
Pulang sekolah pun tiba Kaila di temani Satria di kelas menunggu Haikal yang belum juga datang.
"Lama banget ya kak Haikal, sebenarnya mau apa Dia pake harus nungguin segala," ujar Kaila.
"Gue dengar Kak Haikal ada rapat osis dulu, gimana kalo loe bereng gue aja," tawar Satria.
Baru saja mereka mau keluar ternyata Haikal sudah berada di depan kelas.
"Ayo gue anter pulang, makasih Sat loe udah jagain Dia,"
"Iya kak gue duluan ya," ujar nya.Mereka pun mengangguk.
Mereka pun berjalan menuju parkiran Kaila membulatkan matanya saat melihat ban motor nya sudah kempes dua duanya.
"Apa apa nih, siapa yang lakuin ini berani nya cuma di belakang sini hadapi gue kalo berani, " teriak kaila terus memaki.
"Udah gue udah telpon bengkel ayo pulang biar besok gue yang jemput, masalah motor loe tinggal ambil di bengkel om Iqbal," ujar nya.
"Tapi siapa yang ngelakuin ini gue beneran marah ya," ujar nya.
"Udah nanti gue jelasin di rumah ayo pulang gue udah laper,"
Mau tak mau Kaila pun naik motor Haikal tak lupa memakai jaket nya untuk menutupi paha nya.
Hanya berselang 10 menit akhirnya mereka sampai di rumah Kaila.
"Loe jelasin sekarang sejelas-jelas nya," ucap Kaila.
Kini mereka duduk di kursi depan rumah tak lupa Dia mengambil kan satu piring puding dan juga minuman dingin untuk Haikal.
"Tadi gue sempet denger pembicaraan Tasya dan geng nya kata nya mau ngerjain loe, makannya gue ngajak loe pulang bareng biar mereka sukses ngerjain loe,"
"Loe gila apa kenapa loe dukung mereka, apa loe suka salah satu dari mereka hmm," Kaila pun melipat kedua tangan nya di dada.
"Bukan gitu maksud gue loe belum tahu mereka kaya gimana jadi gue harap loe jangan pernah berurusan lagi sama mereka, dan loe gak usah ladenin mereka,"
__ADS_1
"Kenapa sih kak sama mereka kaya nya loe juga takut sama mereka?"
"Tasya adalah anak kepala sekolah dan gue gak mau sampe loe berurusan sama Dia cukup loe sekolah yang bener Kai jangan sampai loe membuat masalah di sekolah,"
Kaila pun hanya diam memang benar sekolah itu adalah sekolah faforit bahkan banyak yang gagal di terima di sana, Kaila pun susah payah saat ingin masuk ke sana.
Terus kalo sampai Dia bikin masalah dan sampe di keluarin dari sekolah gimana sama nasib nya nanti.
"Ya udah dehh gue gak bakalan berurusan sama mereka lagi," ujar nya, sebenarnya Kaila masih kesal namun Dia menjaga aman saja.
"Bagus loe emang adik gue yang pinter," jawab nya sambil terus mengunyah puding di mulut nya.
Setelah lama berbincang Haikal pun pamit pulang, terlihat Aldian pun baru pulang sekolah dan memarkirkan motor nya di garasi.
"Loh Kak Haikal ngapain kesini?"
"Tadi habis anterin gue, motor gue mogok tadi jadi harus masuk bengkel," alasan nya.
Aldian pun hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah sambil membawa gelas dan piring bekas Haikal.
Kaila pun masuk ke dalam kamar nya untuk membersihkan diri, untung saja Dia tadi sholat Ashar dulu di sekolah jadi bisa santai-santai mandi nya.
Kini tiba saat nya makan malam mereka sudah berkumpul di ruang makan, Icha tak sempat memasak jadi Dia membeli saja karna tadi di jalan lumayan macet sehingga sampai di rumah habis magrib.
"Bun sekolah ngadain kemah apa aku boleh ikut?"
Icha pun langsung menoleh, Dia masih ingat kala itu Kaila harus di larikan ke rumasakit karna terpeleset saat mendaki.
"Kamu yakin mau ikut, bukannya bunda gak izinin tapi bunda takut kamu kenapa-napa nak,"
"Aku udah besar bun aku bisa jaga diri kok lagian ada Desi dan Satria juga yang jagain aku," ujar nya.
Sebenar nya Kaila juga masih trauma sama yang nama nya hutan namun Dia juga tak mau nilai nya jelek karna tak ikut berkemah.
"Baiklah kalo begitu nanti bunda sama Ayah jengukin kamu di sana," ujar Ayah nya tersenyum sedangkan Aldian hanya menyimak saja.
__ADS_1
"Gak mau ngapain juga jengung aku udah besar Ayah harus percaya sama aku," ujarnya.
Icha pun hanya tersenyum melihat anak nya sudah mulai menginjak remaja, Dia masih ingat Kaila kecil yang nangis minta di gendong, tak terasa air mata nya menetes.
"Loh bunda kenapa kok nangis?" tanya Kaila tak sengaja melihat bunda nya.
"Apa kamu sakit sayang?" tanya Abang. ikut panik.
"Enggak kok aku cuma kelilipan ayo habiskan makanan nya," kilah nya sambil tersenyum.
Mereka pun menghabiskan makanan nya, setelah itu mereka berkumpul di ruang Tv seperti biasa mereka akan bercerita tentang keseharian mereka termasuk Aldian Dia nampak terbuka dengan orang tua nya.
Setelah lama berbincang mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Sayang sebenar nya kamu kenapa sih?" tanya Abang memeluk Icha dari belakang.
"Emang kenapa, kok nanya gitu yah?" Icha pun balik bertanya.
"Ayolah sayang kamu gak bisa bohongin aku," ujar nya.
"Gak ada apa-apa aku cuma mikirin perkataan Dini tadi di telpon," ujar nya. Kini mereka duduk di kasur.
Tadi siang Dini bercerita tentang kesehatan Ibu nya penyakit nya semakin parah.
"Sudah lah sayang kamu gak usah pikirkan, lagian Kaila masih kecil kita tunggu sampai Dia lulus SMA dulu,"
"Iya aku juga berpikir begitu tapi gimana sama ibu nya Dini Yah, semoga saja Beliau berumur panjang dan bisa menyaksikan cucu nya menikah,"
"Iya, bagai mana kalo kita tunang kan saja dulu jadi kalo pun Ibu nya Dini harus pergi pun Revan sudah bertunangan," usul nya.
"Ide bagus, oke nanti aku bicarain sama Dini semoga saja itu bukan ide yang buruk," ujar nya.
"Iya aku juga berharap begitu, aku yakin Revan bisa membimbing Kaila walau pun mereka menikah muda, aku yakin Kaila bisa nerima semua nya,"
"Iya aku juga berpikir begitu semoga saja Kaila bisa berubah dan tak membuat masalah saat sudah bertunangan nanti,"
__ADS_1
Icha sangat tahu sifat anak nya itu sangat kurang baik bahkan saat SMP terlihat sangat buruk, Kaila sering bolak balik masuk ruang BP bahkan Kaila hampir saja di keluar kan karna menghajar siswa lain.
"Semoga saja apa yang aku lakukan bisa merubah Kaila,dengan menikah kan nya dengan Revan aku yakin Revan bisa membimbing nya lebih baik dari aku dan Abang, maafkan Bunda sayang semoga ini baik untuk mu, masalah cinta bisa hadir belakangan seiring dengan berjalan nya waktu," batinnya.