
Abang pun langsung menancap gas meninggalkan halaman rumah nya, Dia pergi tanpa pamit kepada Bundanya.
"Kemana sih kamu Cha?" guman Abang bingung, Dia pun ingat kalo kemarin Icha bersama kakak Iparnya Dia akan menanyakan pada Hermawan.
"Pasti Icha ke rumah Irma, aku akan menyusul ke sana semoga saja Dia belum pergi," ujarnya.
Abang pun sampai di kediaman Kakak iparnya itu, Dia segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah.
"Asalamualakum," ucap Abang.
"Walaikumsalam," jawab Irma membuka pintu sambil menggendong bayi nya.
"Eh Abang, tumben," tanya Irma.
"Apa Icha ada di sini tadi katanya ada perlu sama Mas Awan," ujarnya berbohong.
"Masuk dulu yuk, kamu tanya Mas Awan deh," ucap Irma.
Abang pun masuk dan duduk di sofa menunggu Hermawan.
"Mas... apa Icha tadi kemari?" tanya Abang.
"Iya tadi Mas gak ketemu, Icha cuma nitip surat pengunduran diri saja," jawabnya.
"Pengunduran diri? "
"Iya, apa Dia tidak bilang sama kamu?" Abang pun menggeleng.
"Aku pikir kamu yang nyuruh Dia keluar dari perusahaan, Kemarin Icha marah sama Mas karna gak bilang kalo Rama yang jadi Klien kita Mas gak tau masalah nya apa, dan Icha cuma bilang kalo Dia gak mau ikut kalo ketemu lagi sama Klien aku Desta dan juga Rama, takut salah paham katanya gitu, padahal setiap kali ketemu Klien ,kita tidak cuma bertiga, ada asisten aku dan asisten klien aku juga,"
"Oh begitu ya Mas," ucap Abang.
"Kamu bujuk Icha ya agar gak jadi keluar dari kantor, soalnya sekarang susah cari orang kaya Dia,"
"Nanti aku coba omongin, ya sudah kalo gitu aku langsung pamit ya, mungkin Icha sudah menunggu di rumah," ujarnya dan Awan pun mengengguk.
Abang pun bergegas pergi dari sana, Dada nya bergemuruh menahan tangis karna sudah berkata kasar pada Icha semalam.
"Ya Tuhan gara-gara cemburu aku bikin Icha kecewa maafin aku cha udah bikin kamu nangis, Seharusnya aku jadi sandaran kamu bukan menjadi orang yang menyakitimu," gumannya memukul stir mobil kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Abang pulang ke rumah nya, Dia akan mencari petunjuk kemana Icha pergi Dia menghubungi Icha namun no nya di blokir.
Dia pun masuk ke dalam kamarnya membuka laci -laci siapa tau saja ada petunjuk.
Namun sesuatu tak terduga Dia menemukan sebuah kartas yang membuatnya penasaran, Dia pun mengambilnya.
Dan sebuah kalung Abang liat tergeletak dekat kertas itu.
Dia pun mengambilnya dan menyimpannya di atas meja.
"Ini kalung yang aku berikan dulu apa Icha sengaja melepasnya ya?"
Abang pun membuka kertas yang di pegang nya Dia membaca dengan teliti.
"Surat dari Rumasakit, sebenarnya apa yang Icha tutupin dari aku?"
Abang pun membaca surat itu sampai selesai, membuat nya tak bisa menahan air mata nya.
"Icha hamil dan aku akan menjadi Ayah, suami macam apa aku ini yang tidak peka terhadap istrinya" ujarnya.
Dia pun teringat satu minggu yang lalu saat Icha mengeluh ingin jagung bakar tengah malam, dan Dia pun dengan malas mencari nya untung saja Dia menemukannya.
"Jadi ini yang membuat kamu sering mengeluh pusing dan mual, maafkan aku yang tidak peka," isaknya duduk di lantai Dia menyesal telah salah sangka pada Istrinya.
