
Abang menyambut kedatangan sahabat nya yakni Alex dan Nazwa mereka ikut hadir di sana, mereka datang terlambat karna ada sedikit urusan berbeda dengan Desi yang sedari tadi udah datang di jemput oleh Satria dengan motor sport nya.
Revan terus mengikuti Kaila namun mertuanya memanggil nya mau tak mau dia pun menghampiri mereka.
"Revan bantu Ayah dulu ya, nanti kalo udah beres bisa gabung lagi sam istri kamu," ucap Abang, sedang kan Iqbal hanya terkekeh mau aja di kerjai sama mertua julid nya itu pikir Iqbal padahal mereka gak lagi sibuk.
Desi dan Satria nampak terbahak menertawakan jagung yang mereka bakar nampak gosong sebelah.
"Ini salah loe ya bukan gue," ujar Desi tertawa terbahak sedangkan Kaila hanya menyimak mereka sambil menusuk-nusuk sosis dan baso untuk di panggang sedangkan seefood nya di urus oleh papa Iqbal dan Alex.
"Loe kok salahin gue sih," jawab Satria ikutan terbahak.
Mendengar suara tawa itu Dava melirik ke arah mereka dia sedari tadi hanya diam sambil memainkan games di ponsel nya bersama Aldian.
Sesekali dia juga menghisap Vape nya berbeda dengan Satria yang tidak meroko sama seperti papa nya yakni Iqbal, dulu Iqbal perokok namun setelah mempunyai anak Iqbal berhenti merokok.
"Napa loe kak masih suka sama kak Desi, balikan sono kalau masih suka" ujar Aldian namun tak masih pokus dengan games nya.
"Gak ada dalam kamus gue harus balikan sama yang nama nya mantan apalagi dulu itu cuma cinta monyet gue gak pernah serius suka sama dia," ujar nya kembali pokus pada ponsel nya.
Namun tanpa dia sadari yang di katakan oleh nya bisa di dengar dengan jelas oleh Desi yang ada di belakang nya sedang mengambil piring.
"Gue janji Dav bakalan move on dari loe dan lupain janji loe sama gue, makasih atas lula yang loe berikan sama gue cukup tiga tahun ini gue nunggu loe," batinnya.
Desi pun mengusap air mata nya yang tiba-tiba saja jatuh, setelah itu dia memberikan piring kepada Satria.
"Ini gue taro mana?" tanya Desi namun suara nya nampak bergetar.
"Loe kenapa skait?" tanya Satria meletakan kipas yang ada di tangan nya dan menyuruh Revan menggantikan nya.
Revan dengan sigap menggantikan Satria, sedangkan Kaila masih sibuk dengan pekerjaan nya yakni menyiapkan makanan lain dengan para ibu-ibu.
"Gue gak papa ihh cuma mata gue aja yang perih kena asep," jawab nya.
Namun Satria tak percaya begitu saja mendengar perkataan Desi dia yakin terjadi sesuatu dengan sahabat nya itu.
__ADS_1
"Ayo ikut gue supaya gak kena asep," ujar nya mengajak Desi duduk agak jauh dari yang lain yakni di sebuah Gazebo.
"Loe jujur sama gue apa yang buat loe nangis?" tanya Satria memaksa Desi untuk jujur.
"Emang gak pantes ya cewek kaya gue berharap punya pacar yang setia," ucap nya bergetar menahan tangis.
"Loe masih berharap sama Dava?" tanya Satria.
"Tadinya sih iya tapi kalo gue pikir lagi buat apa gue ngejar cowok yang udah gak cinta sama gue," ujar nya Satria pun mengangguk setuju.
"Bagus kalo gitu gue harap loe gak ambil hati apapun yang Dava katakan, dan masih banyak cowok di luar sana yang suka sama loe," ucap nya."termasuk gue," lanjut nya dalam hati.
"Makasih ya loe emang sahabat terbaik gue," ucap Desi tersenyum.
