
Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Kaila dan ada juga serangkaian pemeriksaan seluruh tubuh nya, memanf benar luka memar di punggung nya terlihat membiru dan lebih banyak dari hari -hari sebelum nya.
"Gimana dok apa gak ada luka yang serius?" tanya Revan cemas, dia tidak bisa tenang sebelum dokter mengatakan sesuatu.
Revan benar-benar gak tahu kalo nanti Kaila kenapa-napa pasti dia akan sangat terpukul, dia gagal menjaga istrinya.
"Seperti nya tidak ada tapi kita bisa cek di leb biar jelas," ujar nya, membuat Revan sedikit bisa bernafas lega.
"Terus gimana sama mual-mual nya dok saya bingung apa itu karna efek dari pukulan atau apa?"
"Sepertinya bukan dan sebaik nya istri anda di periksa oleh Dokter Obgyn," ucap nya membuat Revan bingung namun Kaila yang mendengar itu pun melebarkan matanya dia ingat kalo sudah hampir satu bulan ini dia tidak datang bulan.
Tapi bagaimana kalo dia hamil umurnnya pun masih muda baru juga mau 20 tahun, apa dia akan sanggup merawat anak nya apa dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya astaga hanya menebak-nebak saja Kaila sudah kelimpungan.
Tapi setahu nya Revan melakukan itu selalu aman pake pengamanan, namun Kaila baru ingat pernah melakukan itu dan lupa memakai itu apa sekali saja itu bisa langsung jadi pikir nya.
Revan merasakan kebagiaan yang luar biasa dalam dirinya apa mungkin istrinya hamil sehingga harus di periksa oleh Dokter Obgyn.
"Maksud dokter istri saya hamil?" tanya Revan.
"Itu baru perkiraan saja, makanya saya menyarankan anda memeriksa nya kesana semoga saja apa yang saya duga itu benar," ucap Dokter paruh baya itu yang bernama Dokter Sentoso.
"Baiklah dok terima kasih banyak," ucap nya dan dokter pun pamit.
Suster pun sudah membuka infus di tangan Kaila karna nanti sore pun Kaila bisa pulang karna kondisi nya sudah membaik.
Setelah kepergian Dokter itu Revan duduk kembali di sebelah istrinya.
"Sayang kamu gak papa kan?" tanya Revan dia khawatir melihat Kaila nampak diam.
"Sayang.."
"Hey sayang," ucap Revan menggenggam tangan Kaila dan sedikit meremasnya.
Kaila pun tersedar dari lamunan nya belum lalu dia menggelengkan kepalanya belum tentu juga kan kalo dia hamil.
"Iya Mas ada apa?" jawabnya sedikit gugup.
"Kamu kenapa kok malah melamun? apa yang kamu pikirkan sayang?"
Kaila hanya menggelengkan kepalanya dia benar-benar tidak tahu apa yang harus di katakan.
"Kita periksa ke Obgyn ya sayang aku penasaran apa yang tadi dokter katakan," ucap Revan dan Kaila pun menganggukan kepalanya.
Mereka pun keluar dari ruang rawat menuju ruang Dokter Obgyn yang ada di lantai tiga mereka harus naik lift agar bisa sampai ke sana.
Kaila harus memakai kursi roda karna Revan tidak mau istri nya kenapa-napa.
__ADS_1
Sesampainya di sana mereka langsung di sambut oleh seorang Dokter wanita paruh baya.
"Selamat siang.Bapak,Ibu." sapaan asiten dokter saat membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat siang," jawab mereka langsung masuk.
"Silahkan duduk," ucap Dokter itu tersenyum mereka pun duduk di depan Dokter Anisa nama yang tertera di baju nya.
"Ada keluhan,Bu?" tanya dokter itu alih-alih bertanya mau apa malah Dokter itu sudah langung bisa menebak.
"Istri saya mual-mual dok dan tadi Dokter Santoso yang menyarankan kami datang kesini," jawab Revan.
Dokter itu mengangguk."Ya sudah kita Usg dulu yuk biar lebih jelas.Mari," ucap nya langsung berdiri menyimbak tirai besar yang ternyata tempat pemeriksaan.
Disana sudah ada kasur dan seperangkat peralatan lain nya yang berhubungan dengan alat USG, Kaila yang melihat itu pun nampak gugup dan meremas tangan suami nya.
Revan sangat tahu kalo istri nya pasti sedang tidak baik-baik saja, dia pun mengusap punggung nya pelan untuk memberikan sedikit ketenangan.
Asisten dokter itu membantu Kaila naik ke atas bad dan membuka baju nya karna Kaila memakai baju pasien itu memudahkan untuk dibuka.
Kaila dan Revan saling pandang, dia tahu pasti istrinya malu dan Revan hanya tersenyum kecil.
