Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Mencari Art untuk Icha


__ADS_3

3 bulan berlalu


Ifa berjalan gontai menuju kelas nya, ini hari terakhirnya masuk kelas karna minggu depan sudah mulai libur semester.


"Ifa tunggu," teriak Sasa.


"Eh Sa loe udah datang?" tanya Ifa.


Sasa adalah teman baru Ifa, dulu Dia di kenalkan oleh Mita saat masuk kuliah yang sama.


Semakin hari mereka dekat, apalagi Mita sudah tidak satu kampus lagi dengannya.


"Kamu dari mana aja, aku cari-cari dari tadi."


"Aku dari toilet, ada apa?" tanya Ifa.


"Tadi ada pacar kamu kesini nyariin kamu, aku bilang gak tahu, coba cek ponsel kamu,"


"Baiklah nanti aku cek sekarang kita masuk aku liat Bu Sarah tadi."


Mereka pun masuk ke dalam kelas, untung saja tidak telat, karna tak lama kemudian bu Sarah pun masuk.


Dua jam berlalu, akhirnya mereka bernafas lega, satu minggu ke depan mereka sudah mulai libur semester.


"Akhirnya bisa istirahat sejenak," ucap Ifa membereskan bukunya ke dalam tas.


"Ya udah ke kantin yuk, aku udah laper nih tadi pagi belum sarapan," ujarnya.


"Ayo aku juga, gak tahu nih padahal tadi udah sarapan banyak, tapi kenapa ya badan ku kecil terus." ucap nya sambil tersenyum.


"Ah kamu bisa aja, emang kalo banyak makan harus gemuk gitu, aku juga gak suka makan badan ku lumayan gak terlalu kurus,"


Sasa emang mempunyai badan yang lebih besar di banding Ifa, namun karna Dia tinggi jadi dan juga sering olah raga badannya ideal.


Mereka pun sampai di kantin, Ifa segera memesan Mie ayam, sedangkan Sasa memesan Baso tak lupa es jeruk.


"Kamu mau liburan kemana?" tanya Sasa.


"Gak tahu mungkin yang dekat aja lah," jawabnya sambil mengaduk-ngaduk makanan nya yang masih panas.


"Kamu sendiri mau liburan kemana?" tanya Ifa.


"Aku mau ke Sumatra menengok Ayahku," ujarnya.


"Apa ayahmu sudah menikah lagi?" tanya Ifa.


"Entahlah aku sudah lama tidak mengunjungi nya,"

__ADS_1


Orang tua Sasa bercerai saat diri nya masih kecil, Dia ikut ibu nya di sini sedangkan Ayahnya kembali ke Sumatra kampung halamannya.


"Bagaimana dengan Ayah tiri mu apa Dia baik padamu?" tanya Ifa.


"Tentu saja, siapa yang membiayaai ku selama ini, aku malah menganggapnya seperti ayahku sendiri, Dia menyayangi ku seperti anak kandung nya,"


"Syukurlah, jarang zaman loh Ayah tiri kaya gitu di zaman sekarang," ucap Ifa.


"Iya aku juga sangat bersyukur, apalagi mempunyai adik yang baik dan penurut seperti Aska, walau pun Dia baru masuk SMA tapi Dia lebih dewasa dari pada aku."


Tiba-tiba ponsel Ifa bergetar, Dia pun meminta izin Sasa untuk mengangkat dulu telponnya tertera nama Rey disana.


[Hallo sayang ada apa]


[Kamu dimana, kenapa tadi aku cariin gak ada]


[Oh tadi kamu kekampus mau apa, bukanya kamu udah gak ada urusan lagi di kampus]


[Aku tadi sengaja cari kamu, tapi kamu nya gak ada, kapan kamu ada waktu]


[Nanti pulang dari kampus kita bisa ketemu]


[Ya sudah aku jemput ya, jam berapa kamu pulang]


[Gak usah aku bawa motor ko, nanti kita ketemuan aja di Cafe Cinta]


[Bye.. ]


Ifa pun mematikan ponsel nya, dan duduk kembali bersama Sasa.


