
Setelah pamit Icha pun langsung pulang ke rumah karna sudah malam, waktu terasa cepat dia lalui bersama sang sahabat, semoga saja kapan-kapan bertemu lagi pikirnya.
Pertemuan dengan sahabatnya mengingatkannya pada masa putih abu-abu kala itu masa-masa yang paling indah bagi Icha walau pun ada juga rasa sedih nya.
Icha, Dini, Abang, Adam dan juga IQbal mereka bersahabat, Dini yang terang-terangan menyukai Abang tak membuat persahaban mereka merenggang, karna mereka saling menghargai satu sama lain.
Flashback..
4 tahun yang lalu Icha belajar dengan Dini di rumahnya, karna sebentar lagi ujian sekolah di mulai.
"Gue pusing nih Cha tiap hari belajar terus gak ngerti-ngerti," gerutu gadis cantik berkucir kuda itu .
"Lo itu ya taunya apa sih, di ajak belajar gak ada semangat-semangatnya, gak lulus baru tau rasa." jawab Icha kesal.
"Gue semangat nya kalo ada Abang yang nemenin gue cha," seru nya sambil cengengesan.
"Kebiasaan deh, kita harus pokus dulu Din sama pelajar jangan pacaran aja yang lo inget aneh gue sama otak loe," ucapnya terkekeh, sambil menoyor kepala Dini gemas.
"Iya-iya gue semangat ni Cha." jawabnya sambil menganggukan kepalanya.
Namun tiba-tiba Dini berkata jujur."Cha gue mau nembak Abang setelah selesai ujian nanti, gimana menurut lo?"
"Uhuk uhukkk" Icha pun namp tersedak dan menghentikan menulisnya karna kaget dengan ucapan Dini itu
"Cha lo ga pa pa kan?" tanya Dini khawatir, sambil menepuk-nepuk punggung nya.
"Lo serius? kalo di tolak gimana?" seru Icha menahan rasa sesak di dada nya.
"Ya resiko nya lah, tapi gue gak kan nyerah Cha kalo nanti di tolak ya coba lagi," ucapnya semangat.
Icha pun nampak murung dan tidak semangat, namun dia tak menunjukan rasa kecewa nya itu pada mereka.
Hingga beberapa hari pun berlalu ujian pun selesai dan benar apa yang di katakan Dini dia mengungkapkan perasaan pada Abang dan tanpa di duga Abang pun menerima nya.
Di situ lah Icha merasa sakit yang luar biasa, mencintai dalam diam itu tidak enak ternyata, namun dia berusaha ikhlas yang penting mereka bahagia.
Itulah alasan pertama Icha meninggalkan kota Bandung, dengan alasan ingin kuliah di Yogjakarta, karna dia merasa tidak sanggup melihat sahabatnya bersama.
Flashblack of
Icha pun tersadar dari lamunananya, mendengar ponselnya berdering, dia pun bangkit dari kasur dan mengambilnya di atas nakas.
"Siapa sih malem-malem gini yang telpon." gumannya.
Dia pun segera mengangkat telpon itu setelah melihat nama Desta tertera di sana.
Desra menanyakan kabarnya,dia juga menanyakan kapan Icha kembali ke Yogyakarta.
Setelah selesai menelpon Icha tak langsung tidur, dia mengecek akun medsos nya yang dulu banyak sekali poto-poto nya waktu SMA di sana,rasa sedih rasa haru pun ia rasakan mengenang masa lalunya.
-🍀🍀🍀
Pagi harinya..
Hari icha berencana kembali ke Yogyakarta karna sudah seminggu dia di sana, dia pun pamit kepada kedua orang tuanya.
"Icha pamit ya salamin sama Ifa gak sempat pamit, tadi dia buru-buru kesekolah." sambil menyalami tangan orang tuanya.
"Iya kamu hati-hati ya, maaf Bapa gak bisa anter kamu ke stasiun." ucap Pa Harun sedikit menyesal karna harus ke kantor buru-buru .
"Iya ga papa ko aku udah pesen taxi itu udah di depan." jawabnya sambil tersenyum.
