Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
perdebatan


__ADS_3

Icha sampai di depan rumahnya hari ini ada acara syukuran 4 bulan di rumah orang tuanya Dia pun mandi dan bersiap masa bodo lah dengan suaminya yang belum pulang.


Dia pun berdandan seperti biasanya modis dan juga cantik.


"Hmm siapa sih wanita itu pake bilang gue kampungan segala, dia nya aja yang rabun gue cantik gini," gumannya Icha masih kesal dengan wanita tadi, dia merasa terhina.


Saat Icha sedang ngomel-ngomel depan cermin tiba-tiba suaminya datang dan dia tidak menyadari nya.


"Sok aja kalo mau sama suami gue, masih banyak juga cowok yang mau sama gue, loe kira loe siapa so cantik banget," gerutu nya kesal.


Abang pun memperhatikan istrinya itu sambil tersenyum.


"Sayang kamu marah sama siapa?" ucapnya, membuat Icha kaget dan langsung menoleh.


"Aa kapan datang?" ucap nya langsung berdiri.


"Dari tadi, kamu kenapa sih ko marah-marah gak jelas gitu," ujarnya.


"Gak ihh siapa yang marah-marah aku lagi akting," ucap nya, Icha masih kesal dengan suaminya itu.


"Ayo ngomong sama Aa kamu kenapa, kamu marah sama Aa iya?" ucapnya.


"Enggak, emang aku ada hak ya marah sama Aa?" jawab nya namun sedikit menekuk wajah nya.


"Harusnya Aa yang marah sama kamu, kamu belum cerita loh sama Aa kalo kamu ketemu Alex waktu di Bali atau jangan-jangan kalian juga jalan berdua iya?" ucap Abang sedikit emosi.


"Aa tanya aja sama Alex apa yang kita lakuin, lagian yang mulai siapa, kenapa jadi aku yang di salahin, aku gak pernah ya peluk-peluk cowok lain di depan atau di belakang kamu, gak kaya kamu gampang banget di sentuh dan mungkin aja sebelum menikah pun kamu sudah biasa seperti itu dengan dia, bahkan mungkin lebih dari itu," ucap Icha.


Setiap kali melihat Abang dengan wanita lain Icha teringat Desta yang dulu menghianantinya, ditambah sekarang dia hamil jadi baperan.


"Kamu ngomong apa sih, aku gak pernah ya punya hubungan apa-apa dengan dia atau pun wanita lain, kamu bisa tanya Alex kalo gak percaya sama aku, kami hanya berteman dan tadi itu cuma replek saja," jawabnya.


"Masa sih.. aku telpon Alex nih tanyain apa hubungan kalian," ucap Icha menganggkat ponselnya ke atas.


"Hey.. Sayang apa kalian sedekat itu, sampe-sampe bertukar no telpon?" ucap Abang menggelengkan kepala dia tak menyangka Icha seperti itu.


"Tentu saja, setidak nya dia orang yang benar-benar jujur dan tidak berpura-pura," sindir nya membuat Abang melotot tak percaya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, siapa yang pura-pura aku selalu jujur sama kamu apapun itu," ujar nya membela diri.


"Iya itu dulu beda dengan sekarang semua nya berubah aku gak kenal lagi kamu, gak ada Abang yang dulu sekarang kamu berbeda, kamu tau semua yang ku lakukan saat aku di Jogja bahkan siapa saja yang dekat dengan aku, tapi aku mana tahu kamu di sini, bahkan teman-teman kamu pun aku tidak tahu," ucap nya semakin kesal Icha.


"Sayang semua punya masalalu dan menurut aku semua itu gak perlu di bahas lagi kita kan sudah punya kehidupan masing-masing, dan aku minta maaf, yang tadi Meli dulu kami satu kampus, tapi jangan salah paham kami tak sedekat itu, aku selalu menutup hatiku untuk wanita manapun," jawab nya jujur.


Mereka memang sering bertemu di kanpus namun dia tak terlalu mengenal nya.


"Aku bisa ngerti itu dan aku juga gak pernah ya bahas masalalu kamu apapun itu entah mantan atau siapa pun, kamu sendiri yang suka gitu sama masalaluku, kalo kamu mau aku mengerti kamu juga sama dong jangan bikin aku kesel terus, " ucap nya.


