
Kaila nampak duduk di atas kasur menunggu Revan yang sedang mandi, dia meneliti kamar Revan yang begitu luas lebih luas dari kamar nya.
Kamar itu berwarna silver dan gold sedangkan sprei nya berwarna coklat gelap.
Seperti nya Kaila akan nyaman tidur di sana karna Kaila juga menyukai warna yang sedikit gelap.
Ceklek.
Revan pun keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja yang di lilit kan di perut nya sedangkan tangan nya mengusap rambut nya yang basah.
Kaila nampak membuang muka saat tak sengaja melihat roti sobek milik suami nya itu.
Lantas dia pun membawa handuk yang baru di ambil nya dari tas nya dan segera masuk ke kamar mandi, jangan di tanya bagai mana wajah nya sekarang sudah seperti kepiting rebus.
"Ya Tuhan malu banget gue, pake gak sengaja liat segala," ujar Kaila neraba pipi na yang terasa panas.
Sedangkan Revan nampak sudah selesai mengganti baju dan turun menghampiri Oma nya di kamar.
Ternyata Oma sudah bangun dan duduk bersandar di ranjang.
"Oma gimana kabar nya?" tanya Revan duduk di tempat tidur Oma nya itu.
"Baik lebih sehat dari kemarin- kemarin" jawab nya.
"Syukurlah kalo begitu aku senang mendengar nya," jawab nya.
"Maaf kan aku sudah bikin Oma seperti ini," lanjut nya.
Memang benar Oma sempat drop beberapa bulan yang lalu saat mendengar Revan bersikeras menentang perjodohan itu.
Namun Oma tidak tahu kenapa Revan jadi mau menerima perjodohan begitu saja, padahal awal nya dia tidak mau.
Oma jadi curiga atau jangan- jangan Revan menerima nya karna ancaman nya waktu itu entah lah yang jelas Oma bahagia melihat Revan sudah menikah dengan Kaila.
"Dimana Kaila apa dia ikut kesini bersama mu?" tanya Oma seolah mencari.
"Ikut Oma, dia sedang mandi mungkin sholat ashar dulu jadi lama," jawab nya.
Oma tersenyum mendengar nya semoga saja setelah Revan menikah dia bisa menjadi lebih baik dan menuruti apa yang Kaila lakukan.
"Biar aku panggil dia dulu kalo Oma ingin ketemu," ujar nya.
__ADS_1
"Baikalah sudah lama Oma tidak bertemu dengan nya," ucap Oma.
Revan pun kembali ke kamar nya ternyata benar Kaila baru saja selesai sholat, terlihat dia melipat mukena nya dan menyimpan nya di laci.
"Mas udah sholat?" tanya Kaila menyisir rambut nya tak lupa mengikat nya.
"Sudah, maaf tadi gak nunggu kamu aku gak sabar ketemu Oma," jawab nya.
"Iya gak papa ko, gimana apa Oma sudah bangun?"
"Sudah ayo kita ke sana, Oma menanyakan kamu," ujar nya, Kaila pun menangguk pasrah memang sudah waktu nya dia bertemu dengan pemilik rumah yakni Oma Sarla.
Kaila mengikuti Revan dari belakang, sungguh dia sangat gugup sekali semoga saja Oma nya tidak galak.
"Oma kita masuk ya," ucap Kaila setelah mengetuk pintu yang terbuka akibat di buka oleh Revan.
"Ayo masuk sayang, Oma sangat merindukan mu," ujar nya merentangkan tangan ingin di peluk.
Kaila pun nampak heran, melihat Oma nampak menyambut nya dengan hangat.
"Kaya pernah ketemu ya, tapi dimana? " batin nya.
"Ayo duduk, gimana kabar kamu sayang?" tanya Oma melepaskan pelukan nya.
"Kabar baik, Oma sendiri gimana?" tanya Kaila.
