Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Kembali pulang


__ADS_3

Mereka pun sampai di tempat parkir.


"Kamu gak papa kan Cha?" tanya Iqbal merasa takut Icha mengingat masa itu.


"Gak apa- apa emang aku kenapa?" jawabnya bingung.


"Srukurlah kalo begitu," ujar Iqbal dan Mega pun tersenyum.


Iqbal pun menyenggol tangan Abang yang dari tadi diam saja membuat mereka canggung.


"Ya udah kita langsung pamit aja ya, ydah sore juga makasih buat waktu kalian." ucap Abang pamit kepada Iqbal dan Mega.


"Oke, good luck ya gw do'a kan semoga kalian selalu bahagia, kapan-kapan gw main ke Bandung iya kan sayang," ucapnya dan Mega pun mengangguk setelah melepas pelukan Icha.


"Jangan nangis, kebiasaan cengeng kamu Cha." ujar Iqbal memeluk Icha erat sambil mengusap pipi Icha yang sudah basah,Mega pun mengusap punggung Icha,sungguh Dia juga benar-benar sedih dan matanya pun berkaca-kaca.


"Ya udah kalian hati-hati di jalan, kita pamit ya bye." ucap Abang meraih Icha ke dalam pelukannya dan melambaikan tangan.


Mereka masuk mobil masing-masing, Abang melajukan mobilnya ke rumah Bude, Icha masih saja diam tak berkata apa-apa sungguh pikirannya sangat kacau.


"Sayang kamu gak papa kan." ujarnya mengelus punggung Icha yang menoleh ke jendela.


Icha pun menoleh dan tersenyum."Aku gak apa-apa ko, kamu tenang aja, maaf buat kamu tak nyaman, dan jangan salah paham aku sama Kak Desta udah lama putus dan aku gak berniat kembali padanya." ucapnya jujur seraya menyenderkan kepalanya di pundak Abang.


Abang pun merangkul Icha,sungguh dia bahagia mendengar Icha bicara jujur padanya.


"Maafin aku juga udah salah paham, sungguh aku benar-benar cemburu selama ini kamu di kelilingi para pengusaha kaya,aku sedikit minder cha kalo gini."


"Apaan ih ko bilang gitu, aku cinta sama kamu bukan karna harta sungguh dari dulu aku memendam perasaan ini sampai aku berusaha lupain kamu, makanya aku jarang pulang ke Bandung, soalnya takut ketemu kamu, aku benar-benar gak susah lupainnya kalo ketemu."


"Sekarang aku akan pupuk hati kamu agar cinta yang dulu tumbuh kembali, dan semoga kita bisa bersama selamanya." Ucapnya dan Icha pun mengaminkannya.


Mereka pun sampai di rumah Bude, mereka pun masuk setelah mengucap salam.


" Cha kamu cepat soal siap-siap bentar lagi kita berangkat." ucap Bu Yani,saat melihat Icha datang.


"Baik bu, Icha kw kamar sebentar,tunggu bentar ya," ucap nya setelah melirik Abang yang duduk di kursi berbincang dengan Pak Harun.


Akhirnya mereka siap kembali , mereka pamitan kepada Bude, Febri, juga Nadia.


Febri pun mengantar mereka ke Bandara sedangkan Bude dan Nadia menunggu di rumah,tak lama kemudian pesawat pun mengudara.


Icha pun duduk bersebelahan dengan Abang, menyendekan kepalanya di pundak Abang dan tertidur Abang pun menggenggam tangan Icha erat, sungguh pasangan yang romantis.


Dua jam mengudara akhirnya mereka sampai di Bandung jam 5 sore.


Abang pun menelpon Adit agar menjemput mereka di Bandara,setelah menunggu Adit pun datang dan mereka pun segera pulang.


Sampailah di depan rumah mereka,orang tua Abang sudah menunggu di depan rumahnya.

__ADS_1


Abang pun masuk ke rumahnya setelah pamit, kaluarga Icha pun masuk ke dalam rumah, sungguh pacar lima langkah itu sangat seru.


Icha pun menyeret kopernya dan segera masuk kamar sungguh hari ini sangat lelah, setelah membersihkan diri Dia pun sholat magrib karna sudah terdengar Adzan.


Kini mereka sedang makan malam bersama di ruang makan.


"Cha tadi Hermawan telpon Bapa,dia nanyain kamu kapan mau masuk kerja? katanya asistennya mengundurkan diri karna mau menikah, Hermawan harap kamu mau jadi gantinya." ucap Pak Harun.


"Mungkin besok pa, Icha ke kantor," jawabnya,dan dianguki oleh pak Harun.


"Ifa,kamu yang bener kuliahnya jangan banyak becanda apalagi berkelahi kamu itu perempuan jangan bikin malu bapa sama Ibu, mau jadi jagoan di pasar jangan di kampus, bapa malu di tegur Dosen karna kamu nampar anak pemilik kampus." ujar pak Harun dan Ifa pun hanya menunduk tak berani menyela.


Mereka pun kini sudah selesai makan, Icha mengajak Ifa ke kamar nya untuk berbincang, sedangkan Bapa dan Ibu menonton Tv.


"Kamu ada masalah apa sih dek ko sampe berantem?" tanya Icha heran,kini mereka sedang duduk di kasur Icha.