Kaila pasti kaget melihat baju nya terbuka, namun akhirnya dia mengerti kalo dia harus menunjukan perut nya untuk di periksa.
Asisten dokter itu mengoleskan gel di atas perut Kaila, membuat sang empu nya merasa geli apalagi suami nya sedari tadi memperhatikan nya.
"Masih ingat terakhir kali datang bulan?" tanya Dokter Anisa sambil mengambil alat yang sudah terhubung dengan layar komputer di samping Kaila.
"Udah telat satu bulan, jadi terakhir saya datang bulan itu bulan lalu," ujar nya gugup.
Dokter itu pun tersenyum dan memperlihat kan gambar titik-titik di layar ternyata benar dugaan nya.
"Kalian bisa lihat di kantong ini ada dua titik dan ini calon bayi kalian," ucap dokter itu menjelaskan.
Kaila dan Revan masih diam dan saling menatap satu sama lain namun rasa bahagia benar-benar di rasakan oleh mereka.
"Dan nah kalian bisa mendengar ini," ucap dokter yang sedari tadi menekan perut Kaila.
Dug dug.. dug dug.. dug dug..
dug dug.. dug dug.. dug dug..
"Kalian bisa dengar itu adalah detak jantung nya dan kedengaran teratur berarti anak-anak kalian sehat," ucap Dokter itu.
Revan tidak menyangka kalo dia akan secepat itu menjadi seorang Ayah.
"Jadi istri saya benar-benar hamil dok, tapi saya belum mengerti maksud nya kok anak-anak dok?"
__ADS_1
Dokter Anisa pun tersenyum."Benar sekali Pak istri anda sedang mengandung dan bayi nya kembar perkiraan nya sudah sekitar 8 minggu, selamat ya," ucap nya.
"Apa kembar?"
"Iya Pak selamat sekali lagi," ucap dokter itu tersenyum sedangkan Revan nampak diam dia benar-benar tidak menyangka kalo bayinya kembar.
Kaila pun berkaca-kaca mendengar nya dia benar-benar hamil lalu bagaimana dengan kuliah nya? apalagi bukan satu tapi dua.
Pemeriksaan pun selesai Kaila sudah kembali mengancingkan baju nya, dia langsung bangun di bantu oleh suster.
Mereka pun duduk di depan Dokter Anisa dan Dokter itu memberikan resep obat dan Vitamin yang harus di tebus.
"Gak boleh kecapean ya Bu karna kandungan nya masih lemah, dan jangan banyak pikiran karna stres pun bisa mempengaruhi kandungan."
"Iya Dok terimakasih banyak," ucap Revan menjabat tangan Dokter Anisa begitu juga dengan Kaila.
Mereka pun kembali ke ruang rawat ternyata di sana sudah ada Cerry yang menunggu mereka di luar ruang rawat Kaila.
"Dari mana sih kalian orang sakit malah keluyuran," ucap nya kesal karna dia sudah menunggu satu jam di sana.
Mungkin saat Revan dan Kaila keluar Cerry datang jadi dia menunggu di sana selama Kaila di periksa Dokter Obgyn.
"Sorry tadi kita lupa ngasih tahu kalo kita harus periksa dulu ke raung dokter Obgyn," ucap Kaila merasa tidak enak.
Cerry pun mencerna apa yang Kaila katakan."Kenapa loe malah periksa di sana? ehh tunggu-tunggu apa jangan-jangan loe hamil?" tanya Cerry berbinar.
Dan Kaila pun menganggukan kepala nya."Astaga gue seneng banget dengar nya," ujar Cerry memeluk sahabat nya itu.
Kaila pun duduk bersandar di ranjang dia sedang makan siang, dia benar-benat sangat lahap sekali.
"Apa Kaila gak makan dari kemarin, di lahap banget padahal di gak terlalu suka sama makanan padang," ujar nya mengingta kalo Kaila lebih suka masakan sunda.
"Mungkin bawaan bayi-bayi nya Cerr udah biarin aja kasihan kan anak gue kelaperan," ucap nya dan Cerry pun mengangguk lalu melebarkan matanya baru ngeh apa yang Revan katakan.
"Anak-anak? apa Kaila hamil kembar?"
"Iya kembar, do'akan saja semoga anak-anak gue dan Kaila selalu sehat," ujar nya.
"Gue seneng banget denger nya," ucap Cerry.
Setelah selesai makan Kaila pun minum obat dan istirahat lagi mungkin karna efek obat dia langsung tertidur.
Sedangkan Cerry harus segera pulang karna ada keperluan dia mengambil kunci mobil yang di pinjam Kaila kemarin.
"Ya sudah gue cabut ya semoga cepat sembuh," ujar Cerry.
"Iya makasih banyak sorry mobil loe masih di sana, gue benar-benar lupa," ucap nya.
__ADS_1
"Gak masalah," jawab nya menghilang di balik pintu.