
Sean pun duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaan nya dia memangku leptop nya, dia menunggu Naura yang tertidur di kamar.
Naura sendiri dia masih belum tidur, dia tidak tahu kenapa penyakit nya itu semakin parah dia harus minum obat dulu agar bisa tidur.
"Yah kok kosong sing gelas nya," gumannya segera bangkit dari tidur nya menuju dapur.
Naura nampak kaget melihat ruang tamu masih menyala dia pun menghampiri nya karna penasaran apa yang di lakukan Kaila dan suaminya malam-malam begini.
Namun dia melebarkan mata nya dia sangat kaget melihat Sean ada di sana.
"Sean sedang apa kamu di sini, dimana mereka?" tanya Naura sedikit gugup.
Sean pun menoleh dan menatap wanita cantik itu, dia sangat senang bisa melihat Naura malam ini.
"Mereka pulang jadi aku yang akan menjaga mu di sini, kenapa kamu terbangun apa aku mengganggu tidur mu?" tanya Sean sedangkan Naura menggelengkan kepala nya.
"Apa kamu masih susah tidur Na?" tanya Sean karna dari dulu Naura sering susah tidur.
Naura pun mengangguk lalu menggelengkan kepala nya."Tidak aku baik-baik saja," jawab nya.
"Aku pergi dulu selamat malam," ujar nya berbalik menuju dapur.
Sean yang penasaran pun mengikuti nya ke dapur dia melihat Naura sedang mengambil air minum namun dia penasaran dengan botol kecil yang ada di meja.
Dia pun segera mengambil nya dia sangat tahu obat apa itu.
"Kamu masih menginsumsi nya?" tanya Sean menunjukan obat itu ke arah Naura.
"Sean kembali kan, itu bukan urusan mu," ujar nya ingin mengambil obat itu yang ada di tangan Sean.
"Tidak akan pernah kenapa kamu meminum nya lagi Na, bukannya kamu sudah sembuh?" tanya Sean namun Naura hanya diam saja.
"Lihat aku Na apa yang terjadi selama ini?" tanya Sean memegang kedua bahu nya.
"Liat aku Na, jangan pernah berbohong," ujar nya sedangkan Naura hanya menunduk dia tak tahu harus bilang apa.
"Oke aku akan buang semua obat ini, jika kamu tak mau jujur," ucap nya.
__ADS_1
"Jangan...," sontak saja Naur berteriak agar bisa mencegah Sean.
"Baik tapi kamu harus jujur padaku," ujar nya.
Naura pun mengangguk dan duduk di kursi makan dia mulai menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku memang sudah sembuh tapi bulan-bulan terakhir ini aku mengalami nya lagi aku tidak bisa tidur tanpa obat itu," ujar nya menunduk sambil bergetar.
Sean pun langsung membawa nya dalam pelukan nya mungkin saja kalo dia tidak terlambat pulang Naura tak akan seperti ini.
"Maafkan aku Na, aku tidak menepati janjiku tapi aku janji setelah ini aku akan menikahi mu sesuai janji kita dulu," ujar nya namun Naura menggelengkan kepala nya.
"Tidak aku sudah janda apa kata orang tua mu nanti, saat gadis saja mereka tak menerima ku apalagi saat ini," ujar nya.
Namun Sean masih terus meyakinkan Naura agar bisa menerima nya.
"Aku tahu hanya aku yang pernah menyentuh mu Na, aku tahu rumah tangga apa yang kamu jalani dengan pria itu aku sudah tahu semua nya," ucap Sean membuat Naura tercengang.
"Sean, kamu..,"
Belum sempat Naura melanjutkan perkatannya Sean sudah lebih dulu mengecup nya hanya kecupan singkat yang Sean berikan.
"Sean apa yang kamu lakukan?" tanya Naura bersemu merah sungguh dia sangat malu sekali.
"Rasanya masih sama Na, aku akan secepatnya menghalal kan mu agar kita bisa selalu sama-sama," ucap nya yakin.
Mendengar hal itu Naura sangat bahagia namun ada rasa sedih kala ingat perkataan Ayah nya Sean yang tak merestui mereka.
"Kenapa apa kamu tidak senang menikah dengan ku apa kamu sudah tak mencintai ku?" tanya Sean melihat Naura murung.
"Aku tidak tahu Sean, aku malu dengan diriku dan aku juga tidak mau kamu bertengkar lagi dengan Ayah mu gara-gara aku," ucap nya sendu.
Sean pun tersenyum, setidak nya dia tahu kalo Naura masih mencintai nya.
Sean pun menggenggam tangan nya dan mengecup nya berkali-kali."Sayang dengarkan ku Ayah ku sudah lama tiada, kamu jangan pernah berpikir macam-macam tak kan ada lagi yang memisahkan kita," ucap nyangusap air mata Naura dengan ibu jarinya.
Naura pun semakin terisak sungguh dia sangat bahagia mendengar nya.
__ADS_1
"Sean... hik.. hik..," Naura tidak bisa berkata apa-apa lagi dia memeluk erat pinggang Sean yang berdiri di hadapan nya.
"Sudah ayo tidur sudah malam," ujar nya namun Naura menggelengkan kepala nya.
"Aku tidak bisa kalo tidak minum obat itu," ujar nya namun Sean kekeh tak mau memberikan nya.
"Aku akan menemani mu tidur kamu bisa nyaman tidur di pelukanku," ujar nya namun Naura kembali menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau, aku tahu apa yang ada di otak mu Se dengar aku bukan Naura yang dulu yang dengan mudah nya kamu bujuk," ujar Naura mengerucutkan bibir nya.
Sean pun terkekeh."Baiklah aku janji tak akan melakukan apa-apa, ayo aku sedang bekarja aku akan menemani mu tidur," ujar nya menarik tangan Naura agar mengikuti nya.
Sean pun duduk di sofa dan menyuruh Naura membaringkan tubuh nya dan menyandarkan kepala nya di paha Sean.
Biasa nya cara itu ampuh membuat Naura cepat tidur, Naura pun menurut saja apa yang di katakan Sean.
Dia pun memejamkan matanya sambil memeluk perut Sean sedangkan Sean mengelus-ngelus rambut nya sambil mengerjakan pekerjaan nya yang tinggal sedikit lagi.
Satu jam berlalu Sean pun selesai dengan pekerjaan nya dia pun ikut terlelap di atas sofa sambil memeluk Naura dari belakang.
.
Di apartemen Revan, Kaila baru saja membuka mata nya saat merasakan ingin ingin buang air, namun dia merasa ada yang berat menimpa tubuh nya.
Kaila pun mengingat-ngingat semalam dia tidur di sofa, dan kenapa sekarang ada di kamar dia juga sangat asing tengan tempat itu.
Kaila tahu pasti tangan besar itu milik suami nya, karna semalam ada Revan uang menemani nya.
Kaila pun melepaskan pelukan Revan di perut nya namun Revan malah semakin erat memeluk nya.
"Mau kemana?" tanya Revan dengan suara has bangun tidur.
"Mau ke kamar mandi kebelet," jawab Kaila, Revan pun melepaskan tangan nya dan dia langsung berlari ke kamar mandi.
Setelah selesai Kaila pun kembali ke kamar dan melirik jam di nakas baru jam 03.30, masih pagi pikir nya dia pun membaringkan tubuhnya memunggu Revan.
Namun Revan yang merasakan pergerakan di sebelah nya pun kembali memeluk Kaila.
__ADS_1