Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Curhatan Ifa


__ADS_3

Ifa pun memberi tahukan semuanya kepada Rey, tentang apa yang di ketahuinya.


"Kamu yakin?" tanya Rey yang kini berada di rumah Ifa ,mereka duduk di ruang tamu bersama orang tua Ifa juga Icha.


"Yakinlah, nih coba lihat poto A Heru waktu SMA dulu mirip banget tau sama poto zadul yang ka Alda pajang di rumahnya," Ifa pun menyerahkan ponselnya kepada Rey.


"Banyak Fa yang berwajah mirip didunia ini, kita gak punya bukti kan kalo Dia memang Kakak nya Rey, lagian keluarga Rey juga kan udah merelakan, udah kamu jangan buat mereka berharap," Ucap Bapanya.


"Tapi... ," Ifa pun tak melanjutkan ucapannya, namun Dia akan berusaha mencari buktinya.


Icha sendiri hanya menyimak obrolan mereka tanpa berkomentar.


Sudah mulai gelap Rey pun pamit pulang kepada mereka.


"Teteh mau nginep di sini?" tanya Ifa, mereka baru saja Sholat magrib bersama.


"Enggak, teteh nunggu Abang katanya mau jemput," Jawabnya, tadi Icha ke sana naik taxi.


"Oh kirain mau nginep, udah lama teteh gak ke sini, Ifa kan juga pengen curhatTeh," ujarnya.


"Emang mau curhat apa sih?" tanya Icha menggulung rambutnya.


"Masalah A Heru itu loh Teh, Teteh percaya kan sama Ifa?"


"Teteh percaya sama kamu, tapi Teteh gak bisa berbuat apa-apa Teteh gak terlalu kenal sama A Heru, sebaiknya kamu cari tahu ke Teh Irma Dia kan mantannya pasti dulu sering curhat," ucap Icha.


"Teteh bener nanti aku main ke rumah teh Irma, tapi harus gak ada suaminya kalo ada mah Teh Irma gak mau di ajak curhat tentang A Heru," ujarnya.


"Iya kan Dia menghargai suaminya dan kamu juga kalo nanti udah nikah jangan pernah bahas mantan kamu bisa bahaya," ucap Icha.


"Iya aku tau ko, cuma masalah nya beda kalo Teh Irma sama A Heru mereka dulu saling cinta sebelum adanya Mas Awan, kalo aku jadi Teh Irma mungkin udah bunuu diri," ujarnya.


"Hahaha... lebay kamu mah, lagian Teh Irma juga bukan nya saling cinta sama Mas Awan?" tanya Icha, jujur saja Dia juga penasaran dengan kisahnya yang tiba-tiba langsung menikah.


"Teteh mah gak tau aja, Mas Awan kan yang jadi orang ke tiga di antara mereka harusnya A Heru yang benci sama Dia bukan sebaliknya, "

__ADS_1


Ifa telah mencari tahu tentang Irma dan Hermawan dulu, jadi Dia sangat tahu apa yang terjadi di antara mereka bertiga.


"Maksudnya apa kok teteh jadi pusing ya dengarnya," ucap nya terkekeh.


"Gini loh, awal nya hubungan mereka baik-baik saja walau pun keluarga A Heru sedikit tidak merestui namun A Heru selalu meyakinkan kalo yang mau berumah tangga itu mereka bukan orang tua A Heru, namun Tuhan berkehandak lain, tiba-tiba Mas Awan datang di antara mereka dan mau tak mau Teh Irma harus putusin A Heru," jelasnya dan Icha masih menyimak.


"Saat itu Teh Irma hamil anak Mas Awan, dan A Heru juga tahu dan mau bertangung jawab namun Teh Irma gak mau membebani A Heru," ujarnya.


