
"Kenapa sih? " Ujar Abang melihat Icha diam saja.
"Gak apa-apa, aku cuma pegal ," Jawabnya, mununjuk kaki nya yang memakai sepatu hak tinggi.
"Tunggu bentar, " Dia pun turun ke bawah dan membisikan sesuatu pada Adit yang tak jauh dari sana.
Tak lama kemudian Dia pun kembali.
"Dari mana sih? " Tanya Icha.
"Dari sana sebentar, " Jawabnya tersenyum.
Tak berselang lama Adit menenteng kresek hitam berisi sendal jepit.
"Nih pake," Ujar Adit menyerahkannya pada Icha.
"Apaan nih kok di kasih ke aku? " Ujarnya melirik Adit dan juga suaminya.
"Itu sandal jepit, sini aku pakein, " Ujarnya membantu Icha menbuka high heels nya.
"Makasih sayang kamu tau aja kalo aku butuh yang kaya gini, " Ujarnya, walaupun Icha memakai sandal jepit tapi gak akan kelihatan karna baju nya yang panjang.
Setelah selesai Abang memberikan heels itu pada Adit.
"Loe kasih ini ke Ifa biar Dia bawa pulang ke rumah, " Ujarnya, mau tak mau Adit pun mengangguk.
Kini Irma yang naik ke pelaminan bersama suaminya.
"Selamat dek semoga samawa ya, maaf baru dateng Dede nya rewel jadi gak bisa cepet-cepet. " Ujarnya memeluk adiknya itu.
"Gak papa Icha ucapin banyak terimakasih teh karna udah bantuin Icha sampe tuntas, eh mana kado nya kok gak ada? "
"Tenang teteh udah titip di Ifa tadi, awas di pake nanti malam ya, " bisiknya.
"Selamat Bro, samawa ya, " Ucap Awan memeluk adik iparnya itu.
"Makasih Mas, maaf sudah merepot kan, "
"Sama-sama, " Jawabnya.
Mereka pun turun dan bergantian dengan tamu-tamu yang lain.
Kini banyak para undangan yang datang, termasuk keluarga Abang dari Padang, mereka juga ikut memeriahkan pesta tak lupa berpoto ria.
Namun ada yang menerik perhatian Icha yaitu Rama datang di acara pernikahannya bersama Rima sahabatnya.
"Selamat ya Gue titip Icha jangan bikin Dia kecewa, Gue ikut bahagia semoga samawa, " Ujar Rama mengulurkan tangan kepada Abang terus kepada Icha.
__ADS_1
Icha dengan ragu menyambut tangannya, namun Rama malah memeluknya erat.
"Semoga kamu bahagia Cha, dan semoga Tuhan kasih Kakak pengganti mu secepatnya, " Bisiknya dan langsung melepaskan pelukan nya dan turun begitu saja.
Sedangkan Icha malah syok dibuatnya, pikiran nya kacau, pasti Abang marah lagi pikirnya, sehingga Rima menyadarkannya dengan memeluk Icha erat.
"Samawa Bebz, semoga samawa, " Bisiknya.
"Makasih banyak Bebz, gue gak nyangka loe bakal hadir di sini, sumpah gue seneng banget," Ucap nya haru.
"Gue juga seneng bisa jumpa loe lagi, gue tunggu di Jogya saat pertunangan gue, " Ujarnya.
"Tentu saja, kapan loe tunangan kok mendadak gitu? "
"Satu bulan lagi, gue di jodohin sama Bokap, Tapi gue terima Dia dengan senang hati, " Ucap nya.
"Oke oke gue ikut seneng banget dengar nya, " Ujar Icha mengusap air mata nya haru.
Setelah Rima turun banyak lagi tamu yang naik untuk mengucap selamat untuk mereka.
Dan malam pun semakin larut, hingga tak terasa sudah jam 11 malam.
Para tamu pun sudah pada pulang hanya tersisa keluarga inti saja.
Namun ada tamu yang baru saja datang, Dia tergesa-gesa.
