
Jam dinding terus saja berdetak namun Revan belum bisa memejamkan matanya dia sangat gelisah, rasa bersalah nya membuat nya tidak enak dia melirik jam dinding sudah menunjukan jam dua malam.
Saat dia sedang melamun tiba-tiba dia kaget melihat Kaila tiba-tiba menangis dalam tidur nya seperti nya mimpi buruk terjadi padanya.
"Kai kamu kenapa?" tanya Revan mengguncangkan tubuh Kaila namun sang empu nya malah berguman memanggil Bunda nya.
"Bunda.. hu..hu..," guman nya lirih.
"Bunda Kai takut," ungkap nya di sela tangis nya lalu dia merentangkan tangan nya ingin di peluk.
"Sayang bangun," ucap Revan mengusap-usap tangan nya.
Namun Revan melebarkan mata nya saat menyentuh kulit tangan Kaila yang terasa panas.
"Ya Tuhan kamu demam sayang," ujar nya terus mengguncang kan badan Kaila agar segera bangun namun seperti nya Kaila tidak bergeming sama sekali.
Revan pun bingung harus berbuat apa ingin menghubungi Mama nya tapi sudah larut malam belum tentu di angkat.
Dia pun mencari obat penurun panas untung saja P3k tersedia tak jauh dari sana.
Dia pun mengambil kan obat namun sebelum itu dia ke dapur dulu untuk mengambil air putih.
Revan teringat saat dulu dia demam Mama nya selalu mengompres kepala nya.
"Apa aku kompres saja ya biar panas nya turun," ujar nya membawa baskom air hangat.
Revan pun dengan telaten mengompres kening Kaila, seperti nya Kaila nampak muriang karna sedari tadi berguman dingin.
Padahal dia sudah menyelimuti nya dengan selimut yang lumayan tebal.
Revan pun tidak punya pilihan selain memeluk nya karna sedari tadi Kaila gelisah tidak bisa diam apalagi dia terus memanggil Bunda dan kedinginan.
Setelah beberapa saat Kaila pun akhirnya tenang, Revan melepaskan pelukan nya dan kembali mengganti kompresan nya.
Revan pun lumayan mengantuk dia menarik sofa single dan duduk di dekat ranjang sambil menjaga Kaila yang sudah mulai tenang.
Jam 4 pagi Kaila mengerjapkan matanya saat adzan subuh berkumandang dia heran melihat Revan tertidur pulas di sofa.
Kaila meraba kening nya yang terasa basah dan dia pun mengambil kain yang menempet di kening nya.
"Apa Mas Revan yang melakukan ini?" pikir nya.
__ADS_1
Kaila bisa melihat baskom berisi air di atas nakas dia pun tersenyum,ternyata Revan sangat menghawatirkan nya.
Dia pun bangun dan masuk kedalam kamar mandi, setelah selesai wudhu ingin rasanya dia membangunkan suami nya namun Revan terlihat sangat kelelahan.
"Kasian pasti lelah banget," guman nya.
Kaila pun memutuskan untuk sholat subuh duluan mungkin nanti dia akan membangunkan suaminya beberapa menit lagi.
Revan mengerjapkan matanya walau pun masih terasa perih dia menatap tempat tidur sudah kosong, dia pun langsung berdiri ingin mencari dimana istri nya namun matanya tak sengaja menatap sosok istrinya yang sedang sholat membelakangingi nya.
"Syukurlah," guman nya mengusap dada.
Revan pun masuk ke dalam kamar mandi dam segera mengambil air wudhu, untung saja di sana ada sarung dan juga peci nya yang tertinggal beberapa waktu lalu.
Setelah melaksanakan sholat mereka pun nampak diam bahkan saat Revan mengulurkan tangan nya pun Kaila hanya menerimanya tanpa bersuara.
Revan pun mengusap dahi istri nya itu dan bersyukur demam nya sudah berkurang tidak terlalu panas seperti sekarang.
