
Icha sudah 3 hari menginap di rumah orang tuanya, Dia sangat senang menunggu kelahiran putri pertamanya.
Saat Usg ternyata bayi yang Icha kandung berjenis kelamin perempuan, pantas saja selama hamil Dia selalu rapi dan juga sering berdandan, berbeda dengan sahabatnya yang hamil anak laki-laki.
Mega dan Iqbal di karuniai anak laki-laki yang sudah lahir 2 bulan yang lalu.
"Semoga cepat lahir ya Dek, ibu udah gak sabar," gumannya mengusap perut buncit nya sambil tersenyum.
"Sayang lagi apa, Aa ucap salam ko gal di jawab, " Ucap Abang yang baru saja pulang kerja.
"Ya Tuhan maaf, aku terlalu bahagia mengajak nya bicara," tunjuknya pada perut.
"Kenapa apa udah terasa sakit?" Tanya Abang mengelus perut Icha dengan lembut.
"Belum tapi udah gak sabar nunggu, Aa mau mandi sekarang, biar aku siapin air hangat?" tanya Icha.
Selama ini Icha yang menyiapkan kebutuhan suamiya, walau pun sedang hil tapi Dia merasa senang bisa mengurus suaminya itu.
"Kamu duduk aja sayang, Aa mau mandi pake air dingin aja," ucap nya mencium kening Icha dengan sayang.
"Ayah mandi dulu ya sayang, jangan bikin Ibu susah ya kami menyayangimu," ucap nya bejongkok mencium perut buncit itu.
Setelah itu Dia masuk ke dalam kamar mandi.
Icha melangkah mengambil pakaian ganti untuk suaminya, namun Dia menghentikan langkahnya saat merasakan sakit dalam perut nya.
"aww ko sakit bangett, " gumannya memegang kursi rias yang tak jauh dari nya berdiri.
Rasa sakit itu menghilang, Icha pun melanjutkan aktivitasnya
"ternyata kontraksi palsu."
Dia pun menyimpan pakaian Abang di atas kasur, setelah itu keluar kamar untuk menyiapkan makan malam untuk suaminya, karna beberapa hari ini suaminya sering lembur jadi tidak bisa makan bersama keluarga istrinya.
"kamu sedang apa?" tanya Ibunya yang melihat Icha ada di dapur.
"Ini aku mau nyiapin makan malam untuk Abang," jawabnya.
"Kamu duduk aja biar Ibu yang siapin, "
"Gak papa bu, Icha masih bisa kok Ibu tenang saja ya," ucap nya menyiapkan makanan di atas meja.
Ibunya pun menemai nya sampai Abang datang.
"Malam bu, mari kita makan malam bersama," ucap Abang.
"Ibu sudah makan, kalian makanlah ,Ya sudah ibu kembali ke kamar ya," ucap nya.
Icha pun menggangguk, Dia melayani suami nya seperti biasa.
__ADS_1
"Sayang biar Aa ambil sendiri ya, kamu makan yang banyak," Kini Abang yang mengambilkan untuk istrinya itu tak lupa menyuapinya.
"Hmm.. tumben, pasti ada maunya," ucap Icha melihat suaminya perhatian.
"Ya Tuhan sayang, kamu mah suka kaya gitu ya kalo Aa perhatian sama kamu," ujarnya.
"Ya siapa tahu,"
"Udah jangan banyak ngomong ayo makan yang banyak,"
Icha pun menerima setiap suapan yang suaminya berikan, Biasanya Dia selalu menolak kalo Abang menyuapinya namun malam ini entah kenapa Dia malas berdebat apalagi di rumah orang tuannya.
"Aku udah kenyang, giliran Aa yang makan," Dia mengambilkan Satu piring nasi beserta lauknya.
"Nah Aa makan ya, aku nunggu sampe. Aa selesai makan,"
Abang pun makan dengan lahap, sambil memperhatikan istrinya yang sedang mengupas apel yang sesekali berhenti.
" mKamu kenapa sayang, apa ada yang sakit?" tanya Abang.
" Gak ko A, aku gak papa," Bohongnya, Icha tersenyum menahan sakit di perutnya, yang datang dan pergi secara tiba-tiba.
