
Setelah acara siraman yang di lalui nya, Icha pun masuk kedalam kamarnya.
Di kediaman Abang pun terjadi acara serupa, dan telah selesai Abang kembali ke kamar nya membersihkan diri, suara ketukan pintu pun terdengar oleh nya.
" Masuk Bun, gak di kunci, " Teriaknya baru saja memakai baju dan celananya.
"Apa kau sudah selesai menganti bajumu? " Ujar Bu Asmar membuka pintu kamar.
"Nenek? ada apa? sepertinya ada yang penting, " Ujarnya, seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Duduk sini ada yang mau Nenek katakan," Abang pun ikut duduk di kasur di samping Neneknya.
"Berikan ini kepada Icha, ini hadiah pernikahan untuknya, maaf kan Nenek yang tidak mengenal nya terlebih dahulu, tapi Nenek yakin Dia wanita yang baik untuk menjadi ibu dari anak-anak mu, nenek bahagia dan merestui kalian, " Nenek nya memberikan satu set perhiasan turun temurun dari orang tuanya.
Abang pun memeluk haru Nenek nya itu , dia sangat bahagia mendengarnya.
"Terimakasih Nek, aku senang sekali mendengarnya, maafkan aku yang selalu curiga padamu, " Ujarnya, setelah mendengar percakapan Neneknya dan Nur yang tak menyukai Icha , Abang mengurungkan niatnya mempertemukan mereka karna takut terjadi hal yang tak di inginkan.
"Maafkan Nenek, selama ini sudah salah sangka terhadap calon istrimu, Nenek menyesal karna sudah bersikap sepeti itu ," Nenek pun menunduk, tak kuasa menahan air matanya, andai saja Nur tidak menjelek-jelekannya dan mempengaruhinya mungkin Nenek dari dulu sudah menerima Icha sebagai cucu mantu nya.
"Sudahlah Nenek jangan seperti ini, Abang juga minta maaf ya, suka bikin Nenek kesal, " Ujarnya tersenyum.
Setelah lama berbincang, Mereka pun kini sudah berada di ruang makan.
"Bang, kamu jangan kemana-mana malam ini kamu harus istirahat, kalo ada teman-teman mu yang ngajak keluar suruh saja mereka ke sini, sekalian suruh mereka menginap, " Ucap Pa Edi.
"Baik, Ayah tenang saja, " Jawabnya, sedangkan Bunda Cici hanya tersenyum.
__ADS_1
"Nur dan Adit kemana kok gak kelihatan, apa mereka tidak makan malam bersama kita? " Ujar Pa Edi, melilik kursi yang kosong.
"Adit ada perlu, Dia tadi izin keluar sebentar bersama Sandy, kalo Nur Bunda gak tau, " Ucap Bunda, melirik Abang yang mengangkat bahunya.
"Nur di kamar katanya gak enak badan, " Ujar Nenek Asmar.
Sungguh Dia tidak sengaja, membentak Nur tadi siang karna terlalu emosi , Nenek sungguh tidak menyangka kalo Nur akan mencelakai Icha dengan cara seperti itu.
"Ya sudah, biar nanti Cici liat mungkin Dia butuh sesuatu, " Ujar Bunda, dan mereka pun mengangguk.
Setelah selesai makan mereka berbincang untuk acara besok pagi, acara akad nikah akan di mulai jam 9 pagi ,setelah serangkaian upacara adat sunda.
"Abang ada tamu tuh di depan, " Ujar Bunda yang tak sengaja mendengar bel berbunyi, dan benar saja saat ke depan Bibi sudah membuka pintu.
"Siapa? Ya sudah Abang ke depan dulu ya, " pamitnya, Abang pun menghampiri ke tiga temannya itu.
"Hallo Bro apa kabar?" Ujar Boy memberikan beberapa kotak martabak, Boy datang bersama Iqbal dan Fazar.
Mereka pun langsung masuk ke kamar Abang setelah bertegur sapa dengan orang tuanya Abang, sedangkan Nenek Asmar sudah masuk ke dalam kamarnya.
Kini mereka duduk di balkon kamar Abang yang langsung menghadap ke balkon kamar Icha.
"Tumben loe bisa keluar Bal? gak takut bini loe marah? " Ucap Abang.
"Dia malah seneng, tuh liat mereka masih pada ramai dikamar di kamar Icha, malah Dia minta nginep di sana," Ujarnya menunjuk kamar Icha yang masih menyala lampunya.
"Gila pantas saja loe gak bisa move on , deket gini keliatan jelas dari sini, " Ucap Boy sedangkan Iqbal hanya menggeleng sebari mengambil minuman kaleng di atas meja.
__ADS_1
"Ya begitulah, loe tau kan cinta pertama gue itu Icha, dari kecil gue selalu berharap kalo Dia bakal jadi jodoh gue, walau pun begitu banyak cobaan yang harus gue tempuh, untung saja gue gerak cepet kalo engga bisa patah hati gue, apalagi mantan nya Icha pada tajir semua, " Ujarnya.
"Loe tau mantannya Icha? " Ujar Boy .
"Tau, malah gue sempet kesel masa datang -datang langsung peluk aja, udah pengen mukul aja nih tangan, " ujarnya mengingat pertemuannya dengan Rama beberapa bulan lalu.
"Ah loe aja yang baper, waktu itu gue yang kena tepukan Kak Rama, gila sakit banget bro Dia kira gue yang pacarnya Icha" Timpal Iqbal.
"Wow kok bisa kaya gitu? apa jangan-jangan loe ada main lagi sama Icha? " Selidik Boy sambil memencingkan matanya.
"Ckk.. kira-kira dong loe jangan manas-manasin gue emang dari dulu suka sama Icha malah gue berharap jadi pacarnya, tapi gue kasian sama Dia jomlo terus, " Ujar Iqbal terbahak.
"Ahh bisa aja loe, siapa juga yang jomlo, gue banyak yang suka kali, Iya gak Boy? "
"Ya begitulah, tapi yang ada di hati hanya Icha seorang , liat aja dinding kamar nya udah kaya cewek aja pasang poto Icha banyak banget, " Jawabnya terkekeh sambil menggelengkan kepala, sedangkan yang lain hanya tertawa.
"Zar loe ko diem aja? apa lagi ada masalah loe? gimana loe udah ketemu sama cewek yang bikin hati loe klepek-klepek itu? " Tanya Abang, meskipun Fazar berbeda 2 taun di bawah mereka tapi Dia dewasa.
"Dah lupa gue, lagian gue juga gak berharap lebih itu cuma masalalu, " Jawabnya tertunduk lesu.
"Sabar Bro, jodoh gak akan kemana lagian kaya apa sih cewek itu sehingga loe gak mau punya cewek sampe sekarang,? "
"Andai loe tau kalo cewek yang gue suka itu calon bini loe, apa yang akan loe lakuin sama gue? batinya.
Fazar pun hanya mengangkat bahu, Dia tidak ingin ada yang tau kalo cewek yang selama ini Dia suka adalah Icha, pertemuan nya satu tahun yang lalu di stasiun tidak dapat Dia lupakan.
Saat itu Dia baru saja bekerja di Disto nya Abang, Dia bekarja sambil kuliah.
__ADS_1
"Ya udah sekarang kita heppy, loe gak usah galau Bro nanti gue kenalin sama temen-temen cewek gue, " Ucap Boy, namun Fazar hanya tersenyum kecut.
Mereka pun begadang hingga larut malam, Iqbal dan yang lain memutuskan menginap di sana ,walau pun Iqbal baru saja mengenal mereka tapi mereka orang nya tidak kaku dan pada asyik di ajak becanda .