Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema
Bertemu Revan


__ADS_3

Kaila menempelkan ponselnya di telinga nya mendengarkan apa yang Revan ingin katakan kepadanya.


[Asalamualaimum] ucap Kaila.


[Walaikumsalam, sayang kamu dimana Mas nyariin kamu dari tadi] ucap Revan di sebrang sana.


Kaila hanya tersenyum dalam hatinya mendengar Revan menghawatirkan nya sedangkan Kaila sudah was was kalo Revan akan memarahinya.


[Aku di apartemat] jawab nya jujur.


[Apartemant siapa Mas uda bolak balik cariin kamu apartemant sebelah sepertinya tidak ada siapa-siapa, apa kamu gak dnger bel berbunyi puluhan kali, Mas nyariin kamu sayang takut kamu kenapa-napa] ucap nya namun Revan sedikit lega mendengar Kaila baik-baik saja.


[Maaf aku ketiduran, iya aku di apartemat Cerry dari tadi gak kemana-mana] jawab nya Kaila pun keluar dari kamar menuju dapur jujur saja dia sangat lapar sekali.


Namun di sana tidak ada makanan hanya ada bahan mentah saja, biasa nya Naura yang akan masak.


[Sayang buka pintu nya Mas di depan] ucap Revan, Kaila pun berjalan ke ruang tamu membuka pintu untuk suami nya.


Pintu pun terbuka terlihat Revan masih memakai baju kantor dan nampak berantakan sekali seperti nya di belum pulang ke rumah.


Revan pun langsung memeluk nya erat dia sangat bahagia bisa melihat istri nya lagi, walau pun hanya satu hari tidak ketemu tapi dia merasakan rindu yang begitu besar.


"Sayang kamu baik-baik saja kan maafin Clara ya Mas gak nyangka dia akan tega sama kamu," ucap nya sambil mengelus rambut panjang Kaila yang tergerai.


Kaila pun melepaskan pelukan nya."Mas tahu dari mana soal aku dan Clara?" tanya Kaila heran, apa benar apa yang Cerry katakan kalo Clara mengadu yang tidak-tidak.


"Tahu dari Clara dia ke kantor dan seperti biasa dia akan cerita semua nya," ucap Revan.


"Ya udah Mas duduk dulu aku ambil kan air minum," ucap nya tak mau membahas tentang adik ipar nya itu.


Kaila pun berjalan ke dapur menyiapkan air minum untuk suami nya, namun Revan bukanya duduk dia malah mengikuti Kaila ke dapur.


"Mas mau minum apa di sini gak ada kopi," ucap Kaila.


"Apa aja," ucap nya, jujur saja Revan pun haus hampir dua jam dia mencari-cari Kaila.


Kaila pun memberika satu minuman kaleng, dan Revan pun meleguk nya sampai habis.

__ADS_1


"Mas udah makan malam?" tanya Kaila dan Revan pun menggelengkan kepala nya.


"Aku mau bikin mie instan Mas mau?" tanya Kaila, Revan pun mengangguk saja walau seumur-umur belum pernah mencicipi nya.


Kaila pun tersenyum dan menyalakan kompor mengambil dua bungkus mie instan, sayuran dan juga cabe rawit.


Dia tahu kalo Revan tak suka pedas, dia tak menambahkan cabe rawit ke mangkuk mie Revan, tetapi dia memasukan nya ke dalam mangkuk mie nya terlihat sangat segar dengan cabai yang merah merona.


"Nah udah jadi," ucap nya memberikan mie itu ke hadapan Revan.


Dari bau nya aja udah enak, Revan pun menyendok kuah nya ternyata beneran enak.


Melihat Revan makan dengan lahap membuat Kaila tersenyum dan mulai menyuap mie milik nya.


"Gimana rasanya?" tanya Kaila.


"Lumayan," jawab nya.


Dia pun penasaran dengan mie yang di makan Kaila karna dia bisa melihat Kaila sampai berkeringat saat melahap nya.


Bukannya dia pelit karna memang Revan pasti akan kepedesan bila mencoba milik nya.


Revan yang penasaran pun menyendok kuah nya dan memasukan nya ke dalam mulut nya dia langsung melebarkan mata nya.


"Kai makanan apa ini?" ujar nya meraih air putih yang Kaila siap kan untuk nya.


"Kan aku udah menggelengkan kepala jangan coba, kenapa ngeyel sekali," ucap nya kasian melihat Revan yang kepedesan.


Kaila yang kasian pun memberikan tisu kepada nya untuk mengelap kening Revan yang berkeringat.


Revan menatap Kaila dengan inten bibir nya yang merah membuat nya gemas.


Dia menarik tangan Kaila hingga terduduk di pangkuan nya ingin protes tapi bibir nya lebih dulu mencium Kaila.


Kaila yang kaget pun hanya diam saja saat benda kenyal mengahampiri bibir nya, melihat Kaila yang memejamkan matanya Revan pun memarik tengkuk nya dan ******* nya pelan.


Kaila yang awal nya diam kini membuka mulut nya merasakan lidah yang masuk ke dalam mulut nya.

__ADS_1


Revan pun semakin gencar mengabsen kedalam mulut Kaila membuat empu nya kehabisan nafas.


Kaila memukul pelan dada Revan, Revan yang sadar pun langsung melepaskan bibir nya.


Revan mengusap bibir Kaila dengan ibu jari nya, Kaila yang juga masih awam saat berciuman dia nampak malu dan memerah wajah nya dia memeluk Revan menyembunyikan wajah nya di pundak Revan.


Sedangkan Revan hanya terkekeh."Kenapa?" tanya Revan mengelus punggung Kaila yang duduk di pangkuan nya.


"Aku malu," jawab Kaila pelan di telinga nya membuat Revan meremang.


Bagi Revan yang mendengar nya itu seperti semakin menegang mendengar ******* yang keluar dari bibir Kaila.


Revan berusaha mengendalikan diri nya namun yang dibawah sana malah semakin menegang.


Kaila pun merasakan ada yang bergerak di bawah sana dia mendongkakak kepala nya menatap suami nya yang sedang memejamkan mata nya.


Revan pun menggendong Kaila membawa nya ke dalam kamar.


.


Di sisi lain Naura baru saja selesai makan malam bersama keluarga baru nya, dia sangat bahagia sekali mendapatkan keluarga baru kini mereka sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Aku sangat senang sekali mengetahui kalo kita bersaudara," ucap Remon yang sudah mengetahui semua nya.


"Iya Mba juga senang terimakasih banyak Rey kamu memang saudara terbaik," ucap Naura tersenyum.


Widya dan Ivan pun tersenyum melihat keakraban mereka berdua, memang tak salah Widya mengajak nya tinggal bersama mereka.


"Sayang Mama sudah mencabut semua aset kamu yang ada di tangan Ronal termasuk rumah yang kamu tinggali," ucap Widya dan itu sukses membuat Naura bingung.


"Maksud Mama apa?" tanya Naura.


"Rumah yang kamu tinggali itu milik Mama sayang, juga dua vila yang ada dibogor serta aset perusahaan semua atas nama Mama itu adalah peninggalan Oma kamu semua di limpahkan untuk kamu sayang," ucap Widya.


Ya semua yang Widya beli adalah pemberian dari Ivan saat dulu diri nya sebelum hamil, Ivan adalah anak orang kaya namun saat ayah nya meninggal keluarga Ivan jatuh miskin.


Sedangkan Widya yang kala itu memikirkan masa depan mereka dia membeli kan uang itu agar tidak habis, dia takut suatu saat nanti akan membutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2