Icha pun melangkah kan kakinya masuk ke taxi,ada perasaan sedih dalam hatinya, air mata pun tak kuasa dia tahan akhirnya dia terisak dan mobil pun melaju meninggalkan rumah.
Di kediaman Icha nampak seorang pemuda mengetuk pintu.
tok tok tok..
"Asamualaikum." sapa nya.
__ADS_1
"Walaikum salam." jawab Ibu Yani yang langsung membukanya setelah mendengar salam.
"Eh Abang ada apa ya nak." tanya Ibu yang melihat Abang berdiri di depan pintu.
"Icha nya ada, aku denger dia udah mau kembali lagi ke Yogya?" tanya Abang.
"Iya baru aja berangkat naik taxi. "jawab Ibu."Kalo ada perlu penting telpon aja nak mungkin dia belum sampai stasiun." ucapnya lagi.
"Ga papa ko bu,saya langsung pamit, asamualaikum." ucap Abang lesu.
"Ya nak, Walaikumsalam." jawab bu Yani.
Saat akan menutup pintu Pak Harun sudah ada di belakangnya dan sudah rapi akan berangkat kerja.
"Siapa bu,ko ga di suruh masuk?" tanya Bapak penasaran.
"Itu Abang," kawabnya
"Ada perlu apa, ko cuma bentar?" tanya Bapak penasaran, karna semenjak Icha kuliah di Yogyakarta Abang tidak pernah main lagi ke rumah.
"Gak tau dia nanyain icha, mungkin pengen ketemu." jawab Ibu apa ada nya.
"Oh begitu, ya udah Bapa pamit ya bu."
"Ya hati-hati pak." sahut Ibu sambil mencium tangannya tak lupa memeluk Bapa sebentar.
Di tempat lain Icha sudah sampai di stasiun, dia pun memasuki gerbong kereta, baru saja kereta berangkat ponsel Icha berbunyi dan ternyata Abang yang menghubunginya dia pun langsung mengakatnya.
"Halo asalamualaikum." ucap Icha.
"walaikumsalam, kamu dimana?" tanya Abang di sebrang sana.
"Aku udah di kereta baru aja jalan 20 menit yang lalu."
"Yah telat dong, padahal aku pengen ketemu maaf ya kemarin aku ke luar kota jadi gak bisa ketemu, eh pas aku pulang kamu nya dah balik lagi." ucap Abang menyesal.
"Ga papa nanti kalo aku ke Bandung aku kabarin deh klo gitu."
"Ya, Asalamualaikum,"
"Walaikumsalam."
Icha pun menutup telponnya dan memasukan ponselnya kembali kedalam tas lantas memejamkan matanya.
Setelah sekian lama akhirnya dia sampai di stasiun, setelah menelpon Mas Febri, Icha pun melangkah menuju tempat tunggu,
tak berapa lama Febri pun datang.
"Cha,udah lama maaf telat." ucap Mas Febri.
"Enggak ko Mas , gak papa ko ayo pulang." ucapnya sambil mencium tangan febri.
"Ayo." Ajaknya.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan.
Sampai di parkiran mereka segera masuk mobil dan meninggalkan stasiun.
"Cari makan dulu ya mas, aku laper." ucapnya sambil memegang perut.
"Oke nanti kita bererti di Caffe depan, sekalian mas mau ketemu seseorang." jawab Febri.
Icha hanya mengangguk tak menyahut, dan akhirnya mobil sampai di salah satu Caffe mereka pun turun setelah memarkirkan mobilnya.
"Ayo Cha turun kita sudah sampai." ucapnya sambil menoel tangan Icha.
Icha yang sedang melamun pun tersadar dan tersenyum melihat Febri menatapnya.
"Cepet turun, malah bengong."
__ADS_1
"Iya maaf, hehe.. " ucapnya sambil membuka pintu mobil.
Mereka pun masuk dan segera duduk disana, Icha pun dengan antusias memesan makanan nya.
