
"Ada apa?"
"Itu Icha bu, Dia mengeluh sakit perut," jawabnya.
Bu Yani pun berlari ke kamar tamu melihat kondisi anaknya, di ikuti Abang dan suaminya.
"Icha.. icha kamu kenapa nak?" tanya Ibunya mengelus kepala Icha sayang.
"Perut Icha sakit bu," jawabnya sudah berkeringat dan menahan sakit.
"Bapa nyalakan mobil kita bawa Icha ke rumasakit," teriak Ibu.
Pa Harun pun segera ke garasi memanaskan mobilnya, sedangkan Abang menggendong Icha ke dalam mobil.
"Ayo cepetan kasian Icha udah mau melahirkan," ujarnya.
Mereka pun bergegas dalam waktu 30 menit mereka sampai di rumasakit, Icha langsung di tangani oleh dokter.
"Ibu mau nelpon Ifa dulu biar Dia yang antar barang-barang Icha dan bayinya," ucap Ibu dan Abang pun mengangguk.
Mereka berada di ruang tunggu.
Setelah menelpon Ifa, Ibunya kembali bergabung dengan mereka.
"Bagaimana bu apa Ifa mengangkat telpon ibu?" tanya pak Harun.
"Ifa jalan kemari dengan Pa supir, untung saja Ifa tidak terlalu pulas tidur nya dan cepat mengangkat,"
"Syukurlah.."
Abang ikut masuk ke ruang bersalin karna baru mulai pembukaan dan masih harus menunggu.
"Kamu sabar ya sayang kalo sakit pegang tangan Aa yang kenceng," Icha tersenyum melihat suaminya yang siap siaga menjaga nya juga menemaninya sampai tahap ini.
Rasa sakit kembali Dia rasakan Dia menahan tangannya agar bisa kuat.
"Sakit.. " Lirihnya.
Abang pun memencet tombol merah dan dokter pun segera datang.
Setelah di cek pembukaan ternyata cukup cepat dan sudah waktunya Icha melahirkan.
Abang dengan berat hati keluar ruangan, hanya Ada Icha, dokter dan para perawat yang ada di sana.
"Gimana?"
"Belum Bu, Icha sedang berjuang di dalam do'akan Dia supaya kuat ya Bu," ujarnya dan Bu Yani pun mengangguk dan mengelus tangan mantunya itu.
30 menit berlalu akhirnya pintu ruang rawat pun terbuka terdengar suara bayi menangis.
__ADS_1
"Bagaimana Sus keadaan istri dan anak saya?" tanya Abang.
"Alhmdulilah semua baik-baik saja, ibu dan bayi nya sehat selamat,"
"Alhamdulilah," terdengar puji syukur dari semua, begitu juga Ifa yang baru saja datang Dia bernafas lega akhirnya kakaknya itu sudah selamat.
Abang pun masuk duluan dan langsung mengadzani anak nya sedang kan orang tua Icha menghampiri Icha yang terbaring lemah.
"Selamat sayang, kamu sudah menjadi ibu semoga kamu bisa lebih sabar lagi menjaga dan merawat putri kecilmu," ucap Bu Yani.
Dia teringat saat Icha kecil dulu, Dia sangat lincah dan juga nakal bahkan sering kali di tegur para tetangga yang merasa terganggu dengan kejahilannya dan itu terjadi hingga SMA , namun setelah kuliah dan tinggal di Jogja Dia berubah menjadi dewasa dan tidak terlalu banyak bicara.
"Selamat teteh bayi nya cantik kaya aku," Canda Ifa.
"Enak aja kaya Mama nya lah, ngapain juga harus mirip kamu," jawab Abang tak mau kalah.
"Tuh kan Teh, Abang mah suka jahat sama aku," jawabnya membuat semua orang tersenyum.
"Istirahat lah sayang, kamu cape kan biar Aa yang jagain bayi kita," ujarnya meletakan bayi nya yang tertidur di bok bayi.
Icha yang kelelahan pun mengangguk, Sungguh Dia sangat lelah untuk bicara pun tak ada tenaga
Karna waktu masih malam mereka memilih menginap saja di rumasakit, untung saja Icha menginap di ruang VIP kamarnya begitu luas .
