Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Bertemu Klien Papa Adam


__ADS_3

Kaila nampak membaca buku karna Revan harus menemui papa nya di ruang kerja.


"Mas ke bawah dulu ya mau ngobrolin kerjaan sama Papa, kamu kalo bosan nanti susul aja takut nya lama," ujar Revan dan Kaila pun mengangguk.


Revan pun keluar kamar menuju ruang kerja Papa nya, sedangkan Kaila nampak mengambil beberapa buku dan membawa nya ke balkon.


Disana sudah mulai teduh karna matahari sudah meninggi Kaila memutuskan untuk membaca di sana karna suasana nya yang tenang membuat Kaila nyaman.


Di ruang kerja Papa Adam Revan nampak diam melihat Papa nya yang nampak marah padanya.


"Kamu kenapa gak cerita sama Papa kalo Clara bikin Kaila celaka, Papa benar-benar gak habis pikir sama kamu kenapa kamu diam saja saat istri kamu di perlakukan seperti itu. Papa tahu kamu menikahi nya karna terpaksa tapi kamu juga harus bertanggung jawab sekarang karna itu yugas kamu."


"..


"Papa merasa malu memiliki anak seperti kalian, apa salah Kaila sama kalian sehingga kalian memperlakukan nya seperti itu. Papa malu kalo sampai Icha sama Abang tahu kalo anak nya di perlakukan buruk oleh kalian, kami bukan hanya berteman baik tapi sudah seperti saudara."


"..


Revan masih diam tak mencela apa yang Papa nya katakan, dia juga merasa bersalah karna tidak bisa menjaga Kaila dengan baik.


"Kaila itu sifat nya sama seperti Icha dia baik dan lemah lembut tapi kalo dia sudah kecewa dia akan nekat, bahkan kalo kamu masih bersikap seperti ini Papa gak jamin rumah tangga kamu akan awet, Kaila bisa saja pergi dari sisi kamu untuk selamanya."


Adam ingat saat Icha dulu kecewa dan salah paham dengan mereka bahkan Icha pergi tanpa pamit hingga 4 tahun lama nya tak ada kabar sama sekali.


Icha begitu pintar menyembunyikan perasaan nya hingga teman-teman nya pun tak menyadari apa yang di rasakan nya sakit hati, kecewa, kesal, marah dan itu Icha tanggung sendiri dengan pergi tanpa menghakimi mereka.


Begitu juga dengan Kaila, Adam takut kalo Kaila kecewa dengan keluarga nya yang tak memperlakukan nya dengan baik.


Saat Adam mengetahui apa yang terjadi dengan Kaila dia langsung memarahi Clara dan menampar nya, sungguh dia tidak pernah mengajari anak nya untuk berbuat jahat dia benar-benar kecewa melihat anak nya berubah menjadi moster yang siap melahap Kaila kapan saja.


Mungkin ini kesalahan nya karna terlalu memanjakan Clara sehingga anak itu menjadi tidak tahu diri, Adam sudah mencabut beberapa fasilitas kepadanya termasuk beberapa kartu kredit yang dia bekukan Adam hanya memberikan satu Atm saja itu pun dengan jumlah uang yang sedikit.


Adam juga ingin mengambil mobil yang di pakai oleh Clara namun Clara memohon kepada nya, dengan bersujud dan menangis di kaki nya.

__ADS_1


Adam pun tidak tega dia membiarkan mobil itu di pakai oleh anak nya.


"Maafkan aku Pa, aku benar-benar menyesal tak bisa menjaga Kaila dengan baik,namun qku berjanji mulai hari ini akan memproritaskan nya terlebih dulu," ujar nya.


"Papa pegang janji kamu tapi kalo sampai kamu mengecewakan nya lagi Papa gak bisa bantu kamu Revan, Papa sudah terlalu malu dengan sikap kamu."


"Jangan kira Papa tidak tahu alasan kamu mau menerima Kaila, Papa tahu semua nya dan Papa harap kamu bisa belajar mencintai nya walau bagaimana pun Kaila adalah istri kamu sudah seharusnya kamu menyayangi nya."


