Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Musibah


__ADS_3

Icha pun sudah sampai di rumah nya satu jam yang lalu, dia sudah mandi dan juga rapih.


"Kamu mau kemana?" tanya Abang melihat Icha berjalan ke luar kamar.


"Mau Sholat di musola," jawabnya, memang di rumah itu terdapat musola di belakang rumah yang bersebelahan langsung dengan taman belakang.


"Bareng aja kita berjamaah," ujar Abang, dan Icha pun mengangguk.


Mereka pun berjalan menuju mushola, mereka pun sholat berjamaah di sana.


Seperti biasa Icha mencium tangan suaminya, Abang pun tak kuasa menahan haru dia masih merasa bersalah dengan istrinya itu.


"Maafkan aku," ucap nya sendu.


Icha pun menghela nafas."Sudahlah lupakan saja semua terjadi juga karna aku yang mulai," jawabnya dingin.


Icha pun membuka mukena nya dan berjalan ke dapur untuk memasak makan malam untuk mereka.


"Sayang jangan cuekin aku kaya gitu dong, aku bener-bener nyesel aku janji gak akan ngulangi lagi plis maafin aku," ujarnya memeluk Icha dari belakang.


"Iya iya ayo duduk aku lagi masak nih jangan ganggu ya," jawab Icha sungguh perasaan nya tak karuan


Icha pun membalikan tubuhnya menghadap Abang dan tersenyum manis.


"Sayang YaTuhan kamu tuh memang bidadari surga ku, aku makin love love pokoknya," ujar nya menciumi pipi Icha gemas.


"Udah ayo duduk, Aa pasti laper kan aku denger loh bunyi perut nya, " candanya.


Dan Abang pun tersenyum dia pun duduk memperhatikan Icha yang sudah segar lagi, dia bisa bernafas lega saat melihat Icha tersenyum manis pada nya.


Icha hanya memakai santai celana pendek dan juga kaos strit pendek tak lupa menggulung rambutnya di atas memperlihatkan leler nya yang putih, tak seperti biasa nya dia akan memakai baju longgar.


Biasanya dia akan begitu kalo di rumah, tapi kalo keluar atau ada tamu dia akan menggantinya dengan baju yang sopan.


"Nah sudah jadi ayo makan," ajak nya mengambilkan nasi untuk suaminya dan juga satu mangkok sup.


"Makan yang banyak aku tau Aa pasti kurang makan dan kurang tidur," ucapnya asal, namun itu membuat Abang menyunggungkan senyum nya.


"Yang ada itu kamu yang kurang makan, ayo Aa suapin," ujarnya mengambil satu sendok nasi menyarahkannya ke mulut Icha.


"aaa' ayo makan," ucapnya sedangkan Icha tersenyum dan langsung makan dan mengunyahnya.


"Ayo Aa juga harus makan dong jangan aku aja," ujar nya gantian menyuapi suami nya itu.

__ADS_1


Mereka pun makan malam dengan hangat suasana canggung kini sudah mencair.


.


Di rumah Ifa sedang makan malam bersama orang tuanya.


"Sebenarnya Ibu ada masalah apa sih, aku lihat Ibu banyak melamun?" tanya Ifa hati-hati.


Orang tuanya hanya saling melirik, membuat Ifa tambah penasaran.


"Kakak kamu Aulia kecelakaan pesawat kemarin bersama suaminya dan mereka masih belum di temukan," ucap Ibu berkaca-kaca tak kuasa menahan tangis.


Sedangkan Ifa nampak syok mendengar nya dia pun tak sengaja menjatuhkan sendok nya ke lantai.


"Saat Icha menikah mereka sedang di luar negri menyelesaikan bisnis nya yang sedang dalam masalah, mereka janji akan pulang setelah urusan mereka selesai namun semua tidak sesuai dengan harapan," ucap Pa Harun sesekali mengusap pundah bu Yani yang bergetar menahan tangis.


"Kini kita masih menunggu kabar semoga saja ada keajaiban," lanjut nya.


"Bagai mana dengan Naura dan Nabila mereka masih kecil? padahal aku udah kangen banget sam teteh ko malah jadi kaya gini," ucap Ifa tak kuasa menahan tangis nya.