"Ya Udah sini biar Aa aja yang lanjutin ngupas apel nya,"
Abang pun dengan telaten mengupas Apel dan memotong dadu meletakannya di atas piring.
"Ayo makan bukannya kamu mau ini," ucapnya, namun Icha malah menggeleng.
" Gak papa ko, aku cuma mau istirahat saja kepala ku sedikit pusing,"
Jujur saja dari tadi Dia menahan sakit perut nya yang sedentar datang terus pergi .
"Ya sudah ayo kita ke kamar," Ajaknya.
Selama menginap mereka menempati kamar tahu atas bujukan orang tua Icha, itu cara berjaga-jaga agar nanti kalo perut Icha mules akan mudah tidak perlu turun tangga.
Kamar Icha ada di lantai dua, itu membutuhkan waktu lama bila sedang darurat.
Mereka pun sudah sampai di kamar, Icha langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"Mau ke dokter aja periksa takut nya kenapa-napa?" tanya Abang yang melihat Icha memejamkan matanya.
"Gak usah, aku gak papa ko sini Aa duduk sebelah aku," ujarnya.
Abang pun naik ke kasur dan duduk di sebelah istrinya yang sudah terbaring.
"Aa pijitin mau?" tanya Abang, namun Icha menggeleng Dia malah mengubah posisi tidur nya menghadap Abang.
"Aa kalo suatu saat nanti aku gak ada, aku titip anak kita ya," ucap nya tiba-tiba membuat Abang kaget dan membaringkan tubuhnya di samping Icha.
__ADS_1
"Sayang kamu ngomong apa sih, jangan pernah bicara yang tidak-tidak," ucapnya mengecup kening Icha juga kedua pipi nya.
"Seandainya nanti atau kapanpun itu, kita gak tahu kan umur kita sampai kapan," Ujarnya.
"Aa gak mau kamu ngomong kaya gitu, kita akan sama-sama selamanya sampai maut memisahkan, kamu jangan berpikir macam-macam kamu dan bayi kita akan selamat." ujarnya.
Abang tahu Icha pasti kepikiran dengan kelahiran anaknya, apalagi Icha sering mendengar banyak wanita yang tak kuat dan meninggal sesudah melahirkan.
"Aku takut," lirihnya meneteskan airmata.
"Sayang sini liat, kan ada Aa yang selalu ada buat kamu jangan gitu ya semua akan baik -baik saja," Ujarnya mengelus rambut Icha sayang dan membawa dalam pelukannya.
Icha pun masih terisak membuat baju Abang basah, namun Abang membiarkan istrinya itu.
"Tidur ya sudah malam, Aa akan jagain kamu,"
Tak lama kemudian Icha pun tertidur, setelah melihat istrinya tidur Dia pun merentangkan tubuhnya menatap langit kamar.
Jujur Dia juga sama takut nya, apalagi ini adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua, Dia takut Icha dan bayinya kenapa-napa.
"Ya Tuhan lindungilah mereka, berikan Icha kekekuatan dan kesehatan sampai nanti." gumannya.
Setelah itu Abang pun ikut memejamkan matanya, namun baru saja satu jam tertidur Dia merasakan Icha gelisah dalam tidurnya, Dia pun terbangun.
Benar saja Icha meracau dan berkeringat.
"Sayang kamu kenapa, apa sudah waktunya?"
" Aku gak tahu tapi perut aku sakit, sekarang sakit nya tambah lama gak kaya tadi," ucapnya meringis.
"Apa... jadi dari tadi kamu udah nahan sakit?" Icha pun mengangguk.
"Maaf.. " jawabnya
"Duduk di sini bentar, Aa bangunin Ibu dulu," ujarnya.
Setelah membantu Icha duduk Dia bergegas keluar kamar, suasana rumah sudah gelap dan sepi karna sudah tengah malai.
tok.. tok.. tok..
Abang pun mengetuk pintu."Bu, Pa, tolong Icha mau melahirkan," ucap nya di depan pintu.
Ibu yang sudah terlelap pun terbangun mendengar suara pintu di ketuk.
"Pa bangun, kaya nya Abang gedor-gedor pintu ada apa ya?" ucap Ibu bergegas bangun,Pa Harun pun ikut bangun.
"Ada apa nak?" tanya Ibu saat membuka pintu.
"Itu bu..
__ADS_1
"Itu apa?"