
"Cha kamu di sini juga, sama siapa?"
"Ehh Iqbal, iya aku tadi dianter temen," jawab Icha sambil tersenyum.
"Kenapa berdiri di sini ayo masuk, kak Nadia sama mas Febri juga udah ada di dalam," seru Iqbal dan langsung di angguki Icha.
Mereka pun melihat dekorasinya, ternyata sangat indah dua hari lagi akan di adakan resepsi di sana.
"Ka Nadia, Mas Febri," seru Icha.
"kamu udah datang cha, kalian ko bisa barengan?" tanya Nadia sambil memeluk Icha.
"Tadi ketemu di depan kak." jawab Icha sambil tersenyum
"Gimana menurut kalian bagus gak?" tanya Nadia menunjuk dekorasi nya.
"Menurut kita bagus ko, iya kan Cha." jawab Iqbal dan Icha pun menganggukan kepalanya.
"Ya Udah kita keliling dulu deh, ayo cha." seru Iqbal sambil menggandeng tangan Icha,meninggalkan mereka yang geleng-geleng kepala.
"Cha bukannya Gedung dan Hotel ini milik nya kak Ramadan ya? " tanya Iqbal antusias karna Dia tahu kalau Icha dekat dengan keluarga besar Rima.
"Aku gak tau, gak pernah nanya juga." jawab Icha malas.
"kamu tuh yaa, bukannya dah kenal lama sama keluarganya." ujar nya sambil mengusap kerudung Icha.
"Aku kan gak kepo, yang aku tau keluarga nya cuma punya perusahaan aja."
"Oh gitu ya,kan biasanya cewek itu suka banyak cerita apalagi gue liat kak Rama kaya nya suka deh sama kamu." seru Iqbal mengingat terakhir mereka bertemu, seperti tidak menyukainya karna dekat dengan Icha.
"Ah masa sih, cuma perasaan kamu aja kali." jawab Icha, karena setaunya Rama baik kepada nya seperti pada adiknya sendiri.
"Mungkin juga, kamu dah mau pulang?"
"Belum emang kenapa?" Tanya Icha bingung.
"Pacar mu nih, neror gue terus dari tadi nanyain kamu, kenapa juga punya ponsel gak guna." ujarnya kesal kerena dari tadi Abang terus menanyakan Icha padanya karena ponselnya gak diangkat.
"Maaf, ponselku pake getar aja tadi aku lupa." jawabnya merasa tidak enak.
"Ya udah gue anterin loe ke apartemennya ya, soalnya Dia juga baru datang katanya."
"Ya udah yuk," ucap Icha, dan mereka pun pergi meninggalkan gedung.
Mereka pun berjalan berbarengan menuju parkiran sambil sesekali mereka bercanda.
Namun tanpa mereka sadari ada pasang mata yang memperhatikan mereka.
"Sampai kapan aku harus bertahan dengan cinta ini Cha, sungguh hati ini sakit melihat kamu dengan orang lain, jujur aku nyesel udah ninggalin kamu dan cinta kita. " ucap Rama yang sedang berada di depan Hotelnya.
Icha pun masuk ke dalam mobil Iqbal, mereka pun pergi meninggalkan gedung dan melaju menuju tempat Abang,dan 10 menit kemudian mereka pun sampai.
"Aku langsung pergi ya, ada urusan di bengkel, kamu hati hati,kalo ada apa-apa hubungi aku." ucapnya membuka pintu mobil dan segera menutupnya kembali.
"Makasih ya,kamu juga hati-hati." ujar Icha melambaikan tangannya, dan Iqbal pun segera pergi dengan mobilnya sedangkan Icha masuk ke dalam Apartemen.
__ADS_1
Icha pun terus berjalan menuju kamar Abang, dan segera memencet bel namun setelah beberapa kali memencet tak ada sahutan sepertinya Abang tidak ada di sana.
Icha pun akhirnya menyerah Dia pun memutuskan kembali pulang, namun saat sampai di lobi, Icha melihat Abang dengan seorang wanita mereka sangat akrab dan sesekali bercanda membuat Icha menghentikan langkahnya.
Sungguh pemandangan yang tak enak di lihat, Icha pun berusaha menetralkan perasaannya, Dia pun segera pergi tanpa menyapa Abang.
"Segitu nya loe, sampai gak liat gue." guman Icha setelah keluar dari sana .
Icha pun memesan taxi pulang ke kosan Mega, sungguh hari ini Icha sangat kacau perasaannya, cukup 15 menit Icha pun sampai Di kosan Mega dan bergegas masuk ke dalam kamar yang di kunci,namun Icha sudah tau dimana letak kuncinya.
Icha pun membaringkan tubuhnya di kasur dan menelpon Bude kalo malam ini akan menginap bersama temannya dan Bude pun mengizinkannya, saat Icha akan meletakan ponselnya, ponsel itu berdering menampilkan nama Abang.
Abang call
Icha pun dengan malas mengakatnya.
📲 Asamualakum Cha, kamu kemana aja sih kata Iqbal kamu ke tempat aku ko gak ada?" tanya Abang panjang lebar.
📲 Waalakum salam,aku udah pulang dan aku dah gak minat ketemu, kamu urusin aja cewek kamu jangan ganggu aku " ucap Icha kesal, sungguh suasana hati Icha benar-benar kacau.
📲 Sayang maksud kamu apa, Cewek siapa sih ko nuduh aku kaya gitu." ucap Abang yang sedikit bingung dengan ucapan Icha.
📲Udah gak usah ngeles ya, aku gak butuh penjelasan kamu, toh aku bukan siapa-siapa kamu gak penting juga."
