
Hari berganti hari tak terasa waktu penikahan Icha tinggal 3 hari lagi, di rumah nya sudah ramai dengan saudara termasuk Bude,Febri dan juga Nadia,meteka datang tadi malam.
Setelah sarapan mereka kini sedang berbincang di ruang tamu membahas acara .
Sedangkan di halaman rumah sudah di hias sedemikian rupa untuk acara pengajian nanti sore, dan juga siraman besok pagi.
"Kamu siap-siap nanti sore kita akan mengadakan pengajian, dan besok pagi acara siraman, walau pun tidak memakai adat jawa, tapi adat sunda juga sama masih memakai tradisi, " Ujar Bude.
"Benar Mba Yu, karna kami sudah lama di sini jadi kami memakai tradisi seperti di sini saja, biar tidak repot, kalo resepsi akan berkonsep modern saja tapi Icha juga menyelipkan satu baju minang di akhir acara, " Ujar Ibu Yani, Dia membebaskan anak-anak nya yang memilih konsep.
"Kasian Icha harus memakai suntiang gadang itu kan berat ,"Ucap Bude.
"Iya maka dari itu Icha akan memakainya di akhir acara, paling satu jam lah, itu pun hanya untuk poto saja, "
"Abang juga nyaranin,udah gak usah pake baju minang gitu, tapi aku yang maksa, aku menghargai adat nya, " Ucap Icha.
"Ya kalo itu mau kamu, apa boleh buat, eh Ifa kemana? ko gak kelihatan dari dari, "Ujar Bude, karna sedari tadi belum bertemu.
"Oh itu Ifa lagi ke Butiq nya tante Fatma bersama Mita, tadi Icha yang suruh ambil baju buat para saudara, "Ujarnya,Icha sangat sibut sehingga meminta bantuan adiknya itu.
"Enin kapan ke sini nya? Bude sudah lama tidak bertemu, " Karna waktu Febri menikah Enin dan juga Bi Asih tidak bisa hadir.
"Mungkin besok bersama yang lain,Teh Irma juga belum ke sini katanya sibuk, Mas Hermawan nya sibuk katanya lembur terus jadi gak bisa kesini lebih awal,sedangkan Ka Lia akan ke sini besok sore, "Ujarnya, Icha ingin kedua kakak nya ikut merasakan kebahagiaannya.
Pada saat resepsi pernikahan Irma pun kakak nya itu tidak hadir karna sedang berduka,mudah-mudahan saja sekarang di hari bahagia Icha, kakaknya itu bisa hadir.
"Kak Nadia dan Mas Febri mau menginap dimana? Tadi Iqbal nanyain kalian, "Ujarnya, karna saat mendengar mereka datang hari ini Iqbal terus menenyakan kabar kepada Icha.
"Kalo kakak sih terserah Mas Febri aja, "Jawabnya, karna Nadia merasa segan untuk protes.
"Kita nginap di Rumah Iqbal saja, mereka kan cuma berdua, jarang-jarang kan kita ke sini ngerecokin mereka, "Ujarnya terkekeh, Dia sangat tau bagaimana Iqbal dulu saat mereka pengantin baru selalu mengganggu kemesraan mereka.
Tak berselang lama Irma pun datang bersama bi Ifah, juga bayi mungilnya.
"Asalamualaikum, " Ujar nya, mereka yang sedang berbincang pun menoleh.
"Aduh cucu Nenek sama siapa kesini? katanya besok ke sini nya?" Bu Yani pun segera mengambil dede Haikal dari gendongan Bi Ifah.
"Kita cuma bertiga Irma yang bawa mobil Bu, Mas Awan nanti nyusul pulang kerja sekalian pengajian, "Jawabnya, Irma pun menyalami Ibu nya juga Bude dan sepupu nya.
"Bude kapan datang? yang lama atuh di Bandungnya nginep dulu di rumah Irma ya, jangan dulu pulang, " Rayu nya lantas Irma pun memeluk erat Bude nya itu sedangakan yang lain berebut bayi mungil itu.
"Iya nanti Bude nginep di rumah mu, Bude kangen bayi gemoy itu, " Jawabnya,Irma pun tersenyum.
__ADS_1
Selama satu minggu ini Icha di pingit, tidak boleh bertemu apalagi berkomunikasi, itu semua demi kebaikan mereka,karna tradisi masih harus di jalankan.
Baru juga beberapa hari Abang sudah merasakan rindu yang mendalam, karna tidak bisa melihat kekasih hatinya.
"Dari tadi mondar-mandir terus kaya ayam mau bertelur, "ucap Nenek Asmar menggelengkan kepala melihat cucunya itu.
Abang pun hanya tersenyum tanpa menjawab lantas Dia masuk ke dalam kamarnya.
"Heran anak zaman sekarang di tanya bukannya jawab malah kabur, "Ujarnya sambil menggelengkan kepala lantas Dia pun masuk ke dalam kamar Nur.
Bunda Cici pun hanya memperhatikan nya, Di tidak habis pikir dengan mertuanya itu, selalu saja marah-marah karna masalah sepele.
"Kenapa Bun? " Tanya Adit yang akan berangkat kuliah.
"Ah gak papa lupain aja, kamu masuk kuliah siang? " Karna biasanya Adit selalu berangkat pagi.
