Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Menginap di rumah mertua


__ADS_3

Seharian ini Icha bersama ibu mertuanya membuat kue di dapur sedangkan Abang duduk di ruang tv sambil bermain dengan Kaila.


"Kalian nginep di sini ya, besok kan hari minggu Abang juga libur. Lagian Adit juga gak ada pasti sepi di rumah." ucap Bunda Cici membujuk menantu kesayangannya itu.


"Icha mah terserah Aa aja, malah Icha seneng kalo di suruh nginep di sini," jawabnya terkekeh.


"Kamu bilang sama Abang nginep di sini gitu, kamu tahu kan kalo Bunda yang nyuruh mana mau Dia, tahu sendiri waktu ke sini 2 minggu lalu di suruh nginep mah gak mau,"


"Oke nanti Icha yang bujuk Aa,"


Icha senang berada di rumah mertuanya itu karna semua pekerjaan di bantu oleh Art, anak nya juga ada yang mengasuh kalo di rumah nya kan pasti cape sendiri.


"Oh iya bun soal Art yang Bunda tawar kan waktu itu apa masih ada?" tanya Icha tiba-tiba.


"Ada cuma gak bisa nginep soal nya suami gak ngizinin," jawab Bunda.


"Gak Papa Bun yang penting bisa bantuin aku jaga Kaila, apa orang nya masih muda?"


"Sepantaran Bunda lah, anak nya juga udah ada yang menikah, Dia baik ko dulu kerja di pabrik Ibu kamu,"


"Masa sih bun, nanti Icha tanya Ibu deh,"


Mereka pun terus bercerita hingga terdengar Kaila nangis.


"Kenapa ko nangis sayang?" tanya Icha melihat bayi nya merengek di gendongan suaminya.


"Laper kaya nya dari tadi gak kamu kasih susu," ucap Abang.


"Uhh sayang anak Bunda laper ya, bentar Bunda cuci tangan dulu yah,"


Setelah cuci tangan Icha pun mengambil alih Kaila dan menggendong nya.


"Aku ke luar dulu ya bun, mungkin Kaila gerah di sini," ujar nya.


"Iya sana dekat kolam ikan aja duduk nya," ujar Bunda dan Icha pun mengangguk.


Setelah Icha keluar, Abang pun ikut mengekor namun Bunda menghentikannya.


"Abang duduk dulu, Bunda mau bicara,"


Abang pun mengurungkan niat nya menyusul Icha ke belakang.


"Kenapa bun?" tanya Abang duduk kembali di kursi makan.


"Apa kamu masih suka lembur di kantor?"

__ADS_1


"Masih, tapi jarang sekarang mah kenapa emang Bun?"


"Bunda liat Icha semakin kurus, apa Dia terlalu cape ngurusin kalian?" tanya Bunda, Abang yang kurang peka tidak pernah memperhatikan Icha secara detail.


"Ah perasaan bunda aja kali, aku liat biasa aja emang badannya dari dulu segitu,"


"Kamu gak ada niat cari Art buat buat bantu-bantu Dia di rumah kasian tahu meskipun anak kalian belum satu tahun tapi Kaila sudah aktip sekali pasti Icha kerepotan dan gak bisa istirahat dengan tenang,"


Abang pun menginat kemarin saat dirinya pulang kerja, Icha sampai ketiduran di karpet saking lelah nya.


"Kan Icha yang dulu bilang gak mau paka Art, tapi kemarin Dia bilang mau cari asal yang sudah tua katanya, gimana menurut bunda?"


"Sebaiknya memang begitu, ada tentangga nya bibi rumah nya tak terlalu jauh dari sini, tapi gak bisa nginep,"


"Ya gak papa Bun yang penting kalo siang aku kerja ada yang bantu Icha,"


"Iya nanti Bunda bicara sama Bibi dan minta no ponselnya sekarang bibi lagi pulang dulu cucu nya masuk rumasakit,"


"Abang mah terserah bunda aja yang pasti secepatnya,"


"Iya."


