
Seminggu sudah Kaila tinggal dengan suaminya, dia nampak ceria seperti biasa hari ini Kaila sudah bersiap menghadiri acara kelulusan di sekolah nya sedangkan Revan ingin sekali dia ikut namun dia harus bekerja.
Ada rasa kenyamanan dalam diri Kaila saat bersama Revan, namun Kaila juga masih waspada takut nya Revan merencanakan sesuatu.
Ya bisa di bilang dia terlalu berpikiran negatip terhadap suami nya itu, Kaila belum 100 persen percaya dengan bualan yang Revan katakan.
"Kamu sama siapa berangkat nya?" tanya Revan duduk di meja makan memperhatikan Kaila sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Naik taxi aja lah nanti ketemu di sana aja sama bunda, kasian kalo harus kesini kan jauh," ujar nya seraya meletakan roti panggang di piring suami nya.
Revan pun mengangguk sambil menyeruput kopi nya."Maaf ya aku gak bisa datang soal nya ada meeting hari ini,"
Hari ini Revan harus Metting di luar kota dan pagi sekali dia bersiap.
"Kakak tenang aja kan aku sama bunda, nanti jemput aku di rumah bunda ya," ucap nya.
Setelah sarapan Revan pun berangkat ke kantor tempat nya bekarja, yang jarak nya tak jauh dari sana menemui rekan nya.
Sedangkan Kaila masih bersiap, hari ini dia akan mampir ke rumah Mita untuk meminta nya mendandani nya juga sekalian pinjem baju dari butik nya bilang saja Kaila ingin yang gratisan.
Kaila pun naik taxi menuju rumah Mita yang tak jauh dari Apartemant nya paling cuma lima menitan.
Saat sampai di sana dia langsung di sambut hangat oleh tante nya itu.
"Ayo masuk kamu udah sarapan belum?" tanya Mita mengajak nya masuk.
Sedangkan di rumah nya tampak sepi, seperti nya Adit sudah berangkat kerja lali dimana sepupu nya yang cerewet itu.
Siapa lagi kalo bukan Thania anak semata wayang Mita dan Adit, ternyata Thania menginap di rumah nenek nya.
Mita langsung membawa Kaila ke kamar nya dia sengaja membawa baju dari butik nya untuk keponakan suami nya itu.
Cuma 30 menit Mita merias Kaila, dia sudah terbiasa dengan alat make up jadi bisa mempersingkat waktu.
__ADS_1
Setelah di rasa siap dia pun segera di antar Mita ke sekolah nya, jam 8 mereka sampai di sana.
"Tante gak ikut masuk?" tanya Kaila membenarkan sepatu nya yang tak terlalu nyaman.
"Tante ada urusan maaf ya," ucap Mita gak enak.
"Ya udah gak papa tan, aku langsung masuk ya," Kaila pun langsung keluar dari mobil dan segera masuk ke pekarangan sekolah.
Terlihat sahabat nya sudah ada bersama orang tua nya, nampak nya Desi juga terlihat berbeda kali ini.
"Loe gak papa kan?" tanya Desi menahan tawa melihat Kaila nampak kesusahan.
"Gila susah amat pake kaya gini, kalo gak di paksa gue gak bakalan deh mau pake ginian sakit kaki gue," gerutu nya.
"Sabar-sabar anggap aja ini ujian buat loe,"
Kaila pun tak lupa menyapa orang tua Desi, mereka nampak tersenyum melihat kekonyolan anak nya.
"Siang om, tante," ujar nya mencium tangan mereka.
"Makasih tante, aku emang udah cantik dari lahir ko," jawab nya membuat mereka semakin tergelak.
"Udah ahh ayo masuk,mah pah kita duluan ya," ujar Desi dan mereka pun mengangguk
"Persis banget kaya Icha," ujar Nazwa menahan tawa terus melihat Kaila yang nampak menggerutu sepanjang jalan, dan sesekali mengangkat tinggi rok nya.
Alex nampak bingung dengan perkataan istri nya itu."Bukannya Icha kalem ya beda jauh lah ma kalo sama Kaila, apa dia ketuker pas di rumasakit," canda Alex.
Nazwa pun meledakan tawa nya mendengar ucapan suaminya itu."Gak mungkin ke tuker lah pah emang Icha juga dulu nya kaya gitu terus berubah saat kuliah di Jogja."
Alex pun menangguk -ngangguk tanda mengerti."Pantesan aja si Abang sampe tergila-gila sama Icha, dari masuk kampus sampe kita lulus dia gak pernah deket sama cewek mana pun." ujar nya menerawang belasan tahun silam.
"Ya mama juga gak nyangka mereka akan berjodoh, dulu kan kisah mereka sangat rumit,"
__ADS_1
"Cinta segitiga gitu?" tanya Alex penasaran.
"Bukan, tapi segi lima," jawab nya Alex pun mengerutkan kening nya tanda bingung.
"Dulu aku gak terlalu dekat sama Icha karna gak satu kelas, tapi Icha masih sering main ke rumah kala itu suka di anter sama Iqbal aku juga nyangka nya mereka pacaran, namun Icha bilang cuma temen gitu,"
"Terus?"
"Di sekolah mereka dulu cukup populer dan banyak yang mengidolakan mereka, Dini, Adam, Icha, Iqbal dan Adam mereka sudah satu paket pokok nya, Icha sering banget di panggil guru Bk karna terlalu badung di sekolah, namun setelah Iqbal mengajak nya menjadi anggota Osis Icha jadi lumayan bisa di atur dikit lah,"
Alex masih terus menyimak cerita tentang sahabat mereka itu.
"Persahatan mereka mulai renggang saat Dini menyatakan cinta nya sama Abang, dan Abang menerima nya, jadi intinya Adam cinta sama Dini, trus Dini suka sama Abang sedangkan Abang dan Iqbal sama-sama suka kepada Icha, nah di situ lah kisah Icha di mulai dia sengaja menjauhi mereka semua dan kulih di Jogja."
"Hmm pantas saja dulu waktu kuliah dia suka bilang takut di tikung sama teman,"
"Iya itu adalah Iqbal, aku juga lama gak tahu kabar Icha tahu-tahu kita bareng kerja di perusahaan yang sama."
Alex pun nampak mengangguk, pantas saja setiap bertemu Iqbal Abang nampak posesif terhadap istri nya ternyata begitu cerita nya.
Mereka pun menghampiri Icha dan Abang yang sudah duduk di sana, terlihat Abang terus menggengam tangan istrinya itu, namun Icha seperti nya sudah biasa dengan perlakuan suaminya itu.
Alex bisa melihat ada Iqbal juga istri nya di sana."Pantas saja, sudah tua masih aja bucin." gumannya sambil menggelengkan kepala.
Sedangkan Nazwa hanya tersenyum melihat suami nya.
"Hey Nazwa kamu di sini juga?" tanya Icha bersalaman tak lupa cium pipi kiri kanan.
"Iya berasa kaya reonian," jawab nya dan duduk di belakang Icha dan yang lain.
"Iya gak terasa ya kita udah tuir," ujar Icha menahan haru.
Mereka menonton penampilan anak mereka, Kaila nampak berbeda kali ini senyum nya begitu menawan semua orang yang hadir tampak mengagumi kecantikan Kaila.
__ADS_1
Sedangkan Shovia hanya jadi penonton saja karna dia sosok yang sangat pemalu tidak seperti kedua sahabat nya itu yang bar-bar.