"Iya maaf aku janji gak akan marah atau cemburu lagi kalo ketemu mantan-mantan kamu dan siap pun di masalalu kamu dan kamu juga harus percaya sama aku," ucapnya memeluk Icha dari belakang. sambil mengelus perutnya.


"Mandi sana, Bunda udah nelpon nih pasti nanya udah dimana?" ucap nya.


Ya mereka barjanji mau kesana bertemu orang tua Abang.


"Masih pagi juga ngapain kita disana, kan acara nya nanti sore," ujarnya.


"Udah sana ihh geli tahu," ucapnya karna suami nya menggigit pundaknya pelan.


"Kamu mah kaya fampir ihh, kalo gemes teh, udah sana mandi," tambahnya namun Abang malah tangannya semakin aktip kesana kemari membuat Icha mendesah.


"Udah gak usah manyun gitu nanti Aa cium lagi loh," ucap Abang terkekeh sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Da Aa mah suka gitu, aku kan udah mandi tadi terpaksa deh mandi lagi," jawabnya, Icha pun memoles wajahnya setelah itu mengeringkan rambutnya lalu menggulungnya.


"Aku mau potong rambut boleh gak, udah panjang lagi nih gerah," ucapnya.


"Boleh tapi dikit aja, Aa suka banget sama rambut kamu," ujarnya, dari dulu Icha tak pernah berambut pendek dia selalu menggerai rambut hitam nya.


"Ayo berangkat udah siap belum?" tanya Abang melihat istrinya masih berkutat di depan cermin.


"Bentar atuh belum selesai juga," jawabnya, Icha sedang memakai dulu hijabnya.


"Tadi aja marah-marah pingin cepet-cepet," gerutunya.


"Aa ngomong apa?" tanya Icha.

__ADS_1


"Kamu cantik dan selalu cantik gitu sayang," Kilah nya, untung saja tadi dia bicara pelan sehingga Icha tidak mendengarnya kalo tidak bisa marah lagi.


"Aku harus hati hati kalo bicara, Icha jadi gampang marah setelah hamil," Batinnya.


"Yuk berangkat," ucap Icha menarik tangan suaminya itu.


Mereka pun naik mobil menuju kediaman orang tua mereka.


Hanya butuh waktu 30 menit mereka akhirnya sampai dengan selamat.


"Asamualaikum," ucap mereka setelah memarkirkan mobil di depan rumah.


"Walaikum salam," jawab mereka yang ada di sana, Icha dan suaminya pun bersalaman dengan mereka.


Suasana Rumah orang tua Icha mulai ramai ada pula mertua dan adik ipar nya di sana, tak lupa ada Enin dan Bi Asih dari kampung mereka sengaja datang pagi kesana untuk menghadiri acara syukuran .


"Sayang kalian makan dulu sana, kami baru saja selesai makan bersama," ucap Bunda Cici.


"Yah telat dong mana liwet nya abis gak?" tanya Icha.


"Tenang Ibu udah bikinin di wadah kecil buat kalian," ujar Bu Yani.


Icha pun pamit ke belakang kepada mereka, dia mengajak suaminya makan terlebih dulu.


Selesai makan mereka bergabung dengan yang lain, Abang berbincang dengan Ayah dan Pa Harun.


Sedangkan Icha bersama Ifa dan juga kedua keponakannya.


"Bila, Aura kenapa gak main lagi kerumah Ateu?" tanya Icha.


"Sibuk, kita udah mulai sekolah terus kita juga ikut les dan yang lainnya jadi sampe rumah tuh magrib," jawab nabila.


"Apa kalian betah di sini?" tanya Icha lagi.


"Tentu saja di sini ada Nenek dan kakeh ada juga Ateu Ifa, kita gak kesepian dulu kalo Mamih sama Papih pergi kita cuma sama Bibi di rumah," jawab Naura.


"Syukurlah kalo begitu, Ateu udah kirim uang jajan kalian ke rekening Nabila, jangan boros-boros ya," ucapnya.

__ADS_1


"Makasih banyak Ateu," ujar mereka memeluk Icha erat, Icha pun tersenyum senang bisa melihat keponakan nya itu bahagia.


__ADS_2