"Cha kamu pesan dulu, mas keluar bentar ya, mau jemput dulu orang nya di depan." ujar nya dan di angguki oleh Icha.
Tak berselang lama Febri pun kembali dengan seorang perempuan cantik, tinggi putih dan juga tak lupa dia memakai hijab.
"Cha kenalin ini Nadia, pacar mas Febri," seru Febri sambil menggandeng tangannya Nadia.
Icha yang sedang memainkan ponsel nya pun langsung mematung melihat perempuan itu.
"Kak nadia?" gumannya sambil sedikit tak percaya.
"Hey kok diem aja sih." seru Febri sambil menepuk tangan icha.
"Kak nadia," ucap Icha antusias sambil memeluk perempuan itu.
"Loh ko kalian udah kenal?" tanya Febri yang sedikit bingung melihat adik sepupunya nya bermanja pada pacarnya.
"Icha ini adik kelas aku waktu di Bandung mas," seru Nadia tersenyum senang.
"Jadi ini pacar Mas Febri, pantesan mas suka nyuruh-nyuruh aku ngikutin gaya nya, mana bisa aku kaya ka Nadia." ucapnya sambil cemberut.
"Iya dia pacar Mas baru beberapa bulan kami pacaran." ucapnya sambil mendudukan bokongnya.
"Sini sayang duduk udah kangen-kangenannya makan dulu." serunya lagi.
Nadia pun duduk di sebelah Febri dan Icha di duduk sebrang nya.
"Mas tau gak, ka Nadia itu galak lohh, aku aja sering di hukum." serius Icha.
"Kamu nya aja yang bandel Cha, masa anak cewek manjat pagar, kerjaannya kabur di jam pelajaran mana suka telat lagi datang ke sekolah, dah gitu tiap hari senin suka pura-pura sakit karna gak mau upacara." ucap Nadia menjelaskan.
"Aduhh kakak bongkar kartu aja, aku kan jadi malu." seru Icha sambil tertawa.
"Kamu tuh ya Cha, pantes aja pas baru datang ke sini Mamih sampe geleng-geleng kepala liat kelakuan kamu, apalagi tuh suka pake celana sobek-sobek gitu, rambut merah acak-acakan." jelas Febri menimpali.
"Aduh Mas itu gak tau model ya, kan dulu musim kaya gitu mas, lagian aku kan juga masih labil waktu itu." jawabnya membela diri.
"Sejak kapan kamu hijrah Cha? beda banget sekarang tambah cantik kakak seneng banget liatnya." ujar Nadia.
"Setahun terakhir lah klo gak salah, masih belajar lah ka," jawab nya dan pipi nya bersemu merah.
"Semoga kamu tetap kaya gini ya Cha." sehut Nadia sambil tersenyum.
Makanan pun datang dan Mereka pun makan dengan lahap sambil bersenda gurau, sehingga makanan pun akhirnya habis.
Setelah selesai makan mereka pun lanjut bercerita.
"Cha kamu kuliah di mana?" tanya Nadia.
"Aku kuliah di kampus xx dekat Restorannya Mas Febri." jawabnya sambil mengaduk-ngaduk minumannya.
"IQbal juga kuliah di sana, apa kalian gak pernah ketemu, dia jurusan tehnik." jelas Nadia antusias.
"Masa sih, ko aku gak pernah liat ya?"
"Mungkin beda jurusan Cha kampus kamu kan luas." tungkas Febri.
"Mungkin juga." serunya sambil mengangguk.
"Nanti aku suruh IQbal samperin kamu deh ke rumah Mas Febri, dia kaya nya kangen banget sama kamu, sekalian minta maaf sama Mas Febri. "
"Ya udah kondisikan aja ka, nanti malem juga boleh ko." jawab nya antusias.
"Eh kenapa IQal sama Mas Febri, ada masalah? " tanya nya lagi.
"Enggak ko cuma salah paham,ya udah ayo kita pulang, sekalian anterin dulu Nadia." seru Febri setelah membayar makanannya.
__ADS_1
Dan mereka pun bergegas meninggalkan Restoran itu.