"Kenapa sih Tria gak loe aja yang jadi pacar gue, loe pasti gak akan pernah buat gue kecewa, semoga gue bisa dapetin cowok yang hangat suatu saat nanti Tria."batinnya.
"Ya udah yuk kesana kaya nya semua udah siap gue udah laper," ujar nya kikuk sambil menggaruk kepala nya.
"Ayo gue juga sama,"
Mereka pun bergabung kembali dengan yang lain, Kaila pun lantas bertanya."Dari mana?"
"Nah loe bisa makan berdua sama Tria nanti gue sama kak Revan," ujar nya menunjuk satu piring di depan nya.
Sedangkan orang tua mereka tampak asyik dengan makanan masing-masing dan bernostalgia.
"Cha loe inget gak dulu kita pernah kaya gini sama Rima loe inget gak?" tanya Mega.
Icha nampak mengangguk sambil tersenyum dia sudah lama tidak bertemu dengan sahabat nya itu hanya se hay lewat chat saja.
"Aku jadi rindu sama dia gimana ya kabar nya?"
"Gimana kalo kita liburan ke sana mungpung anak-anak masih libur," ucap Iqbal ikut nimrung.
"Boleh juga gimana yah saran Iqbal?" tanya Icha.
__ADS_1
Abang pun manggut-manggut saja."Oke atur aja waktu nya kapan," timpal Abang memasukan makanan nya kedalam mulut.
"Oke nanti gue kabarin siap-siap aja,"ujar Iqbal.
"Kamu mau ikut ga Na, biar sekalian kita liburan bareng?" tanya Icha.
"Iya Na main ke rumah gue loe belum pernah ke rumah gue yang di jogja," timpal Mega.
"Duh sorry guys pak su udah janji sama orang tua nya kalo kita mau liburan kesana," jawab nya.
"Ahh gak seru Lex lalo kalian gak ikut," sahut Abang.
"Ya gimana lagi bro gue udah janji,nanti deh kapan-kapan gue usahain ikut kalian," ujar nya.
Acara makan-makan pun selesai satu persatu undur diri kini tinggal Dava yang menginap di sana sedangkan Kaila juga sudah masuk ke dalam kamar nya.
"Aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Revan yang sudah merebahkan diri nya di atas kasur.
Kaila yang sedang memakai crem malam pun menoleh."Tanya apa?"
"Itu temen kamu dulu pacaran sama Dava?"
"Ohh itu, iya si Dava nya aja yang kurang ajar dia yang janji malah dia yang lupa apalagi sekarang tambah nyebelin padahal dulu gak gitu tu anak,"
"Janji apa emang?" Revan mulai penasaran.
Kaila pun ikut naik ke kasur dan menarik selimut dia juga menatap langit-langit kamar nya sama seperti Revan.
"Dulu saat kami masuk kelas tiga SMP Desi pacaran sama Dava, terus Dava harus pindah ke Kalimantan nerusin sekolah di sana, " Kaila pun berhenti sejenak lalu meneruskan kembali cerita nya.
"Pas udah lulua SMP Desi minta putus karna gak mau LDr namun Dava nya gak mau malah dia janji akan setia sama Desi ya inti nya Dava berjanji akan menjaga cinta mereka hingga dia kembali namun dia berubah saat kembali dia seolah lupa dengan Desi dan kalo pulang juga tak pernah ngasih kabar ke Desi,"
"Terus?"
"Mereka baru ketemu lagi tadi setelah tiga tahun pisah, Desi sangat antusias saat mendengar Dava mau pulang namun apa yang harus dia dapat sebuah kepahitan," lanjut nya tersenyum samar.
__ADS_1
Kaila sangat tahu apa yang Desi rasakan, dia juga dapat melihat kesedihan di mata Desi tadi.
Bukan nya Kaila gak tahu kalo Desi tadi sempat nangis di bahu Satria, namun dia tidak ingin menambah Desi sakit hati.