Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Kayla anastaya


__ADS_3

Enam bulan sudah Icha melahirkan bayi kecil yang di beri nama Kayla Anastaya.


"Kami berencana kembali ke rumah, sudah cukup kita menginap di sini dan merepotkan Ibu juga Bunda,"


"Kenapa buru-buru sayang, kami tidak kerepotan malah kami sangat senang bisa merawat cucu kesayangan kami," ucap Bunda Cici.


Kini mereka sedang duduk sofa.


Hari libur seperti biasa mereka akan berkumpul bermain bersama bayi kecil Icha yang sudah bisa duduk.


"Kami ingin mandiri Bun, aku juga mau serius ngurus bayiku aja dan masalah kantor aku udah ngundurin diri," ujarnya, Icha sudah berbicara dengan Hermawan tentang pengunduran dirinya.


Sudah 2 bulan Icha masuk kerja kembali namun Dia merasa kasihan dengan bayinya yang harus di tinggal, jadi Dia memutuskan mengundurkan diri dengan Ifa yang terpaksa menjadi gantinya.


"Baiklah kalo kamu memaksa, kami bisa apa tapi kami akan sering berkunjung ke rumah kalian," ucap Ibu Yani.


"Sayang kamu kenapa gak cari pembantu aja biar gak terlalu repot," ujar Bunda Cici.


"Dia mah pengen cape Bun. aku udah berapa kali bilang tapi Dia nya gak mau katanya ribet apalagi kalo pembantu nya yang masih muda udah ketakutan duluan," ujar Abang menimpali.


"Ehh bukan begitu ya, aku cuma ingin jadi istri dan Ibu yang baik aku gak ngerasa repot ko, aku malah senang bisa mengurus kalian secara bersamaan," jawabnya.


"Nanti kalo kamu butuh pembantu bilang aja ke Ibu, nanti ibu cari yang seumuran Ibu biar sama-sama enak."


"Iya Bu. nanti Icha pikirin," jawabnya.


Icha mengingat obrolannya dengan sahabatnya kalo ada tetangga nya yang menikah dengan pembantu nya yang lebih muda, membuat Icha ketakutan dan tidak mau punya pembantu.


Setelah berbincang, Icha dan Abang pun benar-benar pamit pulang ke rumah mereka.


Orang tua mereka pun ikut mengantar Icha dan Abang kembali ke rumahnya.


***


Di tempat lain Ifa sedang marah-marah karna Mobil ban bocor.


" Ya Tuhan, ada-ada aja nih mobil gue kan lagi buru-buru." ujarnya.


"Tuh kan pasti gue telat ke tempat pemotretan, gimana nih," Dia pun menelpon salah satu pegawai bengkel menyuruhnya mengambil mobil di sana.


Karna Dia tidak mau mengganti ban mobil nya sendiri , karna akan terlambat nantinya.


Ifa pun naik taxi setelah para pekerja bengkel datang karna Dia sudah telat bekerja.


Beberapa bulan yang lalu Ifa membeli mobil dari salah satu sorum mobil milik Iqbal, hasil dari jerih payahnya selama ini walau pun cuma bekas tapi Dia bersyukur bisa membeli mobil yang terbilang mewah.

__ADS_1


"Huuh.. untung aja belum telat, bisa malu gue sama A Heru kalo sampe telat." gumannya.


Ifa pun menyapa teman-temannya juga asistennya yang seorang laki-laki alay bernama Minceu alias Amin.


Setelah siap Dia pun segera bekerja, dengan fropesional.


Semenjak Rey pergi ke luar negri untuk mengurus bisnis Mamanya, Dia berusaha menyibukan dirinya agar tidak terlalu sedih.


Rey menitipkan Mama nya kepada Ifa, dan dengan senang hati Ifa menjaga nya di bantu seorang suster.


Heru juga masih belum mengingat masalalu nya sehingga Ifa bingung harus bagaimana. Dia juga belum sempat mengajak nya bertemu Mamanya Rey, karna terlalu sibuk bekerja.