Terjadi kecanggungan beberapa saat lantas Revan pun bertanya tentang ke adaan istri nya itu.
"Kita ke dokter ya takut nya kamu kenapa-napa," ucap Revan benar-benar Khawatir.
"Maaf Mas bukan orang baik buat kamu Mas gak pernah ngertiin kamu, tapi Mas benar-benar sayang sekali sama kamu.Mas takut kamu kenapa-napa," ucap nya jujur berharap Kaila mau memaafkan nya.
Hening
Namun setelah itu terdengar isakan kecil dari bibir Kaila, dia meremas jari tangan nya sambil menunduk.
Lantas Revan pun panik langsung mendeket."Sayang kamu kenapa? Mana yang sakit?"
Namun Kaila menggelengkan kepadanya lantas memeluk suami nya membuat Revan bingung.
Revan pun mengelus pundak Kaila yang berada dalam pelukan nya.
Setelah beberapa saat Revan membiarkan Kaila tenang dalam pelukan nya.Akhirnya Kaila pun melepaskan pelukan nya.
"Ma-afkan aku Ma-s," ucap nya terbata.
Revan pun bingung kenapa Kaila meminta maaf kepada nya, namun dalam hati nya dia tersenyum karna Kaila sudah mau berbicara pada nya.
"Suttt.., kamu gak salah apa-apa harus nya Mas yang minta maaf sama kamu," ucap nya menaruh telunjuk di bibir nya.
__ADS_1
Setelah itu Revan meraih dagu nya dan mencium kening nya.
"Maaf sayang, kamu jangan marah lagi yah Mas gak liat kamu diemin Mas,kita baikan ya sayang," ujar nya dan Kaila pun mengangguk.
Dia memang kesal sekali dengan suami nya itu namun bukan salah nya Revan juga, kalo saja Clara tidak berbohong mungkin ini tidak akan terjadi.
Jadi yang harus di salah kan adalah adik ipar nya itu, Kaila benar-benar harus membuat perhitungan dengan Clara karna gara-gara dia Kaila mendapatkan luka yang lumayan di tubuh nya.
"Ayo buka baju kamu, Mas mau liat luka kamu," ucap nya.
"Aku gak papa kok cuma pegel aja nanti juga sembuh," jawab nya.
Namun Revan menggelengkan kepala nya dan langsung menggendong nya ke tempat tidur.
"Mas aku gak papa," ujar nya.
"Iya Mas tahu kamu wanita yang kuat namun Mas cuma mau mastiin aja luka nya gak parah," ujar nya.
Kaila pun akhirnya menyerah dia membuka baju tidur nya dan menyisakan bh nya saja.
Dia berbalik memeperlihatkan punggung nya yang sedikit memar.
"Apa ini sakit sekali?" tanya Revan sendu.
Dia bisa melihat Kaila meringis saat dia menekan nya pelan, warna merah ke biru-biruan nampak terlihat kulit putih istri nya itu.
Hati nya pun mencelos melihat luka memar itu, di tambah luka di tangan nya semakin membuat nya sakit hati dan sedih.
"Kok malah nangis sih Mas?" tanya Kaila melihat Revan mengusap air mata nya.
"Maaf kalo bukan karna Mas kamu gak bakalan punya luka kaya gini," ucap nya.
Kaila pun tersenyum dan langsung berhamburan memeluk suami nya itu.
"Mas tuh lebay deh orang aku nya juga gak papa," ucap nya terkekeh.
Revan pun tersenyum mendengar Kaila sudah bisa tertawa meskipun sakit dia tidak menunjukan nya.
"Istirahat lah kamu kan belum sembuh, biar mas beliin bubur di bawah ya.Biasanya jam segini udah buka," ucap nya melirik jam dinding sudah menunjukan jam 5.30 pagi.
Namun Kaila menggeleng dia tak mau di tinggalkan oleh suami nya itu.
__ADS_1