"Loh Sa punya kamu udah habis lagi?" tanya Ifa, melihat mangkok punya Sasa sudah tinggal air nya saja.


"Kan aku bilang laper jadi cepet abis nya," jawab Sasa cengengesan.


"Terus aku gimana, punya ku masih banyak, " ujarnya.


"Ya makan lah, kamu tenang aja aku tungguin,"


Ifa pun makan sambil terus bercerita hingga satu mangkok Mie ayam akhirnya habis.


Setelah itu Ifa dan Sasa masuk lagi ke dalam kelas.


***


Di tempat lain Icha sedang kerepotan mengurusi bayi kecil nya yang sudah mulai bisa merangkak.


"Ya Tuhan sayang kenapa gak bisa diem sih, ayo dong bobo Bunda benar-benar ngantuk," ujarnya.

__ADS_1


Icha memutuskan mengurus bayi nya sendiri, jadi begitulah.


Semalam bayi nya rewel karna habis di imunisasi, jadi Icha harus exstra sabar menjaga nya sepanjang malam.


Bayi Kaila malah tersenyum senang melihat Bundanya menggerutu.


Icha yang lelah pun terlelap di atas karpet, Bayi mungilnya itu pun ikut terlelap setalh lelah bermain.


Abang yang baru pulang kerja pun langsung masuk kedalam kamar yang berntakan dengan boneka dan mainan anak.


"Sayang pantas saja di panggil gak pada nyaut ternyata di sini," ujarnya.


Abang pun memindahkan Kaila ke dalam bok bayi, dan mengangkat tubuh istrinya ke atas kasur.


Biasanya Icha sangat peka sekali dan gampang terbangun, namun kali ini Dia masih terlelap, mungkin karna terlalu lelah pikirnya.


Abang pun masuk ke dalam kamar mandi, biasanya kalo Dia pulang Icha yang melayani nya sudah ada air panas untuk mandi dan menyiapkan segala keperluannya.


Begitu juga dengan bayi nya, sudah wangi sudah makan, dan gantian main dengan nya selama Icha memasak untuk makan malam.


Abang pun keluar dari kamar mandi, ternyata Icha baru saja bangun dan memakai kerudung nya.


"Sayang kamu sudah bangun?" ucap nya sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk dan ikut duduk di kasur sebelah Icha.


"Maaf A tadi aku ketiduran, kapan Aa sampai ko aku gak tahu ya?" ucap Icha merasa bersalah, Dia pun mencium tangan suaminya itu.


"Sayang kamu pasti lelah kan, Aa kan udah bilang cari pembatu agar bisa membantu kamu," ucap nya mengelus kepala Icha dengan sayang.


Icha juga berpikir seperti itu namun Dia takut seperti cerita orang-orang di luar sana.


"Iya, tapi aku gak mau yang masih muda kalo punya Art,"


"Tenang lah nanti kita cari yang sudah tua ya, nanti kita tanya ke Ibu atau Bunda siapa tau aja ada," Icha pun mengangguk.


"Kamu mandi sana bentar lagi magrib kita sholat berjaamah, biar Aa yang nungguin Kaila di sini," ujarnya.


Icha pun bangkit dan masuk ke kamar mandi, setelah selesai mereka pun malakasanakan sholat magrib berjamaah.


"Sayang apa gak papa Kaila tidur terus?" tanya Abang.


"Gak papa nanti juga bangun kalo laper, Aa tungguin di sini ya takut nya bangun, aku mau masak dulu buat makan malam kita," ucap nya sambil berdiri mencari kerudung instan yang tadi di pakainya.


"Sayang udah duduk aja di sini, Aa udah pesan makanan dari luar," ucap nya menarik tangan Icha hingga Icha pun ikut duduk kembali.


"Kamu tuh terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak kita, jadi suami kamu ini terlantar," ujar nya sedangkan Icha hanya terkekeh.


Abang pun memeluk nya dan mencium aroma Vanila yang di rindukannya seharian ini, sungguh Dia tidak bisa jauh dari istrinya itu.

__ADS_1


Biarlah di katakan bucin namun itu memang kenyataannya, Dia sangat mencintai cinta pertama nya itu.


__ADS_2