"Aku replek aja teh, gak sengaja nampar Dia nya aja yang kurang ajar nyium pipi aku." Ifa pun menjelaskan.


Flash back


Beberapa bulan lalu Ifa di terima di kampus ,Ifa biasa saja tidak seantusias tema temannya karna saat itu Dia baru saja putus dari Zaki.


Saat bertemu dengan Fatimah teman sekolahnya dulu di pusat perbelanjaan, Fatimah mengatakan tidak melanjutkan kuliah karna dijodohkan dengan anaknya pak Kyai Hasan, yaitu ayah nya Zaki ,Ifa pun tidak bertanya lagi Dia langsung beransumsi kalo Zaki yang akan di jodohkan dengan Fatimah.


Ifa pun pulang dengan hati yang kesal hingga saat keesokan harinya Ifa masuk kampus perasaannya masih kacau.


"Hay,kamu anak baru ya di kampus ini," ucap pemuda itu yang semua mahasiswa tau kalo Dia anak pemilik kampus, namun Ifa tidak peduli.


"Jangan ganggu gue," jawabnya.


"Kamu gak tau siapa aku." ucapnya sombong.


"Aku gak tau dan gak mau tau, minggir."


Namun pemuda itu malah menghalangi jalan Ifa dan mencium pipi Ifa membuat Ifa semakin kesal lantas Dia menampar pemuda itu dan akhirnya Dia yang di salahkan.


Flashback off


"Begitu teh ceritanya, aku cuma kesal aja sama cowok kaya gitu, gak tau diri."


"Emang kamu yakin kalo yang di jodohkan itu Zaki, siapa tau aja kakaknya mungkin."


"Aku gak peduli teh, mau Zaki atau bukan yang jelas aku udah move on sekarang dan bebas pacaran sama siapa pun."


"Ya teteh mah terserah kamu aja, asal jangan sampai ganggu sekolah kamu aja."


"Teteh sendiri gimana sama Abang?"


"Biasa aja, teteh juga belum ada niatan nikah, mau kerja dulu nanti kalo jodoh pasti bisa melewati rintangan nya,"

__ADS_1


"Semoga aja kalian selalu bersama, oya teh aku lupa dulu Abang pernah nitip sesuatu sama aku, maaf aku baru inget kira-kira satu taun yang lalu deh kalo gak salah,kado ultah teteh." ujar nya membuka laci meja belajar Icha.


Ifa pun memberiakan satu kotak yang masih rapi dengan bungkus kado tak lupa ucapan ulang tahun yang ke 22.


Aku akan selalu menunggu mu sampai kapanpun, do'aku selalu menyertaimiu dimanapun karna cinta pasti akan kembali pada pemiliknya aku yakin itu,sedang bersama siapa pun kamu sekarang aku yakin suatu saat kita akan bersama. {Abang. ZAB.


Icha pun membuka kotak itu, ternyata satu buah kalung dengan liontin berbentuk hurup ZI (Zaenal Icha),dengan lapisan emas putih dan beberapa permata diatas huruf membuatnya semakin mewah.


Icha pun segera memakainya, Dia sangat bahagia walau pun telat mengetahui, tapi Icha yakin cinta Abang padanya tidak pernah berkurang.


"Bagus banget teh, bisa aja s Abang pilihin kalung kaya gitu."Ifa pun merasa kagum dengan calon kakak iparnya itu.


"Iya rereh juga gak nyangka ternyata bisa romantis juga." Jawabnya.


"Aku pamit ke kamar ya teh," Ifa pun melangkah menuju kamarnya, Icha sendiri masih sentul senyum sendiri.


Hingga dering ponsel menyadarkannya.


📲 Hallo yang, cepet turun aku di bawah." Ucap Abang di sebrang sana.


📲 Oke,tunggu bentar." jawabnya bergegas keluar kamar dan segera turun ke ruang tamu.


Ternyata benar Abang sudah di sana, sedang berbincang dengan pak Harun .


"Maaf lama ya." ujarnya merasa tak enak.


Abang pun hanya tersenyum.


"Kalian ngobrol aja bapa mau Istirahat badan pegal semua," ucap nya dan mereka pun mengangguk.


"Kita ngobrolnya di taman belakang aja yuk, biar tenang ngobrolnya." Abang pun mengangguk dan mengikuti Icha.


Kini mereka sedang duduk di kursi belakang rumah



"Makasih ya hadiah yang kamu kasih sangat bagus." ucap Icha menyenderkan tubuhnya, kini mereka duduk berdua di sana.


"Hadiah apa ko aku lupa ya?"


Icha pun memperlihatkan kalung yang di pakainya,menyimbakan rambut yang tergerai kebelakang.


"Ko baru di pake, padahal udah lama, ultah mu juga udah hampir sampai ini yang taun kemarin," ujarnya goleng geleng kepala.


Abang pun memeluk Icha dan menciuminya, sungguh Dia sangat senang Icha menyukai hadiahnya.


Abang pu mencium bibir Icha, Dia sangat Rindu sekali, mereka saling bertukar silvanya.


Hingga Icha pun melepasnya karna sudah kehabisan nafas, meraka saling berpandangan dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2