"Iya Bun, Adit berangkat ya, " Ujarnya mencium tangan Bundannya.
"Hati-hati di jalan jangan ngebut, " Walau pun Adit punya mobil sendiri tapi Dia lebih suka memakai motor sportnya.
Nenek Asmar sedang duduk sofa,hari ini Nur tidak ada kelas.
"Ada apa sih Bu pagi-pagi udah gelisah aja? " Tanya Nya sambil mengeringkan rambutnya.
"Aku juga udah nyuruh orang tapi Dia kan gak keluar rumah Bu, nanti aku cari cara ya Ibu tenang aja, " Jawabnya.
"Aku mau keluar sebentar, nanti aku kasih tau kalo ada kesempatan, " Ujarnya sudah siap pergi, dan Nenek Asmar pun mengangguk.
Sedangakan Ifa dan Mita sudah kembali dari Butiq, mereka membawa beberapa tumpukan batik untuk para saudara laki-laki dan baju kebaya modern untuk perempuan.
"Teh ,kata Mama ini sudah semua kalo ada yang kurang Teteh tanyain ke Mama ya ,Mita ada perlu dulu nanti ke sini lagi, " Ujar Mita langsung pamit .
"Oke siap,inanti teteh cek lagi, makasih banget ya, " Jawab Icha sambil tersenyum.
Icha pun mengecek semua baju-baju itu di kamar tamu, namun ada yang kurang beberapa stel lagi.
"Aduh gimana ini, mana udah mepet waktunya, aku gak pegang ponsel lagi, gimana hubungi tante Fatma? " Gumannya bingung.
Icha pun meminta bantuan Ifa agar mengantar nya ke Butiq siang ini sebelum acara pengajian di mulai.
"Fa ayo antar teteh bantar, teteh ada perlu sama tante Fatma, kalo di jelasin di telpon gak apdol kaya nya, "Ujar nya setelah menemui Ifa di kamar nya.
"Biar Ifa aja teh, kan teteh gak boleh keluar rumah, " Ujar Ifa, karna Ibunya mewanti-wanti agar Icha tidak kemana-mana.
__ADS_1
"Ayo cuma bentar ko, Ibu gak akan tau nanti teteh jalan belakang, kamu bawa motor ya, kita cuma bentar ko nanti sekalian pulangnya mampir kemini market depan," Ifa pun tidak bisa menolak dan mengambil motornya di garasi.
Icha pun menunggu di pintu samping yang lansung ke jalan, tak lama kemudian Ifa pun datang dengan motornya.
"Ayo cepetan nanti ketauan Ibu, " Ujar Icha duduk di jok belakang.
Saat mereka akan belok dari komplek Nur pun melihat mereka, Dia segera menghubungi suruhannya agar segera bertidak.
Sebuah mobil hitam mengikuti mereka dari belakang, sedangkan Nur hany memberikan informasi saja Dia pergi entah kemana.
Saat melewati tempat yang sepi mobil itu melajukan dengan kencang dan menyerepet motor Ifa, hingga mereka terjatuh untung saja motor tidak terlalu kencang.
"Teteh gak papa? " Tanya nya melihat Icha yang memegangi sikunya.
"Gak papa kok, kamu sendiri gimana? " Melihat Ifa membangunkan motornya.
"Gak papa teh, " Jawabnya, mobil itu pun berhenti tidak jauh dari sana keluarlah dua orang bertubuh tegap memakai kacamata dan masker.
"Siapa mereka? apa kita punya masalah? " Tanya Icha seraya memberrsihkan baju nya yang kotor.
"Gak tau, " Ujar Ifa waspada.
Tiba-tiba mereka menyerang Ifa dan Icha, untung Ifa sudah waspada jadi bisa mengelak pukulan dari mereka.
Mereka menyerang bertubi-tubi, Icha yang di incar nya, namun Icha yang pintar bela diri pun bisa melawan,hingga salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pisau kecil.
"Teteh awas, " Teriak Ifa mendorong kakaknya itu hingga Icha terjatuh tersungkur kepalanya menyentuk tembok pembatas jalan.
Ifa yang tak bisa menghindar pun tergores tangannya, dan darah segar pun keluar,sedangkan para preman itu pergi begitu saja melihat Icha tergeletak pingsan.
Ifa pun segera tak tau harus bagai mana melihat kakak nya pingsan dengan darah mengalir dari keningnya, Dia juga menahan rasa perih ditangannya.
"Teteh bangun, "Ujar nya, sambil menangis namun Icha tidak bergerak.
Jalan masih sepi hanya ada satu dua kendaraan yang lewat itu pun tidak menghiraukan mereka.
Saat Ifa sedang menangis sebuah mobil berhenti di depan mereka,turunlah seorang pemuda Ifa yang belum sadar pun kaget saat ada tangan yang megang pundaknya.
"kamu kenapa? " Ujarnya melihat Ifa menangis memeluk seorang perempuan yang tak terlihat wajahnya.
"Tolong siapa pun, tolong kakak saya Dia pingsan tolong, " Ucap nya lirih tanpa melihat laki-laki itu.
Pemuda itu membawa mereka ke dalam mobil,sebelum membawa ke rumasakit Dia membalut tangan Ifa dengan saputangannya.
__ADS_1