Ifa tidur di sofa bersama Ibunya, sedangkan Abang menunggu bersama Pa Harun sambil nonton tv.
.
"Ayo cepat Bun, Ayah gak sabar liat cucu kita," ucap Pa Edi.
"Sabar dong Ibu sedang membereskan duku makanan untuk Icha dan yang lain, kasian mereka pasti kelaparan menunggu di sana dari semalam," jawabnya.
Pa Edi pun membantu membawa ke dalam mobil.
Bunda Cici sengaja memasak pagi sekali di bantu Art nya setelah mengetahui kabar dari Abang kalo Icha sudah melahirkan.
Setelah siap mereka pun bergegas menuju Rumasakit tempat Icha melahirkan.
Tak lama kemudia meraka pun sampai, suasana jalan masih sepi karna masih pagi belum sepadat biasanya.
Ifa memilih pulang duluan karna ada kelas hari ini bersama Bapaknya, tinggalah Abang dan Bu Yani di sana.
"Loh Mas apa kalian mau pulang?" tanya Bunda Cici saat berpapasan di tempat parkir.
"Iya, maaf kami duluan ya saya ada pekerjaan dan Ifa juga harus kuliah," jawabnya.
Setelah pamit Pa Harun pun mengemudikan mobilnya meninggalkan rumasakit, sedangkan Pa Edi dan Bunda Cici segera masuk ke dalam.
"Pagi sayang gimana kabarmu nak?" tanya Bunda Cici memeluk menantunya itu.
__ADS_1
Sedangkan Pa Edi duduk di sofa setelah meletakan makanan di atas meja.
"Kabar baik bunda," jawabnya tersenyum.
"Kok kabarku gak di tanya Bun?" tanya Abang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bunda udah tau kalo kamu baik-baik saja," jawabnya, mereka pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Pagi Mba, sini gantian jagainnya Mba makan dulu ya saya bawa sarapan buat kalian," ucap Bunda.
"Makasih banyak loh jeng, udah ngerepotin," ucap Bu Yani tidak enak.
"Tidak masalah, Sayang ayo suapi istri kamu nak pasti Dia juga sudah lapar," ujarnya kepada Abang.
"Sini Cucu Oma cantik banget sini gendong dulu,"
Bu Yani pun menyerahkan bayi itu ke gendongan Bunda Cici dan segera sarapan.
Abang menyuapi Icha terlebih dulu, setelah itu Dia pun ikut makan.
"Bagaimana kata dokter, kapan Icha bisa pulang?" Tmtanya Pa Edi.
"Semua sehat, dan nanti siang juga bisa langsung pulang Yah, " Jawab nya mereka pun menangguk senang.
Sedangkan di rumah Ifa sudah mempersiapkan kejutan untuk Kakaknya, Di sana sudah ada Nenek Minah, Bi Asih dan keluarga,Sedangkan Irma belum datang.
"Loe gak jadi ke kampus Fot?" tanya Adit, kini mereka sedang memasang balon di ruang tamu.
"Gue izin pagi ini, loe sendiri gak kuliah?" Ifa malah balik tanya.
" Gue masuk siang," jawabnnya santai.
Setelah menghias rumah mereka pun menyiapkan Bok bayi untuk keponakannya karna Icha belum sempat membawa barang-barang ke sana.
Dia hanya sementara tinggal di sana, sampai bisa mengurus bayinya tanpa bantuan orang tuanya.
"Kak Rita di mana kerjanya sekarang?" Tanya Adit ,melihat Rita diam saja.
"Masih di Klinik yang sama," jawabnya.
Rita sudah lulus sebagai Dokter umum, Dia pun bertugas di salah satu klinik dekat rumah orang tuanya.
"Bagaimana hubungan dengan Kak Ivan?" tanya Ifa kepo.
"Baik," jawab Nya.
Sepertinya Rita enggan memberi tahukan hubungannya yang seperti apa, Dia juga tidak terbuka kepada siapa pun.
"Kapan-kapan main ke rumah kalo libur, kita bakar ikan," ujar Rita.
__ADS_1
"Bagus tuh gue ikutan lah, sekalian ajak Mita jalan." ucap Adit mendengar Usul dari Rita.
"Oke nanti kapan-kapan kita ke sana," jawab Ifa dan Rita pun mengangguk sambil tersenyum .