📲 Kamu itu sebenarnya kenapa sih, lagi ada masalah apa ko aku sampe kena batunya Cha, aneh banget kamu tuh."
📲 Udah jangan ganggu aku bye."
Icha pun langsung mematikan telpon nya, dan segera mandi waktu sudah mulai gelap, setelah selesai Icha pun pergi mencari makan di pinggir jalan.
Dia pun mengingat-ingat apa yang terjadi, akhirnya Dia Ingat kalo tadi tanpa sengaja bertemu dengan teman kuliah nya dulu .
"Sial pasti Icha salah paham, gue harus ceritain yang sebenarnya." guman Abang, dan langsung bergegas mandi, rencanannya Dia akan menemui Icha di rumah Budenya.
Di sisi lain Icha sedang berjalan kaki menuju tempat makan, Dia duduk di kedai pecel Ayam dan segera memesan makanannya.
"Cha," sapa seorang leleki yang duduk di samping nya.
Icha yang sedang memainkan ponsel pun menoleh dan menatap pemuda itu.
"Eh Iya, siapa ya?" tanya nya yang sedikit lupa.
"Ah masa lupa sih Cha," lantas lelaki itu membuka kacamatanya.
"Ehh Dokter Syam, maaf Dok saya lupa." ujar Icha sambil cengengesan.
"Dokter makan di sini juga?" tanya Icha yang sedikit heran.
"Iya, kamu ko jauh banget mainnya Cha, sama siapa?" ujarnya duduk di samping Icha sambil melirik kanan kiri.
"Oh, aku sendiri Dok aku nginep di kosan temen dekat sini, cuma temen aku lagi kerja belum pulang, jadi aku makan sendiri aja." jawabnya sedikit canggung.
"Oh ya udah, kita makan bareng saja Cha, saya juga sendiri gak ada temen." Icha pun mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun makan dengan tenang di sertai canda tawa, Icha pun sedikit melupakan kegundahan hatinya.
__ADS_1
Setelah selesai Icha pun segera pamit, namun Dokter syam bersikeras mengantarkan Icha sampai ke kosan karna takut Icha kenapa-napa.
Icha pun berterimakasih kepadanya.
"Makasih banyak Dok, sudah merepotkan." Ucapnya seraya menunduk.
"Iya sama-sama,saya langsung pamit ya Cha," ucapnya sambil tersenyum.
"Oh Iya Dok," jawab Icha, namun saat mereka sedang berbincang motor sport berhenti di depan mereka.
"Kamu udah pulang?" tanya Icha melihat Mega turun dari motor dan membuka helm nya.
Namun Mega malah diam melihat Dokter Syam ada di sana.
"Mas Ilham." ucapnya lirih dan Dokter syam pun menoleh melihat Mega berdiri di dekat motor.
"Mega, kamu di sini sayang?" tanya Syam memeluk Mega erat, membuat Icha melongo melihatnya.
"Mas ko ada di sini?" tanya Mega heran seraya melepaskan pelukannya.
"Mas nyari kamu, untung ketemu Icha di depan." jawabnya tersenyum senang.
"Cha, kamu kenal Dia?" tanya Mega mengintrogasi.
"Ya kenal lah Dokter Syam kan Dokter pribadinya Bude," jawab Icha jujur.
"Eh bentar, ini ada apa sih kalian punya hubungan apa?" tanya Icha bingung.
"Dia kakak gue Cha, Mas Ilham dulu Dia kerja di rumasakit daerah jadi gue jarang ketemu,udah yuk masuk kita ngobrol di dalam." ajak Mega masuk ke kamar kost nya di susul Icha dan Dokter Syam di belakang nya.
Ilham adalah nama panjang dari Dokter Syam Aripin Ilham, Mega selalu memanggilnya dengan Ilham panggilan sayang nya.
Mereka pun duduk lesehan di karpet, Mega pun mengambil minuman kaleng di dalam kulkas dan di berikannya kepada mereka.
"Udah Cha, gak usah bingung gitu Mas Ilham ini emang kakak gue jadi gak usah cemburu loe." canda Mega membuat Icha memerah menahan kesal.
"Eh enggak gitu ko, aku cuma gak nyangka aja, ternyata Mega temenku ini anak dari pemilik Rumasakit terkenal dan juga anak dari Dokter Arifin." ucap Icha panjang lebar.
"Haha...bisa aja loe gue sengaja Cha gak kasih tau siapa-siapa tentang asal usul gue, karna gue pengen hidup normal tanpa bayang-bayang bokap gue,maaf gw belum cerita sama loe," jawabnya.Icha pun hanya mengangguk.
"Dek kapan kamu mau pulang, Mas kangen banget sama kamu, Mama juga nanyain kamu terus," ucap Dokter syam sendu.
"Gak tau Mas, mungkin nanti kalo aku udah lulus dan udah punya kerjaan,"
"Mas harap secepatnya ya, kasihan mama sakit-sakitan terus, ya udah Mas pamit ya harus ke rumasakit dulu ada perlu, nanti Mas main lagi kapan-kapan," ujar nya setelah melirik jam tangannya, Mega pun hanya mengangguk .
"Cha, saya pamit ya nitip adek saya yang nakal ini."
"Iya Dok." jawab Icha sambil terkekeh, sehingga membuat Mega kesal melihat temannya itu.
Dokter Syam pamit pergi, dan mereka pun masuk kembali ke dalam kamar, setelah mengantar keluar.
"Aku butuh penjelasan ya." ucap Icha mengintrogasi.
"Oke oke duduk dulu, gue mandi dulu bentar." ucap nya bergegas ke kamar mandi, sedangkan Icha tiduran di atas kasur.
__ADS_1