"Sorry Cha , Mas telat tadi ada pasien darurat tambah lagi di jalan macet, " Ucap nya jujur menyalami keduanya.
"Tidak apa-apa makasih banyak sudah mau hadir , " Ujarnya tidak enak.
"Tidak apa-apa, Mas besok libur jadi bisa santai dulu," Jawabnya.
"Zay gue titip adik gue ya, awas jangan bikin Icha nangis, Icha sama Mega segala nya buat gue, " Ucapnya tegas menepuk bahu Abang.
"Tentu saja saya akan menjaga nya dengan senang hati Dokter Syam, " Jawabnya tersenyum.
"Ya sudah gue ke sana dulu ya, Mega dah nunggu dan kado nya gue tranfer aja ya gak sempet beli, "
"Makasih Mas, " Ujar mereka barengan.
Setelah itu Syam menemui adiknya, Dia juga berencana menginap di hotel yang sama dengan mereka karna sudah larut malam.
"Bang bawa Icha masuk kaya nya Dia udah kelelahan," Ujar Bunda Cici.
"Ya Bunda, Abang juga udah pegel banget, "
"Kita duluan ya Bun, " Ujar mereka dan Bunda pun mengangguk.
__ADS_1
Setelah melihat Abang dan Icha pergi Bunda Cici juga ikut pamitan kepada besannya.
"Kami pulang duluan ya, sudah malam, " Ucap Ayah Edi.
"Iya, hati-hati di jalan ," Ucap Bu Yani dan pak Harun.
Pak Harun meminta Keluarga besar Abang menginap di hotel yang sama namun mereka menolak begitu juga Ayah dan Bundanya Abang malah memilih pulang, hanya satu keluarga saja yang menginap dan yang lain malah menginap di vila keluarga nenek Asmar.
Hanya Nenek Asmar saja yang tidak hadir di resepsi pernikahan Dia menemani Nur yang sedang terpuruk.
"Sayang kenapa? " Ucap Abang setelah sampai di kamar melihat Icha yang kesusahan membuka riasan di kerudungnya.
" Bisa minta tolong gak, bantu bukain ini kaya nya susah, " Ujarnya.
"Tentu saja sayang, apa sih yang engga cuma itu doang mah gampang. " jawabnya. Dia pun membuka jas nya dan menyimpannya di sofa lantas berjalan mendekati Icha yang duduk di depan cermin.
"Kamu cantik banget Yang, " goda nya setelah melepas semua asesoris tinggal kerudung ny saja yang belum terlepas.
"Ya cantiklah kan cewek, Kamu tuh ada-ada aja deh, ini udah semua kan? "
"Udah, "
"Aku mandi duluan ya, gerah banget, " Ucapnya.
"Kenapa gak mandi bareng aja biar cepet, " Abang pun menaik turunkan alis nya menggoda Icha, membuat Icha bergidik ngeri.
"Gak boleh pokok nya aku dulu, " Icha pun bergegas masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Setelah beberapa menit Icha pun selesai mandi, namun Dia lupa membawa handuk dan baju ganti.
"Sayang udah belum lama banget ih, " Abang pun mengetuk pintu kamar mandi.
"Anu emm.. bisa minta tolong, " Teriaknya.
"Kamu kenapa? ada yang bisa ku bantu? "
"Ambilin aku handuk Yang, aku beneran lupa, "
Abang pun mengambil handuk dan segera mengetuk pintu lagi.
"Sayang ini handuknya, "
Icha pun membuka sedikit pintu dan mengulurkan tangannya, setelah Abang memberikan handuk lantas Dia pun masuk lagi ke kamar mandi.
Setelah memakai handuk Dia keluar dengan rambut nya yang basah terurai, membuat Abang menelan silvanya dan membuat yang di bawah sana menegang.
Melihat tubuh yang putih mulus membuat, jiwa kelakiannya meronta.
__ADS_1
Abang pun segara masuk ke dalam kamar mandi, sebelum Dia kehilangan kesabaran.