Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
ada pengganggu


__ADS_3

Setelah sore mereka pun pulang, Icha di antar oleh Abang sampai depan rumahnya,sedangkan Ifa menginap di rumah Mita.


"Makasih Abang, aku langsung masuk ya. gerah banget, " Ucap Icha,keluar dari mobil.


"Ya udah, aku langsung pulang ya jangan lupa nanti malam kita jalan, aku jemput jam 7 ya, " Ujarnya dan Icha pun mengangguk.


Setelah melihat Abang sudah menjauh Icha pun segera masuk ke dalam kamar dan bergagas mandi.


Setelah Sholat Magrib, Icha pun turun ke bawah saat terdengar suara orang tertawa.


"Ibu ,ada tamu ya ko rame" Ucap nya saat berpapasan dengan Ibunya yang akan ke dapur.


"Bude mu mau menginap di sini, katanya kangen sama kamu, sana temenin Ibu mau kedapur dulu bantu Bibi siapin makan malam. " Dan Icha pun mengangguk melangkahkan kaki nya ke ruang tamu, benar saja sudah ada Bude Yati, Febri dan juga Nadia sedang berbincang dengan Pak Harun ayahnya Icha.


"Icha, sini gabung, " Ucap Bude menepuk kursi di sebelahnya, Icha pun menghampira mereka.


"Anak gadis nya Bude katanya mau nikah ya, ko gak kenalin ke Bude calonnya,kirain jodohnya orang Jogya biar dekat sama Bude, eh malah cari yang lima langkah, " Ucap Bude dan Icha pun hanya tersenyum.


"Maklum Ma, itu cinta pertamanya s ceriwis Icha, Mama inget gak waktu pertama ke rumah kita Dia murung sampe akhirnya Dia temenan sama Rima baru deh ceria lagi apalagi kalo udah di antar sama kakak nya, " Ujar Febri menggoda sambil menaik turunkan alisnya.


Icha pun melotot sambil melirik ke arah Febri, takutnya kalo sampai Abang dengar bisa gawat pikirnya.


"Oh iya, Rama ya Mama juga ingat suka anterin pulang, trus Dia nangis lagi saat Rama kuliah di luar negri, " Bude pun malah sengaja membuat Icha kesal.


"Bude ihh, itu mah masa lalu atuh gak usah di bahas lagi, lagian Mas Febri nih yang mulai bikin kesel aja, " Ujar Icha mengembungkan pipinya, sedangkan Pak Harun hanya tertawa.


"Icha itu rebutan tau gak Mas, waktu SMA Iqbal juga suka loh sama Icha," Ujar Nadia nambah parah suasana.


"Wah hebat kamu Cha, pake pelet apa? " tanya febri terbahak.


"Udah ahh Icha males ngomong sama kalian, lagian Bapak ko gak bantu belain Icha sih, " Ucap nya meminta pembelaan.


"Bapa kan gak tau apa-apa Cha jadi nyimak aja, " mereka pun terbahak, melihat Icha cemberut.


"Udah ahh males ngobrol nya juga pada rese, " Ujar Icha kembali ke kamarnya.


"Idih gitu aja marah,sorry Cha Mas gak maksud bikin kamu marah, " ucap Febri memgejar Icha sampai ke kamar.


"Iya aku juga tau kok, udah sana aku mau siap-siap dulu mau keluar sama Abang, " Ujar nya mengusir Febri dari kamarnya.


Febri pun keluar dan segera bergabung lagi dengan mereka di ruang tamu.


"Eh ada tamu rupa nya, "ujar Febri melihat Abang duduk bersama mereka.


"Ah iya Mas, kita izin keluar sebentar," Jawabnya canggung dan Febri pun mengangguk dan segera duduk di samping istrinya.


Tak beselang lama Icha sudah ganti baju dan rapih dengan setelah pergi.

__ADS_1


"Udah siap aja kamu Cha, cepet banget," Febri pun terus menggoda.


