
Naura nampak bingung saat di bawa kesebuah butik oleh mama Widya, apa mungkin Mama nya akan membawa nya ke pesta sehingga mampir kesana.
"Kita kok kesini sih Ma?" tanya Naura heran saat Mama nya mengajak nya ke lantai atas menemui pemilik butik yang ternyata teman nya.
"Kita mau cari gaun buat ke pesta minggu depan mungpung kesini kita sekalian liat-liat," ucap nya.
Mereka pun langsung di sambut oleh bu Zihan beliau menyambut mereka dengan ramah dan menunjukan beberapa gaun mewah bahkan Naura berfikir kalo itu selerti jaun pengantin.
"Nah Ra itu adalah contoh gaun nya, kita akan membuat nya biar kamu bisa memilih bahan nya, ayo di ukur dulu yah," ucap bu Zihan.
"Apa harus ya tan?" tanya Naura heran biasanya kalo buat kepesta gak perlu repot-repot buat toh yang sudah jadi pun banyak.
"Biar spesial aja sayang, kamu mau ya di ukur?" tanya Bu Zihan.
Naura pun mengangguk dan di ukur oleh asisten nya bu Zihan, Naura tak bertanya apa-apa dia hanya pasrah toh kalo bertanya pun tetap saja dia harus menuruti nya.
Mungkin acara yang akan mereka hadiri adalah acara yang sangat megah sehingga harus membuat baju yang mewah.
"Nah udah selesai," ucap Zihan.
Dia manatap Mama nya yang sedang asyik telponan entah dengan siapa dia tidak ambil pusing, namun dia heran kenapa Mama nya tidak ikutan di ukur.
"Apa Mama gak ikutan di ukur ya tan?" tanya Naura heran.
"Ohh tidak, Widya sudah memesan nya beberapa hari karna yang dia mau sedikit susah dan membuat nya pun sedikit lama."
"Oh gitu," ucap nya.
Mama Widya pun menghampiri nya dan bertanya kepada Naura, karna mereka harus segera pulang.
"Gimana Ra apa sudah selesai?" tanya Mamanya. Naura pun mengangguk.
"Ya sudah kalo begitu, ayo kita pulang Mama nanti harus ke kantor ada metting soal nya," ucap nya.
__ADS_1
Mereka pun langsung saja pamit meninggalkan Butik nya tante Zihan karna hari pun sudah mulai sore.
Mereka langsung pulang, sesampai nya di
rumah Mama Widya langsung saja pamit bersama supir karna susah hampir telat.
"Kamu masuk dulu ya sayang, Mama mau langsung saja," ujar nya memberikan paparbag dan juga satu kantong keresek cemilan yang di beli nya di minimarket depan.
"Ya Mama hati-hati yah," ujar nya mencium pipi Mama Widya.
"Iya sayang."
Naura pun langsung masuk ke rumah dan ternyata sudah ada Cerry mungkin saja dia dari tadi di sana.
Kemarin Cerry bilang mau berkunjung dia sengaja ingin menghibur calon kakak ipar nya itu yang sedang sedih.
"Loh Cerry kapan datang?" tanya Naura melihat Cerry sedang duduk di depan tv bersama Remon.
Mereka pun berpelukan sambil cipika cipiki, sedangkan Remon dia masih asyik dengan ponsel nya.
Naura nampak senang melihat calon adik ipar nya itu, jujur dia ingin sekali curhat kepada Cerry, tentang Sean yang tak menghubungi nya selama satu minggu ini.
Cerry memang sudah sangat dekat dengan mereka bahkan Cerry sudah tidak canggung lagi bercanda dengan mereka apalagi dengan Naura.
"Kami dari butik gak tahu katanya Mama mau ke pesta dan pengen bikin ya sekalian saja katanya," jawab nya mendudukan bokong nya di sebelah Cerry.
Sedangkan Remon nampak duduk di sebelah Cerry dia seperti biasa akan memainkan ponsel nya main games.
Remon memang sudah mulai magang di kantor papa nya, namun cuma di cabang nya dan dia hanya menjadi stap biasa di sana tak menerima tawaran dari papa nya yang menyuruh nya bekerja di perusahaan pusat.
"Rey kamu kok gak ajak Cerry keluar sih bukannya kalian jarang ketemu yah kenapa malah kaya diem dieman gini," ujar nya.
Tanya Naura heran, biasanya mereka akan jalan nonton, atau untuk sekedar makan bersama.
__ADS_1
"Dia nya gak mau keluar Mba," jawab Remon
"Iya Mba ku lagi pengen di rumah aja males kemana-mana, mau ke rumah Kaila juga belum lagi males pokok nya," ucap nya.
Namun Naura melihat kesedihan di mata adik ipar nya itu, seperti nya Cerry menyembunyikan sesuatu.
"Kalian udah makan siang belum? kakak bawa ayam geprek nih kaya nya enak," ucap Naura.
Namun Cerry menggelengkan kepala nya, tidak seperti biasanya walau pun sudah makan dia tidak pernah menolak.
"Ya sudah kekamar yuk ada yang mau Mba ceritain sama kamu, Rey Mba pinjem Cerry bentar ya,"
Mereka pun duduk di balkon kamar Naura sambil menikmati ayam geprek yang di bawa Naura, memang sengaja dia mengajak Cerry ke kamar agar mood nya kembali baik dan benar saja Cerry makan dengan lahap.
"Tuh kan abis juga, kamu ada masalah apa sih Cerr?" tanya Naura membersihkan bekas makan mereka ke tempat sampah.
"Aku lagi kesel sama Kak Remon, masa dia jalan sama cewek lain sih makan siang berdua apa mungkin gak ada hubungan tapi sedekat itu," ucap nya kesal dia mengeluarkan ponsel nya dan memperlihat kan poto Remon sedang makan siang bersama di kantin kantor.
Ada dua poto di sana dengan baju dan tempat yang berbeda namun dengan wanita yang sama.
"Kamu udah tanya sama dia?" tanya Naura.
"Udah tapi dia cuma bilang temwn gitu, sebel banget kan."
Naura pun menghela nafas, dia jadi teringat dengan Sean dulu juga dia sering cemburu kalo Naura dekat dengan pria lain.
"Kamu harus percaya sama dia Cerr, kalo dia mungkin temannya bukan nya kamu suka buka-buka ponsel nya Remon pasti kalo dia selingkuh gak akan ngasih ponsel nya ke kamu," ujar nya mengelus pundak Cerry dia tahu Cerry pasti cemburu apalagi mereka jarang bertemu pasti dia takut Remon selingkuh.
"Terus masalah Mba gimana apa Kak Sean udah ada hubungi Mba?" tanya Cerry penasaran.Namun Naura menggelengkan kepala nya.
"Sabar ya Mba mungkin Kak Sean lagi cari cara buat luluhin hati Mama Widya," ujar nya.
Namun hati Naura benar-benar tidak enak bagaimana kalo dia hamil terus Sean gak ada, apalagi Mama nya tidak pernah mambahas Sean dan keluarga nya.
__ADS_1
"Apa mungkin Sean nyerah ya karna udah di tolak lamaran nya sama Mama, bisa aja kan di cari gadis yang mau sama dia gak menutup kemungkinan kan kalo tante Siwi akan mencarikan jodoh untuk nya," ucap nya lirih.
"Udah ahh Mba terlalu jauh mikir nya, aku memang belum lama mengenal Kak Sean namun aku yakin Kak Sean adalah orang yang bertanggung jawab."