
Beberapa bulan berlalu..
Icha pun memperhatikan penampilannya di depan kaca yang semakin berisi.
"Apa benar kata tante Nur kalo aku itu gemuk dan gak cantik lagi, apa Aa akan mencari wanita lain di luar sana." batinnya.
Selama hamil Icha masih saja bekerja, Dia baru cuti kemarin di usia kehamilannya yang menginjak 9 bulan.
Icha teringat pertemuan tak sengaja dengan Tante dari suaminya itu, wanita itu sering sekali membuatnya kesal begitu pun waktu itu.
Di acara pertunangan Adit, Nur hadir bersama Nenek Asmar, Dia memperhatikan penampilan Icha yang tampak modis walau pun perut nya terlihat buncit ,sifat Nur masih sama menyebalkan seperti dulu membuat Icha kesal.
"Kamu tahu Cha, temen aku kemarin suaminya selingkuh gara-gara tubuh istrinya gemuk setelah melahirkan, kamu juga harus jaga tubuh kamu Cha agar Abang gak cari wanita lain," ucap Nur tante dari suaminya itu.
"Iya tante tenang saja, aku tahu ko suami ku kaya gimana mungkin banyak laki-laki yang selingkuh dan lain-lain tapi aku yakin suamiku pria yang setia walaupun istrinya gemuk sekali pun," jawabnya tersenyum.
Sedangkan Nur tersenyum kecut, Dia sengaja membuat Icha tidak percaya diri dengan berat badannya yang mulai naik.
"Apa benar yang tante Nur bilang, badanku juga udah naik 5 kilo selama hamil," Ucapnya kini Dia berdiri di depan cermin sambil meneliti badan nya.
Dari dulu Icha mempunyai tubuh yang tinggi kecil dan itu ideal menurut para wanita depan berat badan segitu.
kini Icha tidak percaya diri apalagi celana nya sudah banyak yang tidak muat.
" Sayang kamu kenapa sih Aa bilang salam kok gak jawab," ucap Abang baru saja datang dan memeluk Icha dari belakang mengelus perut buncit nya dan Icha pun tersadar dari lamunanya.
"Isshh Aa mah bikin kaget aja, kapan datang ko tiba-tiba udah di sini?" tanya Icha membalikan tubuhnya menghadap suaminya dan segera mencium tangannya.
"Dari tadi, Aa lihat kamu melamun kamu kenapa cerita ke Aa, apa Dede bayi nya bikin kamu sakit?" ujarnya Dia menuntun istrinya duduk di kasur.
" Engga kok kita baik-baik aja, aku cuma lagi mikirin berat badan aku aja, kaya nya aku gemukan ya?" ucap nya sedikit cemberut membuat Abang gemas.
Dia pun menciumi pipi kiri dan kanan Icha tak lupa mengecup bibir nya.
"Ihh... Aa mah apa-apaan sihh di tanya malah kaya gini jawabnya," Icha pun tambah cemberut.
"Udahlah sayang ngapain juga kamu mikirin berat badan, harus nya kamu bersyukur berat badan kamu naik itu tandanya kamu dan anak kita sehat, udah jangan pernah mikirin omongan orang dan jangan berpikir macam-macam, kamu selalu cantik di mata ku sampai kapanpun kamu cinta pertama dan terakhirku." ucap nya.
"Ahh so sweet banget sih suamiku ini," ucap nya memeluk suaminya itu.
__ADS_1
"Aa tadi beli makanan sebelum pulang, kamu siapin ya nanti Aa nyusul, mau mandi dulu," ujarnya, Icha pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Dia mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua, sambil menunggu suami nya mandi.
30 menit kemudian Abang pun sudah wangi, dan bergabung di meja makan.
.
Keesokan harinya Icha sudah bangun menyiapkan sarapan untuk suaminya itu seperti biasa.
"Sayang dasi aku mana, aku ada metting hari ini," teriaknya dari kamar, Icha pun segera menghampirinya.
"Apa ih teriak-teriak?" tanya nya.