"Sudah membaik, kalian mau tinggal di sini kan?" tanya Oma membuat Kaila bingung namun dia teringat dengan perkataan Bunda nya
"Iya Oma kita akan tinggal di sini jagain Oma," jawab nya, sedangkan Revan nampak diam mendengar jawaban dari Kaila.
"Kamu kuliah di tempat Risa saja biar ada teman, seperti nya kalian akan cocok," saraj nya namun Kaila hanya tersenyum kecut.
Awal bertemu saja Risa sudah menunjukan rasa tak suka pada nya apalagi nanti kalo satu kampus bisa-bisa dia di buly oleh gadis sombong itu.
"Iya Oma," jawab nya tak mau membuat Oma Sarla sedih.
Setelah lama berbincang mereka pun keluar kamar dan Oma pun sudah minum makan dan minum obat di suapi oleh Kaila.
"Hebat kamu bisa bujuk Oma biasa nya dia susah sekali di bujuk saat minum obat," ujar Revan namun Kaila hanya mengakat bahu nya tak ingin menjawab.
Mereka kini duduk di depan rumah sedangkan Kaila nampak memperhatikan tanaman hias yang berjejer.
__ADS_1
Terlihat Risa baru saja datang keluar dari mobil nya, namun dia langsung masuk ke dalam kamar nya tanpa menyapa Kaila terlebih dulu.
"Risa..!!" panggil Revan.
Clarisa pun menghentikan langkah nya."Iya apa?" jawab nya.
"Kamu gak nyapa kakak ipar kamu?" tanya Revan sedikit kesal.
"Upss sorry aku lupa kalo kakak ipar ku sudah datang, aku kira tadi pembantu baru," jawab nya melangkah kan lagi kaki nya meninggalkan Revan.
Sedangkan Kaila nampak menghela nafas, di sini lah ujian nya di mulai.
"Oke kai loe pasti bisa buat dia sayang sama loe, semua pasti bakal baik baik saja." batinnya.
"Kamu jangan ambil hati ya, mungkin dia sedang tidak mood berbicara maklumi saja," ujar nya dan Kaila pun mengangguk.
.
Makan malam pun tiba Kaila duduk di samping Revan sedangkan Risa berada di depan nya namun mereka masih tak bertegur sapa.
Ingin Kaila memulai obrolan namun saat melihat wajah jutek adik ipar nya itu membuat nya malas.
Tak ada yang bicara hanya terdengar suara sendok saja, Revan sendiri asyik dengan makanan nya sedangkan Kaila sedikit canggung.
Kalo Risa jangan di tanya dia malas sekali makan bersama Kaila, entah apa yang membuat nya benci dengan kakak ipar nya itu namun sangat terlihat untuk melihat saja saja seperti nya jijik.
Terdengar suara langkah kali mengdekati mereka, ternyata Dini dan Adam baru saja pulang.
"Kalian sudah selesai makan?" tanya Dini meletakan satu box fizza di meja makan.
"Kami sudah selesai, apa Mama sama Papa belum makan malam?" tanya Kaila.
"Kami sudah makan, Kai nanti temui Mama di ruang kelurga ya," ujar nya dan Kaila pun mengangguk.
Sedangkan Revan dan Risa nampak acuh saja, karna sudah biasa mereka tidak begitu dekat dengan orang tua nya karna dari dulu mereka selalu sibuk tak ada waktu untuk anak- anak nya.
"Risa apa kamu sudah melihat Oma, tadi Oma menanyakan kamu," ucap Dini.
"Belum, nanti aku liat Ma," jawab nya ketus lantas pergi meninggalkan mereka.
"Sayang kamu jangan heran ya liat Risa ketus kaya gitu, dia emang udah biasa kaya gitu," ucap Adam.
__ADS_1
Dini dan Adam pun masuk ke dalam kamar, sedangkan Kaila masih diam di ruang makan ingin sekali dia bertanya pada suami nya tentang keluarga nya itu.
Namun Kaila nampak malu dan dia pun hanya diam saja.