"Udah yuk berangkat, jangan dengerin Mas Febri emang lagi rese banget, " Ujarnya meraih tangan Abang agar berdiri.


"Bapa,dan semuanya Icha keluar sebentar nya, Kalian makan duluan aja, Icha sekalian makan di luar, " Ujar nya seraya mencium tangan mereka satu persatu.


"Hari hati di jalan, jangan ngebut dan pulang nya jangan terlalu malam malu sama tetangga, " Ujar Bapa,Icha pun mengangguk.


Kini Icha sudah berada di dalam mobil Abang ,mobil pun melaju meninggalkan rumah.


"Kamu cantik banget malam ini, " Ujar Abang melirik Icha yang hanya diam saja.


"Tumben muji, apa jangan-jangan ada mau nya nih, " Jawab Icha karna tidak seperti biasa nya Abang begitu.


"Di puji kok malah marah lagi pms ya, jangan cemberut gitu senyum dong sayang, " Ujarnya mengelus tangan Icha.


"Aku udah daftarin pernikahan kita ke catatan sipil, besok kita cari gedung sama WO nya ya sekalian poto praweding sekalian, " Abang pun gerak cepat, setelah Iqbal menikah Dia juga ingin segera menghalalkan kekasihnya itu.


"Serius? ko ga ajak aku sih, " Jawab Icha berbinar sungguh Dia sangat senang mendengar nya.


"Iya,maaf gak ajak kamu karna kamu kan sibuk terus, waktu Iqbal daftar aku juga sekalian karna waktu nya udah mepet, aku juga udah pesan undangan nanti kita liat dulu modelnya, kamu yang pilih, "


"Makasih sayang,maaf udah nyusahin kamu harusnya kita urus bareng-bareng, " Ujar nya Icha sungguh merasa bersalah karna masih sibuk bekerja sedangkan pernikahannya sudah sangat dekat.


"Udah jangan di pikirin, aku juga udah pesen kebaya nya sama tante Fatma, nanti kalo kamu ada waktu kita sekalian ke sana besok,"


"Abang makasih buat semuanya, makin cinta deh sama kamu, Love u sayang, " Ucap Icha menyendekan kepalanya di pundak Abang yang sedang menyetir, Abang pun merangkulnya dan mengelus kepala Icha pelan.


"Bisa aja kamu, emang nya mobil nyalip-nyalipan, lagian aku juga udah yakin kamu gak mungkin lah pilih yang lain lagian siapa juga yang mau sama aku,tiap kemana-mana kan sama kamu, " Ucap Icha yakin.


"Ya siapa tau aja, banyak yang ngincar kamu Cha makanya aku ingin cepat jadi suami kamu biar gak ada lagi yang mengharapkan kamu. "


"Dihh mulai posesif nih, " Icha pun tersenyum.


Mereka pun sampai di sebuah Restoran yang lumayan rame, Abang sengaja memesan meja dari tadi sore di lantai 2 yang menghadap langsung ke arah taman.


Mereka pun segera masuk dan duduk di sana" Mau pesan apa? " Tanya Abang memberikan buku menu.


Icha pun menyebutkan pesanannya, tak lupa dia juga memesan minuman dan juga makanan penutup.


"Gimana pemandangan nya indah bukan, " Ujar Abang melihat bintang -bintang yang bersinar.


"Iya aku suka, makasih banyak ya aku seneng banget hari ini, " Icha pun bersyukur bisa di cintai oleh Abang, lelaki yang sangat baik dan juga bertanggung jawab.


Pesanan pun datang mereka pun makan dengan tenang,namun ketenangan mereka terganggu tiba-tiba Nur datang menghampiri mereka.


"Hay kalian di sini juga, " Ujarnya basa basi, padahal sedari tadi Dia membuntuti mereka dan sengaja pesan tempat yang tidak jauh dari mereka, saat Abang menyuapi Icha Dia sangat geram dan menghampiri mereka.

__ADS_1


Icha pun meletakan sendok nya,rasa lapar yang di rasakan nya hilang begitu saja.