"Dasi aku mana sayang ko aku cari di lemari gak ada," ujarnya.
Icha sudah menyiapkan baju kerja nya di atas kasur lengkap, namun hari ini Dia lupa kalo Abang ada metting.
"Nah nanti cari di sini ya," ucap nya membuka laci, mengambil dasi dalam kotak kecil.
"Aku udah susun sesuai warna, biar gak susah nyari nya," ujar Icha, memaikan sekalian dasi itu.
Cup..
Tak lupa Abang pun menghadiahi nya dengan kecupan di kening juga mencium bibir nya sekilas.
"Udah ihh, ayo sarapan." Ajak Icha bersemu merah wajahnya.
Icha pun menyediakan kopi dan mengambilkan roti bakar untuk suaminya, biasanya mereka sarapan nasi goreng namun Icha tadi bangun kesiangan jadi tidak sempat.
"Sayang kamu jadi ke rumah Ibu?" tanya Abang di sela makannya.
"Jadilah, nanti Ifa yang jemput aku kesini," jawabnya.
"kita nginep di sana aja ya biar sekalian nunggu lahirannya di sana aja takut nya lahiran di sini,"
"Iya aku juga berpikir begitu, di rumah Ibu kan banyak orang," jawabnya.
"Ya sudah Aa berangkat ya, kamu hati-hati kalo ada apa-apa telpon Aa," ujanya dan Icha pun mengangguk.
__ADS_1
Dia mengantarkan suami nya sampai di depan pintu setelah itu Dia bersiap.
"Asamualaikum, teteh..," teriak Ifa di luar rumah.
"Walaikumsalam, " jawab Icha langsung membuka pintu rumah nya.
"Pagi banget jemputnya, gak kuliah kamu?" tanya Icha.
"Tadi habis anterin anak-anak, aku libur hari hari ini gak ada kelas," ujarnya mencium tangan Icha.
"Ya sudah yuk masuk tunggu di dalam aja," ajaknya, Ifa pun mengikutinya dari belakang.
Mereka pun kini di kamar Icha, Ifa duduk di sopa dan sibuk dengan ponselnya, sedangkan Icha masih merapihkan kerudungnya.
"Dek kamu kapan resmiin hubungan kalian, bukanya kamu udah ke rumah nya Rey ya tempo hari, Rey juga udah bilang sama Bapa kalo mau melamar kamu." ujarnya.
"Ahh masih belum kepikiran, lagian aku belum mau tunangan ahh liat Mita juga kasian gak bebas kemana-mana, apalagi Adit sama Rey tuh sama bucin nya," jawab Ifa.
"Ya bagus dong, harus bersyukur kalo ada yang sayang banget sama kita," ucap nya.
"Ahh gak gitu juga dong belum juga jadi suami udah banyak aturan, apa Abang juga gitu sama teteh?" tanyanya.
"Ya sama lah, gak beda jauh tapi dalam suatu hubungan yang paling penting itu kita saling percaya dan komunikasi, itu yang membuat hubungan kita awet," ujarnya.
"Aku juga percaya kok sama Rey, dan kami juga selalu berkomunikasi dan aku juga selalu jujur sama Dia,"
"Bagus kalo gitu, terus apa yang membuat kamu ragu?"
"Gak tahu, aku nunggu kita lulus kuliah dulu ya setidak nya Rey mapan dulu lah biar gak nyusahin orang tuanya," ujarnya.
"Bukannya sekarang juga udah kerja ya, Kita gak tau dek kedepannya gimana, kalo udah nikah kan kamu juga bisa tenang, masih banyak rintangan yang akan kalian hadapi nantinya,"
"Gak tau ah," ujarnya merebahkan tubuhnya di sofa.
"Nikah itu enak loh, gak perlu kerja juga duit mah ngalir tiap bulan mau apa-apa juga bebas," ucap Icha.
"Ah enak gimana, teteh aja sampe bengkak gitu perut nya," jawab Ifa.
"Ahh sialan kamu mah," Ucap Icha terkekeh langsung melempar Ifa dengan bantal sofa
__ADS_1