
"Sayang bangun udah jam berapa ini," ujar Icha mengelus kepala Kaila yang masih terlelap.
"Masih mengantuk bun, bentar lagi yah lima menit lima menit," Ujar nya masih memejamkan mata nya.
"Sayang ayolah bunda tunggu di ruang makan ya," ujar nya.
Kaila pun lantas duduk dan mengucek kedua mata nya yang terasa masih mengantuk.
Dia pun meraba ponsel nya di atas nakas,Dia pun melebarkan matanya nya.
"Astagfiruloh jam 6," guman nya langsung terbangun dan masuk ke kamar mandi Dia mandi dengan cepat.
30 menit berlalu Kaila pun turun bergabung dengan orang tuanya yang sudah berada di ruang makan begitu juga dengan Aldian Dia sudah selesai sarapan.
"Maaf aku telat," ujar nya mengeser kursi makan dan segera duduk.
Kaila meneguk susu hangat nya tak lupa menyuapkan Roti kedalam mulut nya.
"Baru juga sehari bener ehh sekarang dah gitu lagi," cibir Aldian.
"Aku beneran gak dengar Adzan untung aja bunda bangunin," ujar nya membela diri.
"Tapi kamu sholat subuh kan?" tanya Ayah nya.
"Sholat meski pun telat," jawab nya.
"Makanya jangan suka begadang, apalagi harus bangun pagi jangan di biasain ya sebisa -bisa jam 9 tuh harus tidur paling telat jam 10," ucap Icha memberi petuah.
"Iya Bun maaf, Kaila akan berusaha bangun pagi-pagi," jwwab nya.
"Sekarang kamu habis kan sarapan kamu, nih bekal kalian jangan lupa di habiskan ya," ujar nya meletakan dua buah kotak bekal ke hadapan mereka.
"Iya Bun," jawab mereka, mengambil bekal masing-masing.
"Ehh ini bekal kalian bunda sampe lupa, ini untuk satu minggu jangan boros ya jajan seperlunya," ujar Icha memberikan masing masing 2 lembar uang merah untuk mereka.
"Iya bun," jawab mereka langsung mencium tangan kedua orang tua nya dan segera pamit.
Kaila mengendarai motor nya begitu pula dengan Aldian namun jalan ke sekolah mereka tak searah sekolah Kaila lebih jauh dari rumah nya.
Kaila pun datang ke sekolah nya tepat waktu Dia mengikuti upacara di lapangan bersama yang lain.
"Untung loe gak telat Kai, kalo telat bisa gawat Ketua Osis di sini Kiler Kai gue aja merinding dengar nya," ujar Desi.
__ADS_1
"Loe kan udah tahu sifat kak Haikal kaya gimana jadi nyantai aja lah gak usah di pikirin," jawab nya.
Kini mereka sudah duduk di kelas Kaila duduk di pojokan bersama Desi sedangkan Satria duduk di depan bangku nya.
"Loe belum cerita Kai sama gue tentang cowok yang kemarin," ucap Satria ikut nimrung.
"Ya elah loe kaya cewek aja loe kepo, lagian apa untung nya sih loe gak penting juga," ujar nya.
Namun Satria tak menjawab Dia langsung menyentil kening Desi.
"Aduhhh sakit tahu apa-apaan sih loe tega banget sama gue KDRT loe," ujar nya mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Kaila hanya tertawa, namun tawa nya harus berhenti karna Wali kelas nya sudah masuk yakni Bu Hera.
***
Dini dan keluarga nya memutuskan untuk kembali ke Jakarta pagi ini karna mendengar penyakit Ibu nya kembali kambuh.
Setelah menempuh perjalanan jauh mereka pun akhirnya sampai di rumah orang tua Dini atau Nenek nya Revan.
"Gimana keadaan nya sus?" tanya Dini khawatir.
Ibu nya mempunyai penyakit jantung jadi kondisi nya tidak stabil, dan gampang cape.
