madam Sarla hanya mempunyai Revan sebagai pewaris karna adik nya perempuan." ujar Bunda Icha memberi wejengan.
__ADS_1
Kaila pun mampak memikirkan langkah apa yang akan di ambil nya, dia akan bicara dulu kepada Revan dan terserah Revan saja bagai mana baik nya.
Sebagai istri Kaila memang gak boleh egois, dia juga gak harus maksain keinginan nya untuk kuliah di Bandung, karna di Jakarta pun banyak Kampus yang mungkin Kaila suka.