Namun Ifa dan Rey sudah melakukan tes DNA terhadap Heru dan juga Mamanya, ternyata mereka cocok, Rey yakin kalo Heru adalah Reno abang nya yang hilang belasan tahun lalu.


Namun Rey belum bisa memastikan sebelum Heru ingat semuanya.


Setelah selesai pemotretan Ifa pun segera ganti baju, dan membersihkan sisa Make up nya yang tebal.


" Ifa hari ini kamu ada acara lagi gak?" tanya Heru yang tiba-tiba sudah berada di belakang nya.


"A Heru kapan datang? Ko aku gak liat ya dari tadi," tanya Ifa.


"Udah dari tadi kamu aja yang gak liat, ngelamunin apa sih?"


" Gak ihh siapa yang melamun?"


" Ya udah ayo makan siang bareng, aku udah laper dari tadi nungguin kamu,"


" Bentar dong bos, ni bocah belum selesai," Ucap Minceu sang asisten yang masih membersihkan riasan di wajah Ifa.


Ifa pun hanya tersenyum melihat Minceu yang sering berdebat ringan dengan bosnya itu.


"Ya udah, eyke juga mau ikut makan siang bareng kalian boleh kan?"


" Gak boleh, kamu makan sing bareng mereka aja ya, Kita mau ada urusan keluarga," ucap Heru, menarik tangan Ifa agar mengikuti nya.


"Selalu saja gitu sama Eyke," gumannya, membuat para kru tertawa.


.


Heru pun mengemudikan mobilnya, menggalkan tempat pemotreran.


"Kita mau makan siang dimana?" tanya Ifa.


"Cari Restoran yang dekat aja lah,"

__ADS_1


Ifa pun hanya pasrah tak ingin protes, karna Dia juga sudah lapar.


Tak berselang lama mereka pun sampai di sebuat Restoran, mereka pun turun dan segera masuk.


Restoran terlihat ramai pengunjung apalagi hari libur begini.


Mereka jalan barengan, membuat orang lain mengira kalo mereka pacaran.


Walau Di usia Heru yang sudah mencapai kepala tiga, Dia masih terlihat muda.


"Ayo duduk kamu pesan aja biar nanti aku yang bayar,"


"Selalu aja gitu kapan sih aku bisa bayar makan sendiri?" gerutunya sambil mengembungkan pipinya.


"Harus nya kamu tuh bersyukur, kalo makan sama aku gak perlu keluar duit.


Banyak loh cewek yang ingin di ajak makan sama aku," ucap nya sambil mengerlingkan matanya.


Ifa pun bergidik ngeri melihat Heru begitu, sedangkan Heru terkekeh.


Makanan pun akhirnya datang, mereka makan dengan lahap di iringi canda tawa.


Heru pun mengantarkan pulang Ifa sampai ke depan gerbang, namun Heru selalu banyak alasan bila Ifa mengajak nya mampir.


Mungkin karna dulu pernah dekat dengan keluarga itu, membuatnya canggung.


Ifa pun langsung masuk ke dalam rumah menyapa kedua orang tuanya yang nampak duduk santai di ruang tv.


"Loh kok sepi pada kemana yang lain?" Tanya Ifa merebahkan tubuhnya di sebelah Ibunya.


"Icha udah kembali ke rumah nya tadi siang," jawab Bu Yani.


"Oh.. "


Rumah terasa sepi, karna Nabila dan Naura liburan di Jakarta bersama Oma nya selama libur semester.


"Ya sudah kalo gitu Ifa masuk kamar ya mau mandi dulu gerah," ujarnya.


Orang tuanya pun mengangguk, melihat Ifa yang nampak lelah.


"Kasian bu anak mu itu, hari libur pun harus bekarja," ucap Pa Harun.


Pa Harun merasa sedih dan tidak berguna melihat anak bungsu nya kuliah sambil bekerja, namun Ifa merasa senang malah Dia bersikeras ingin bekerja tanpa di minta.


"Anak mu juga loh Pa, biarkan saja mungpung masih muda biar punya pengalaman sebelum menikah," ucap Ibu.

__ADS_1


__ADS_2