Ifa menangis sambil menutup mata nya dengan kedua tangan nya bagaimana dengan keponakan nya mereka masih kecil yang satu kelas 3 Sd dan yang kedua kelas 1 Smp.


"Mereka sekarang bersama oma nya, besok kita jemput mereka karna oma nya juga sakit-sakitan kasian kalo harus ngurus mereka berdua, jangan menangis kamu do'akan saja yang terbaik dan jangan kasih tau Icha takut nya menggangu liburan mereka," ucap Pa Harun menenangkan nya dan Ifa pun mengangguk.


Hingga beberapa kali ponselnya berdering pun Ifa tak menangkatnya, karna perasaan nya sedang tak karuan.


"Kenapa jadi begini? bagaimana dengan keponakanku apa yang mereka rasakan sekarang," gumannya.


Ifa pun merebahkan tubuhnya setelah cape menangis dan dia pun akhit nya terlelap.


Saat sudah terlelap Ifa harus terbangun karna dering ponselnya yang terus berulang namun dia hanya membiarkan nya saja tanpa mengangkat.


Namun saat ponselnya berhanti berbunyi Ifa menajamkan telinganya saat mendengar ketukan di jendelanya.


Tok


tok


Suara jendela kamar di ketuk Ifa pun bangun dari tidur nya penasaran apa itu yang berbunyi.


Dia pun mendekat ke arah jendela dan sedikit membuka tirai namun tidak ada siapa-siapa Ifa pun penasaran namun sedikit takut.


"Aneh, tapi apa yang bunyi?" Ifa pun heran dan kembali naik ke atas kasur.

__ADS_1


Dengan kesal dia mengambil ponselnya yang terus berdering di atas nakas.


Rey Calling...


"Hallo Rey... "


"Buka jendela aku kedinginan," ujarnya di sebrang sana.


"Hah apa?"


Ifa pun langsung mematikan ponselnya dan segera melihat ke arah jendela.


"YaTuhan apa yang dia lakukan?" gerutu nya kesal, apa-apaan pria ini apa sudah gila.


Ifa pun membuka pintu balkon nya dan benar saja Rey sudah berdiri membelakanginya.


Ifa pun melirik kanan kiri takut nya ada yang melihat mereka dia langsung menarik tangan Rey masuk ke dalam kamarnya serta menutup lagi pintu nya.


"Kamu tuh apa-apaan sih kenapa pake manjat segala kalo jatuh gimana,kenapa gak jalan ke depan aja kaya gak ada pintu aja," gerutunya kesal.


"Kamu liat nih jam berapa? malu tau masa bertamu malam-malam gini bisa di marahin Bapa mu tau," ucap nya menunjuk jam dinding sudah jam 11 malam.


Ifa yang mendengar hal itu pun nampak diam pantas saja di luar sudah sepi.


"Ngapain coba kesini malam-malam gak ada hari esok apa, gimana kalo ada satpam yang liat kan bahaya?" Ifa pun mulai kesal.


"Kamu gak kangen sama aku? berapa hari gak ketemu makin galak aja," ujarnya terkekeh melihat Ifa yang berantakan.


Bagaimana tidak rambut yang biasa nya di ikat kini terurai acak-acakan bahkan terlihat muka bantal nya.


Rey pun membuka jaket dan sepatunya melempar jaket nya ke sofa dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Ifa.


"Eh ngapain coba tidur di sini pulang sana kira-kira aja dong aku kan perempuan masa iya kamu tidur di sini," ucap Ifa memukul Rey dengan guling.


"Sttt.. diam nanti orang tua kamu bangun, udah tidur aja aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok ayo sini," ucapnya menempelkan jari nya di mulut Ifa.


"Gak mau yang benar aja kamu kan laki-laki normal mana bisa tidur berengan kita bukan suami istri ayo pulang sana," pinta nya kekeh.


"Udah diem aku ngantuk mau tidur," ucapnya sambil memejam kan mata nya sedangkan Ifa terus menggerutu melihat Rey yang sudah terlelap.


"Gimana dong gue gak mungkin tidur di sini, sofa nya terlalu kecil mana muat lagian kenapa sih dia pake nginep di sini," gerutu nya kesal.


Ifa pun naik ke atas kasur dan menghalang dengan bantal di tengah-tengah mereka, tak lama kemudian dia pun ikut terlelap .

__ADS_1


__ADS_2