Revan menatap Papa nya dengan wajah yang tak bisa di arti kan jujur saja dia kaget dari mana Papa nya tahu tentang hal itu, apa mungkin Clara yang menceritakan semua dasar berengsek umpat nya.


"Sudah sekarang kamu ikut Papa bertemu Klien di Resto depan ada pekerjaan yang harus kita selesaikan namun sebelum itu kamu izin dulu sama istri kamu takut nya dia nanti nyariin," ujar nya menepuk pundak Revan dan keluar dari ruang kerja nya.


"Papa tunggu di depan," lanjut nya dan Revan pun mengangguk.


Dia langsung kembali kedalam kamar dia mencari keberadaan Kaila yang tak terlihat dimana-mana.


"Kemana dia kok gak ada?" gumannya.


"Astaga sayang kenapa tidur di sini," ujar nya meletakan buku itu di meja dan langsung menggendong nya membawa nya ke atas tempat tidur.


Bukannya bangun Kaila malah semakin nyaman saat Revan memindahkan nya ke tempat tidur.


Revan pun tersenyum dan membenarkan rambut nya yang menutupi wajah nya.


"Kamu cantik sekali sayang aku makin cinta sama kamu, I love you Kaila Anastasya," ucap nya sambil mengecuk kening nya dan mengecup bibir nya sekilas.


Setelah itu Revan menyelimuti nya sedada, tak lupa menyimpan buku di atas nakas bersama ponsel nya.


Revan sendiri langsung bersiap mengganti baju nya dia akan segera pergi bersama Papa nya.


Dia menatap Kaila sebentar ingin meminta izin namun tak tega untuk membangunkan nya.


Akhirnya Revan pun memberi pesan kepada Bi Sum agar memberi tahukan kepada istrinya kalo dia akan pergi sebentar bersama Papa nya.

__ADS_1


"Bi nanti kalo Kaila bangun bilangain saya bilang saya pergi sama Papa mau ketemu klien sebentar," ucap Revan.


"Iya Den nanti bibi sampai kan," ujar nya.


Revan pun menganguk dan segera menyusul Papa nya yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Lama banget sih kamu, ayo jalan Pak," ucap Papa Adam melihat anak nya baru datang dan mobil pun keluar dari gerbang menuju Resto.


"Maaf Pah aku ganti baju dulu jadi lama," jawab nya dan Papa Adam pun mengangguk.


Hanya dua puluh menitan akhirnya mereka sampai di Resto mereka langsung saja keluar menemui Klien Papa nya.


Mereka pun langsung masuk dan menyapa Klien nya sudah duduk di salah satu meja.


"Selamat siang Pak Anton, maaf apa anda menunggu lama?" tanya Papa Adam merasa tidak enak.


"Tidak,saya juga baru datang kok," jawab nya mempersilahkan mereka duduk.


"Silahkan duduk," ucap nya tersenyum.


Sedangkan Revan merasa canggung karna Anton adalah ayah nya Rifky sudah pasti jika kerja sama ini terjalin dia akan terus bertemu dengan pria itu.


"Revan bagaimana kabarmu nak sudah lama sekali tidak main ke rumah," ujar nya.


"Kabar baik Om, saya sibuk bekerja jadi belum sempat main lagi ke rumah," alasan nya dan Pak Anton pun mengangguk.


Tak lama kemudian Rifky datang dengan nafas ngos-ngosan mungkin dia baru saja habis berlari.


"Maaf telat," ucap nya membuat mereka semua menoleh sedangkan Pak Anton berdecak kesal sudah tidak aneh lagi jangankan ini hari libur hari biasa-biasa saja dia pasti telat.


"Duduk lah kami juga baru sampai," jawab Pak Anton.


Sedangkan Revan menghela nafas kasar lalu melirik ke arah Rifky dan mereka pun saling pandang namun tak saling menyapa entah apa yang ada di pikiran mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2