
Acara syukuran dan pengajian pun selesai semua berjalan lancar kini seperti biasa mereka akan berkumpul di kamar keponakannya.
Icha, ifa dan kedua keponakannya berada di sana mereka bercerita.
"Kalian kapan main lagi ke rumah?" tanya Icha.
"Nanti lah kapan-kapan, kita sibuk sekolah dan ikut les juga," jawab Naura.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat mereka kaget dan langsung menoleh, sedangkan Naura memeluk Ifa dengan erat.
"Teteh ihh,, ngagetin aja," ucap Icha memegang dadanya.
"Lagi ngapain?" tanya Irma bergabung di sana.
"Biasalah ngerumpi sama ibu-ibu komplek," jawab Icha terkekeh.
"Apaan ih teh Icha, sini Teh Irma duduk dekat Ifa," ujarnya , Irma pun duduk bersama Ifa di atas kasur sedangkan yang lain duduk di bawah.
"Apaan?" tanya Irma, Dia tahu kalo Ifa ingin bicara sesuatu padanya, karna tak seperti biasanya Dia mengajak Irma duduk bersama.
"Teteh mana de Haikal?" tanya Icha.
"Di ruang Tv sama Enin dan yang lain," ucap Irma.
"Ya udah Icha keluar ahh cari Dede haikal dulu," ucap Icha dan para keponakan nya pun ikut keluar.
"Ada apa sih? ko pada keluar semua?" tanya Irma.
"Gak papa biarin aja mereka pergi, Ifa cuma mau ngobrol sama teh Irma," ucap Ifa serius.
"Mau ngomong apa kaya nya serius banget?" tanya Irma.
"Mau tanya masalah A Heru," jawabnya, Ifa agak hati-hati menyebut nama itu, Dia tidak mau sampai Irma marah ketika membahas mantannya.
"Masalah apa lagi, apa jangan-jangan kamu suka lagi sama A Heru dan gak enak sama Teteh?" selidik Irma, Dia tahu kalo Ifa bekerja sebagai model di Lebel milik Heru namun Dia tidak tahu kalo Ifa punya pacar.
"Bukan ihh siapa juga yang suka sama A Heru, gak jelas banget," jawabnya.
Irma pun terkekeh."Terus apa dong, kamu tuh pengen banget tau semua tentang A Heru, apa coba kalo bukan suka?"
__ADS_1
"Kan aku udah bilang waktu itu, aku hanya ingin buktiin kalo A Heru itu benar-benar ka Reno," ujar Ifa.
"Oke.. oke.. kamu mau tanya apa ke teteh?" tanya Irma.
"Apa teteh pernah ke rumahnya A Heru?"
Ini harapan terakhir Ifa mencari bukti, karna selama Dia dekat dengan Heru, Dia tidak bisa berharap banyak, apalagi Rey yang suka cemburu dengan kedekatan mereka.
"Teteh cuma dua kali ke sana, Itu pun terpaksa keluarga mereka sangan sombong dan arogant, apalagi adik perempuannya yang manja kalo gak salah sepantaran kamu, Dia tuh jutek banget sama Teteh makanya Teteh malas kalo di ajak ke rumah nya," ujar Irma.
Dia mengingat masa-masa pacarannya dulu bersama Heru sangat berat tanpa restu orang tua.
Bahkan orang tua Heru terang-terangan menolak Irma dan mengatakan sudah menjodohkan Heru dengan orang yang sepadan dengan mereka.
"Sebaiknya kamu sudahi saja keingin tahuan kamu, mungkin saja apa yang selama ini kamu pikirkan itu salah,"
"Tapi.., " Belum sempat Ifa meneruskan ucapannya,Tiba-tiba Icha datang.
"Teteh di panggil Mas Awan," ucap Icha.
"Iya tunggu bentar," jawabnya.