Dini pun segera masuk ke dalam kamar nya setelah menanyakan kabar Ibu nya.
Sedangkan Adam harus ke kantor karna ada urusan mendadak, Revan sendiri sudah masuk ke dalam kamar nya.
Revan membuka chat nya banyak teman-teman nya yang mengajak nya nongkrong malam ini, Revan pun mengiakan nya karna Dia juga sangat merindukan mereka.
***
Kaila pun sudah sampai di rumah nya, pulang sekolah Dia langsung pulang karna mau mengerjakan tugas di rumah Desi bersama Satria.
"Males banget bawa motor panas, tapi kalo naik taxi bisa habis bekal gue selama seminggu," gumannya.
Kaila pun menelpon Satria untuk menjemput nya, dengan senang hati Satria langsung mengiakan nya.
Kaila pun mengirim pesan kepada Bunda nya agar menjemput nya di rumah Nenek nya nanti malam.
Tak lama menunggu Satria pun datang membawa motor besar nya.
"Ayo naik, kita ke rumah gue bentar Mama pengen ketemu katanya sama loe," ucap Satria dan Kaila pun hanya mengangguk sambil membenarkan helm nya.
__ADS_1
Cuma 10 menit mereka pun akhirnya sampai di rumah Satria.
"Asalamualaikum Mama," teriak kaila sedangkan Satria hanya geleng-geleng kepala.
"Walaikum salam kalian sudah datang, ayo makan dulu mama baru selesai masak," ujar Mega memeluk anak kesayangan nya itu.
Kaila dari kecil sangat dekat sekali dengan Mega, apalagi saat Icha sibuk menjaga adik nya yang hanya berbeda dua tahun.
Mega sendiri tidak bisa punya anak lagi karma ada kelainan dalam rahim nya, Iqbal pun menyaran kan untuk di opersasi saja dengan resiko tidak bisa memiliki anak lagi.
"Kebiasaan emang loe kaya di hutan aja," bisik Satria.
"Biarin terserah gue aja ya," jawab nya.
Mereka pun mengekori Mega menuju ruang makan ternyata ada Iqbal juga di sana.
"Tumben papa udah pulang, biasa nya kan pulang malam?" tanya Satria heran.
"Papa tadi cuma ngecek doang ke bengkel," jawab nya.
Dari dulu Iqbal mengembangkan bakat nya di dunia otomotip, Dia bisa membangun beberapa bengkel mobil dan juga Shorum mobil.
Sedangkan Mega mempunyai Resto di dekat alun-alun kota, Resto itu lumayan ramai rata-rata para anak muda yang nongkrong di sana.
"Papa gimana kabar nya?" tanya Kaila mencium tangan Iqbal.
"Kabar baik sayang, kamu kemana aja jarang main kesini?" tanya Iqbal mengelus rambut panjang Kaila.
"Papa nya aja yang jarang di rumah, aku sering ko main ke sini malah Satria bilang bosen katanya aku main ke sini terus," adu nya sambil melirik Satria.
"Tapi kalo kamu gak ada di suka bilang kangen gak ada yang ganggu, kangen gak ada yang cerewetin," ucap Mega terkekeh.
"Iya Ma dia mah suka kaya gitu da bikin kesel terus, "
"Udah ayo makan dulu bukannya mau kerja kelompok ke rumah Desi?"
"Iya Ma, mau sekalian ke rumah Nenek ambil baju seragam aku sama Aldian," uar nya.Mega pun hanya mengangguk.
Setelah makan siang bersama mereka pun pamit pergi, hanya 5 menit mereka pun sampai di depan rumah Desi.
Mereka mengerjakan tugas sekolah mereka dengan semangat dan tak lupa di iringi canda tawa selalu ada saja banyolan dari mulut Kaila membuat mereka terbahak.
jam 8 malam Kaila di jemput oleh Orang tuanya di rumah Desi.
__ADS_1