"Kejadian itu terjadi saat ada Party di kantor dan Teh Irma gak sengaja mabuk dan terjadilah hal itu bersama Mas Awan, beberapa bulan kemudian Teh Irma hamil saat hamil pun Teh Irma masih berpacaran dengan A Heru, itu yang Ifa tahu dari mulut A Heru, mana mungkin Teh Irma mau cerita sama aku, Dia kan suka bilang gini anak kecil mah tau apa gitu kalo Ifa tanya," ujarnya.


Dan Akhirnya Icha pun tahu, selama ini Dia sangat penasaran dengan kakak nya itu dan baru tahu sekarang.


"Oh begitu ya, benar-benar rumit, awas kamu jangan pernah coba-coba minum minuman kaya gitu bahaya," Nasehat nya.


"Iya iya.. ayo turun Ibu dah manggil," Mereka pun turun dan bergabung di meja makan.


"Icha ke depan dulu kaya nya suara mobil Abang," ucapnya dan mereka pun mengangguk.


Icha membuka pintu ternyata benar suaminya ada di sana, sudah memarkirkan mobil Dia membawa dua kotak martabak yang Icha pesan.


"Asamualaikum," ucapnya.


"Ayo masuk di luar dingin, jangan di biasain pake baju kaya gini di sini malu di liat orang tuamu," ucapnya melihat Icha hanya memakai kaos pendek dan hotspan.


"Iya iya ayo masuk kita makan malam dulu," ajak Icha.


"Ini pesanan kamu sayang," ujarnya menyerahkan bawaannya.


"Kita langsung pulang apa mau nginep di sini?" tanya Icha, mereka pun sampai di ruang makan.


"Pulang aja ya," bisiknya.


Icha pun mengerti karna Di rumah orang tuanya mereka tidak bebas melakukan apapun.


"Abang baru datang nak ,ayo kita makan malam bersama Ibu masak banyak Icha tadi merengek ingin di masakin sama Ibu," ucap nya.

__ADS_1


"Iya Bu di rumah juga suka gitu, semenjak hamil gak mau masak sendiri Bau katanya," ucap Abang.


"Biasa nanti juga kalo hamil nya sudah besar mah engga jadi kamu harus sabar ya," ucap Bu yani.


Mereka pun makan dengan lahap, setelah itu mereka pamit pulang.


"Kita pamit ya Pa, Bu," ucap Abang.


"Gak nginep aja di sini?" tanya Orang tua Icha.


"Gak Bu, besok kita kerja," jawab Icha.


"Kalian gak mampir ke rumah Bunda?" tanya Bu Yani.


"Bunda sama Ayah lagi ke Padang Bu jenguk Nenek sakit katanya," jawab Abang.


"Oh pantas saja sepi, biasanya pagi-pagi udah rame di tukang sayur," ucap Ibu dan Abang pun tersenyum.


"Teteh martabaknya gak di bawa nih kaya nya belum di makan," ujar Ifa.


"Buat di sini aja biar nanti kita beli di dalan sebelum pulang," ucap Abang.


"Ifa makan ya kalo gitu," ucapnya tersenyum senang.


Setelah Icha mengganti baju nya mereka pun meninggalkan rumah orang tua Icha dan mampir sebentar membeli martabak sebelum sampai rumah.


"Kamu tunggu di sini biar Aa aja yang turun, di luar dingin," ujarnya menutup pintu mobil.


Icha pun menunggu suami nya di dalam mobil sambil memainkan ponselnya.


Tak berapa lama kemudian Abang datang membawa dua kotak martabak manis rasa keju dan satu lagi rasa coklat.


"Ada lagi yang kamu mau?" tanya Abang memakai sabuk pengamannya.


Icha pun menggelengkan kepala, mereka pun melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian sampai di rumah mereka.

__ADS_1


"Sayang Aa mandi dulu ya, kamu istirahat aja duluan kalo dah ngantuk," ucap Abang masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Icha malah membuka leptopnya ada perkerjaan yang harus Dia kerjakan tak lupa Dia juga sambil makan martabak manis yang tadi di belinya di pinggir jalan.


__ADS_2