"Kalo kamu mau tahu semuanya kamu bisa tanyakan ke Mas Anwar, Dia teman dekat A Heru saat kuliah Di luar negri dan sangat dekat dengan keluarga A Heru,Dia Dosen di kampus kamu kalo gak salah cari aja Anwar setiawan, ya sudah teteh keluar dulu yah," ucap Irma.
Ifa seolah tak punya pilihan selain mundur menjadi detektip, Dia sering sekali kena marah dengan Dosen itu mana mau Dosen itu membantunya.
"Ahh sial gue harus gimana," gumannya.
.
Setelah memanggil Irma, Icha pun masuk ke dalam kamar nya karna sudah mulai malam.
"Sayang kamu dari mana?" tanya Abang yang sudah menyenderkan tubuhnya di ranjang sambil membaca buku.
"Habis dari kamar Ifa," jawabnya, Icha pun ke kamar mandi membersihkan diri mengganti baju setelah itu ikut bergabung dengan suaminya.
"Baca apa sih serius banget?" tanya Icha.
"Nih nemu di sana," jawabnya menunjuk laci di samping ranjang.
__ADS_1
"YaTuhan ko aku baru sadar ya," ujarnya melihat buku diary nya.
"Dari dulu kamu tuh gak pernah berubah ya sayang, selalu aja numpahin perasaan kamu ke buku bukan curhat ke teman atau orang terdekat kamu," ucap Abang mengelus kepala istrinya itu.
"Itu mah dulu udah lama banget, sekarang mah enggak malas aja nulis nya,"
Abang pun tersenyum dan menutup buku itu karna sudah selesai membaca dan menaruhnya di atas nakas.
"Jangan lagi pendam perasaan kamu, Aa akan selalu dengerin keluh kesah kamu apapun itu," ujarnya, Icha pun tersenyum dan masuk ke dalam pelukannya.
"Makasih sayang, maaf suka ngerepotin kamu," ucapnya.
"Apapun akan aku lakukan untuk kalian," jawabnya mengelus perut istrinya itu.
Tangannya pun meraba kemana -mana membuat Icha mendesah pelan.
"Kenapa di tahan, keluarin aja Aa suka dengarnya," ucap Abang.
Icha pun menggelengkan kepala teringat tempo hari saat Ifa tak sengaja mendengarnya.
"Gak kedap suara, takutnya ada yang dengar," bisiknya membuat Abang terkekeh.
Mereka pun melakukannya dengan pelan, dan suara Icha pun terdengar berbisik, setelah itu mereka tertidur pulas .
Pagi hari nya seperti biasa Icha masih mual dan muntah saat bangun tidur, setelah di rasa mendingan mereka langsung pamit dan pulang kerumah mereka.
"Sayang kenapa sih kan masih pagi," ucap Icha.
"Aa kasian sama kamu gak bisa istirahat di recokin terus sama ponakan kamu," ucap Abang, kini mereka sudah sampai di rumah mereka.
"Gak usah masak nanti Aa pesan, kamu mau makan apa?"
"Aku pingin cilok yang deket rumah Enin itu loh A," jawabnya.
"Oke nanti kita cari tapi makan dulu di rumah ya," ucapnya dan Icha pun mengangguk senang.
Icha pun hanya diam tanpa melakukan apa-apa, selama hamil Abang membantu nya mengerjakan pekerjaan rumah mereka bekerja sama Icha juga rajin memasak, selama mereka ada di rumah.
"Ayo makan, udah Aa siapin makannya," Dia hanya memesan lauknya saja sedangkan nasinya bikin di rumah karna selama menikah mereka selalu saja di beri beras oleh orang tuanya, alasannya biar terbiasa masak.
__ADS_1
Mereka pun makan dengan lahap di iringi canda tawa, Icha merasa bahagia karna suami nya tambah perhatian kepadanya, semoga ini selamanya pikirnya.
Selalu saja ada masalah kecil yang mengiringi rumah tangga mereka, namun Abang selalu mengalah dan bersabar dengan keadaan istrinya yang sering baperan selama kehamilan, Dia juga selalu siaga siang dan malam karna Icha sering meminta yang aneh -aneh.