"Apa Adit sudah memberi kabar, tadi Bunda telpon gak aktip,"


"Syukurlah kalo begitu," ujar Bunda.


Abang pun keluar menyusul istri dan anak nya.


"Sayang," sapa nya.


"Stt.. Dia lagi bobo," ucap Icha.


Emang kebiasaan setalah menyusu Kaila tertidur.


"Pantas saja dari tadi merengek ternyata ngantuk," ucap nya pelan sambil mengusap tangan mungil itu.


"Aku tidurin dulu di kamar ya," ujarnya.


"Ayo tidurin sama Aa aja, kamu lanjut bantu Bunda ya," ujar nya mengambil alih Kaila.


"Oke, awas jangan sampe bangun ya nanti ngamuk lagi,"


"Iya iya," jawabnya membawa Kaila naik ke tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Icha kembali ke dapur, Dia melanjutkan pekerjaannya membantu Bunda Cici.

__ADS_1


"Kaila mau di bawa kemana?" tanya Bunda melihat Abang sekilas mengendong anaknya.


"Tidur mau di bawa ke kamar sekalian katanya Aa juga mau tidur," ucap nya.


"Ahh kebiasaan emang, seharusnya kamu Cha yang istirahat bukan Abang, kamu juga pasti cape kan bangun pagi ngurusin mereka, udah sana kamu ikut tidur bareng mereka ini udah mau selesai ko,"


" Ya udah kalo gitu Icha tinggal ya bun," ucap nya tersenyum.


Jujur saja Icha pun mengantuk, sampai-sampai tadi tidak terasa kalo matanya terpejam saat menyusui Kaila di kursi taman.


.


Di tempat lain Ifa sedang kesal dengan pacarnya itu, acara liburan yang di bayangkan nya akan romantis dan membuat nya heppy bertolak belakang.


"Maafin aku gak jujur sama kamu, aku takut kamu marah," ucap Rey.


"Iya tapi gak gini juga dong, tahu-tahu kalu urus kepimdahan kamu ke sana sama Mama, terus aku di sini gimana?" tanya Ifa.


Kini mereka sudah sampai di Bali, Ifa dan Rey duduk di balkon kamar yang langsung mengarah ke kolam renang.


Mereka menginap di hotel Milik keluarga Mita jadi fasilitas yang tersedia di sana semua mewah.


"Kita kan bisa LDR, sambil nunggu kamu lulus nanti setelah kamu lulus kita nikah dan kamu ikut aku tinggal di sana," ucap Rey.


"Aku gak tahu bisa apa enggak LDR sama kamu, jujur aja aku takut semua gak sesuai sama yang kita inginkan." ucap nya, sambil menatap lurus ke arah kolam renang.


"Kamu harus yakin kita cuma satu tahun LDR, aku juga akan sering-sering ke rumah kamu kalo ada waktu," ucap nya.


"Udah kamu jangan sedih ya, aku akan selalu ada waktu buat kamu, percaya sama aku aku sayang banget sama kamu,"


Rey pun membawa Ifa ke dalam pelukannya terdengar isakan kecil, Rey tahu Ifa pasti sangat sedih dengan keputusan nya.


Namun apa boleh buat, keluarga besar Mamanya ada di sana kasian Ifa kalo harus mengurus dan menjaga Mama nya saat Dia di sana.


"Udah ya, jangan nangis mending kita heppy- heppy bukannya kamu bilang mau jalan-jalan ke pantai liat matahari terbenam?"


"Aku gak mood, males kemana-mana mau di kamar aja," ucap nya masih segukan.


"Ya udah kalo kamu mau di kamar dulu gak papa masih ada waktu besok," ucap nya.


Ifa pun masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Rey yang masih setia duduk di sana.


"Apa gue salah pindah kesana, kenapa Ifa sampe segitu nya sih biasa nya juga kalo di tinggal satu atau dua bulan di luar negri Dia gak marah." gumannya.


Ifa benar-benar sedih sore itu, Dia hanya duduk saja di sofa sambil memainkan ponselnya, Dia tidak ingin kemana-mana.

__ADS_1


__ADS_2