"Aku janji akan jujur sama kamu, apapun itu."
Abang pun menyimpan lagi kertas itu namun Dia juga menemukan buku tabungannya juga kertas kecil bukti tranfer tak lupa dua buah Atm di sana.
"Apa lagi ini Ya Tuhan Icha pasti salah paham tentang ini, Dia juga menyimpan Atm pemberianku, Icha kamu dimana sayang? apa ini yang bikin kamu pergi,"
Abang pun menelpon Icha namun masih sama, Dia pun mencari Icha dengan email yang Icha pake di ponselnya.
Abang pun mengotak atik ponsel nya, tak lama kemudian Dia bisa melacak ponsel Icha.
"Dimana ini ko jauh banget, bersama siapa Dia kesana?" ujarnya Dia pun berniat mencari istrinya itu.
Dia pun segera bersiap dan memasukan baju kedalam tas ranselnya.
"Sayang tunggu, Aa akan jemput kamu, jangan pergi lagi, Aa janji akan selalu terbuka denganmu," ujarnya, setelah itu Dia memesan Taxi.
__ADS_1
Setelah sampai di Bandara Dia langsung naik pesawat ke Surabaya.
Jarak yang akan Dia tempuh kira-kira 2 jam dari sana.
Di sisi lain Icha baru saja sampai di Surabaya, Dia sudah berada di rumah Nenek nya Amel.
Mereka pun berbincang hangat,dan makan siang bersama setelah itu Amel menitipkan Icha pada Neneknya.
"Apa Nenek keberatan Icha tinggal di sini untuk sementara?" tanya Icha.
"Nenek sangat senang kamu di sini nak, Amel sudah lama tidak kemari Dia sangat sibuk bekerja sekarang, Nenek cuma sendiri di sini tak punya saudara," ujarnya.
Amel adalah anak yatim piatu, Dia di besarkan oleh sang Nenek Dia mendapat beasiswa di Jogja sehingga bisa berteman baik dengan Icha.
"Tinggalah di sini selama kamu mau nak, anggap rumah sendiri namun di sini tak sebagus dan senyaman rumahmu," ujar Nenek Sari.
"Terimakasih banyak nek, maaf Icha akan banyak merepotkan nenek," ujar Icha terharu.
"Sudah jangan menangis, Kalian cucu kesayangan nenek jangan sungkan, " Ucapnya dan Amel pun tersenyum.
Icha pun memasukan koper nya ke dalam kamar, rumah jaman dulu itu terlihat bersih dan rapi.
"Istirahat lah loe pasti cape kan," ucap Amel dan Icha pun mengangguk.
Amel pun keluar dari kamar meninggalkan Icha yang sudah terlelap.
"Mel sebenarnya Icha kenapa bukanya Dia sudah menikah kemana suaminya?" tanya Nenek.
Nenek sudah tau Icha sudah menikah karna Amel memberi tahu nya dua bulan lalu saat Dia ke sana.
"Cerita nya panjang Nek yang jelas Icha sedang ada masalah dengan suaminya, Amel harap Nenek jangan pernah menanyakan apa-apa tentang rumah tangga nya," ujar Amel.
"Tentu saja, Nenek tidak tega melihatnya Dia gadis yang baik semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untuknya," ucap Nenek.
"Amel hanya cuti satu hari, besok harus kembali ke Bandung, Nenek gak apa-apa kan Amel tinggal sama Icha?"
"Tidak apa-apa sayang, Nenek bahagia sekali ada teman di rumah, kamu hati-hati di sana jaga diri kamu," Nasehat Nenek.
"Iya Nek maaf Amel belum bisa menjadi cucu yang baik, " ujarnya merebahakan kepalanya di pangkuan Nenek nya.
__ADS_1
Nenek tidak mau meninggalkan kampung halamannya, Amel sendiri bingung karna harus bekerja di luar kota selama kerja Amel bolak-balik menengok nenek nya.
Nenek seperti biasa akan mengusap rambut cucunya itu.