
Satu minggu pun berlalu Kaila akhirnya. selesai melewati ujian nasional di sekolah nya, teman-teman nya mengajak nya ke puncak untuk merayakan keberhasilan mereka.
"Jadi loe gak ikut Kai?" tanya Desi, dan Kaila hanya menggelengkan kepala.
"Yah gak seru dong kalo loe gak ikut, kita ke Vila nya Miranda loh," tambah nya namun Kaila hanya mangankat bahu.
Sungguh dia sangat malas sekali apalagi ke Vila itu, Miranda adalah salah satu siswa terkaya di sekolah itu dan sifat nya pun lumayan sedikit sombong.
"Ya udah nanti kalo loe berubah pikiran hubungi gue yah," ujar nya.
Dan Desi pun lantas pamit pulang dari rumah Kaila, setelah kepergian Desi dia nampak diam di depan jendela kamar nya.
Sudah satu minggu ini Revan benar-benar tak pernah lagi menghubungi nya, Kaila tak peduli akan hal itu dia hanya memikirkan bagai mana menepati janji kepada orang tua nya.
"Apa gue jujur aja yah kalo gue udah putus sama kak Andra," gumannya dia mondar mandir sambil menggigit kuku nya.
Namun Kaila juga tidak mau kalo harus bertunangan secepat ini, tapi apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Argg.. sial," umpat nya, dia pun guling-guling di kasur sambil menutup tubuh nya dengan bantal. sambil terus mengumpat.
Terdengar ketukan dari luar, Kaila pun bangkit setelah mendengar pintu kamar terbuka.
"Loh kamu lagi apa sayang?" tanya Icha langsung duduk di kasur, tersenyum melihat penampilan Kaila yang berantakan.
"Bunda.. ada yang ingin aku bicara kan,"
"Mau bicara apa hmm, apa pacar kamu udah siap di ajak ke sini, bunda sama ayah nagih janji kamu loh,"
"Bunda.. huaa..," ujar nya mendrama, Icha hanya menggelengkan kepala melihat nya."Kamu kenapa sih sayang kok malah nangis?"
Kaila memeluk tubuh bunda nya dengan erat, dia pun menceritakan semua nya kepada Icha tentang hubungan nya bersama Andra yang sudah putus dan minta jalan keluar nya.
__ADS_1
"Bunda gak bisa bantu sayang, kamu bilang sendiri ke ayah ya," ujar nya.Namun Icha sangat senang sekali dalam hati nya karna perjodohan itu akan tetap di gelar.
Sebenarnya Icha sudah tahu dari lama kalo Andra yang Kaila maksud adalah sepupu Revan, dia juga tahu kalo Mas Arif ayah nya Andra sudah menjodohkan Andra dengan wanita lain.
Malam hari nya Kaila nampak tak bersemangat turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarga nya.
"Ehh ko rame ya, apa ada tamu?" gumannya sambil terus turun ke bawah dengan hanya memakai kaos polos dan celana trening.
Benar saja Kaila bertemu dengan adik nya dan menanyakan siapa yang datang.
"Ada tamu yah dek kok rame ya," ujar nya melihat Aldian baru keluar dari dapur membawa satu gelas air untuk dirinya.
"Itu kak ada keluarga nya kak Revan emang kakak gak di kasih tahu ya kalo mereka mau kesini," jawab Aldian.
Kaila pun melongo mendengar nya."Hah ngapain mereka ke sini, jangan bilang mau nerusin perjodohan konyol itu?" namun Aldian hanya mengangkat bahu nya dan meninggalkan Kaila.
"Shitt sial, gue harus gimana? apa gue kabur aja yah," gumannya sambil terus melangkah menuju kamar nya.
Ceklek
"Kamu dari hmm?" tanya seorang wanita cantik duduk di sofa kamar nya.
Kaila pun nampak kaget."Astagfiruh tante Mita ngapain di sini?" tanya Kaila heran melihat tante nya ada di sana dan tersenyum manis.
"Sini duduk kaya nya kamu kaget banget liat tante emang tante kaya hantu apa?" ujar nya terkekeh.
Kaila hanya menggaruk kepala nya yang tak gatal, lantas duduk di meja rias memperhatikan Mita mengambil sesuatu di atas meja.
Kaila melongo meliat sebuah kebaya cantik yang haru di pakai nya malam ini."Yang benar aja tan emang mau ada acara apaan sih harus pake ginian segala?" tanya Kaila penasaran, dia tak bisa berpikir jernih malam ini hatinya terus bertanya tanya.
"Udah kamu pake aja nanti tante jelasin setelah ini," Kaila pun akhirnya pasrah dia memakai baju itu.
__ADS_1
"Tuh kan pasti kamu cantik pake baju ini," ujar Mita menatara rambut nya agar terlihat rapi dan meletakan jepit rambut di sebelah kanan kepala Kaila.
"Tan ngapain pake ini sih geli tahu liat nya, aku gak mau yah pake ini," ujar nya ingin melepaskan jepitan itu namun Mita membujuk nya agar tidak melepaskan nya sebelum acara selesai.
Kaila hanya bisa mengerucutkan bibir nya yang berwarna pink, Mita sengaja memoles titip wajah keponakan nya agar tampil cantik malam ini.
Di ruang tamu nampak Revan menyeka keringat nya yang ada di dahi, sungguh dia sangat gugup sekali malam ini apalagi harus berhadapan dengan ayah nya Kaila yaitu Zaenal.
"Apa kamu siap?" tanya pria paruh baya yang menjabat tangan nya,Revan pun mengangguk.
"Oke ikuti saya, dan hafal baik-baik nama calon istri kamu," ucap pak penghulu.
Ya sedari Revan akan melakukan ijab kabul malam ini, karna keinginan nenek nya sudah lama sakit, beliau ingin melihat Revan menikah sebelum ajal menjemput nya.
Revan pun mendengarkan kata-kata yang terucap dari pak penghulu dan segera mengikutinya.
"Saya terima nikah dan kawin nya Kaila Anastasya binti Zaenal abdi brata dengan mas kawin satu set perhiasan emas di bawar tunai," ucap nya lantang.
"Bagaimana saksi sah?
"Sahh...," jawab mereka serempak.
Mita pun mengajak Kaila turun dari kamar."Udah yuk turun," ajak Mita, sedangkan Kaila nampak mematung di depan kaca melihat tampilan nya.
"Apa benar ini gue kok rasanya gue kaya ngerasa beda banget,tapi kenapa gue harus pake baju kaya gini apa tante Mita ngajak gue kondangan." batinnya.
Malam ini Kaila benar-benar lemot dalam berpikir, dia tidak tahu saja kalo orang tua nya sudah merencanakan sesuatu terhadap nya.
Mita pun gemas dan mencubit pelan pipi Kaila."Ayo kok malah bengong," ujar nya. Kaila pun hanya tersenyum dan mengangukan kepala nya.
Mereka pun segera turun dan bergabung di ruang tamu, Kaila sedari tadi hanya menunduk rasanya malu sekali berpenampilan seperti ini pikirnya.
__ADS_1
Kaila pun memberanikan diri mengangkat wajah nya di sana sudah ada banyak orang terlihat kakeh Harun dan nenek Yani, Kakek Edi dan Oma Cici, ada juga keluarga Satria dan keluarga Desi, ada juga kelurga Irma dan apa ini sejak kapan ruang tamu nya di sulap menjadi tempat seperti ini pikir nya.
Apalagi saat melihat Revan duduk di sebelah ayah sedang menandatangani kartas yang Kaila tak tahu itu apa.