"Ngapain kamu di sini? " tanya Abang ketus, Dia tau Icha pasti kesal karna melihat raut wajah nya yang tanpa expresi.


"Jangan galak-galak dong, aku cuma makan di sini eh tau nya ada kalian, boleh kan kalo aku gabung di sini, " Ujar nya tak tau malu dan duduk di sebelah Abang.


Icha pun berdiri " Aku sudah kenyang, silahlahkan kalian lanjutkan, " Ujar Icha meninggalkan mereka, sungguh Dia sangat kesal karna setiap kali mereka jalan baremg selalu saja ada Nur yang mengganggu.


"Sayang tunggu, aku juga udah selesai, " Abang pun membayar makanan nya dan berlari mengejar Icha,meninggalkan Nur sendiri.


"Aku bahagia melihat kalian hancur, tidak ada yang boleh miliki Abang selain aku, makasih ibu atas sarannya, " batin Nur melihat mereka sudah menjauh.


Nur dapat dukungan dari neneknya Abang, Beliau sangat mendukung Nur yang mencintai Abang hingga Nur pun menceritakan semuanya dan mereka pun membuat rencana bersama.


Icha pun sampai di parkiran, Dia mengambil ponsel nya berniat memesan taxi, namun usaha nya gagal Abang datang dan merebut ponselnya,dan memeluk Icha dengan erat.


"Maaf jangan marah, aku juga tidak menduga akan seperti ini, " Ujarnya mengelus kepala Icha yang masih terisak.


"Udah jangan nangis, kita jalan lagi yuk, " Abang pun melepas pelukannya dan membimbing Icha masuk ke mobil.


Mereka pun meninggalkan Resroran menuju taman kota.


"Udah jangan sedih lagi ya, aku udah bicara sama Ayah agar Dia di kembalikan lagi ke rumah nenek, maaf bikin kamu kecewa, "


"Iya gak papa ko, maaf kalo aku lagi sensi dan juga baperan, " Jawab Icha.


"Aku seneng kamu marah, itu tandanya kamu cemburu sama aku iya kan?" Abang pun menggoda Icha.


"Ih apaan sih gak jelas, aku emang cemburu puas, lagian kamu juga aku dekat sama kak Ivan suka gitu, " Jawabnya.


"Ya maka dari itu usahakan jangan dekat-dekat sama cowok lain, "


Mereka pun sampai di taman kota, setelah memarkirkan mobilny mereka duduk di kursi taman yang lumayan ramai.


"Kamu masih lapar kan, tuh banyak pedagang mau beli apa? " Ucap Abang menunjuk stan-stan yang berjejer.


"Aku udah kenyang, gak pengen apa-apa, " Jawabnya.


"Tunggu bentar aku ke sana dulu yah, " Abang pun pergi entah kemana, sedangkan Icha menunggu sambil memainkan ponselnya.


Tak berselang lama Abang pun datang membawa dua keresek berisi cilok dan juga minuman.


"Nah kalo ini pasti mau kan, " Ujar nya membuka cilok di dalam plastik.


"Ihh tau aja kesukaan aku, " Ujarnya senang dan langsung memakannya.


"Ya tau lah Cha kita kan bareng-bareng dari orok, apa sih yang aku gak tau dari kamu, tanggal datang bulan kamu juga aku tau, " Ujarnya tersenyum.

__ADS_1


"Ya Tuhan sampe segitu nya, sampe masalah kaya gitu juga tau, " Bisik Icha merasa malu, sungguh pipi nya menjadi merah.


"Udah gak usah malu gitu, pipi kamu kaya tomat Cha, dari dulu yang suka beliin pembalut saat di sekolah siapa coba kalo bukan aku, mana mau s Iqbal beliin, " Ujar nya terkekeh saat mengingat masa sekolah nya, saat akan pulang sekolah Icha malah diam di toilet sampai akhirnya Dia meminta Abang membeliakan pembalut, hingga Abang pun tidak malu lagi membelinya karna setiap bulan begitu.


__ADS_2