
Ifa pun terus menangis dan tak memperdulikan rasa sakit di tangannya, hingga tak terasa mereka sampai di rumasakit.
Ifa pun turun dari mobil, sudah ada petugas yang menunggu di luar karna pemuda tadi sudah masuk terlebih dahulu meminta bantuan.
Icha pun di baringkan di atas brangkar dan segera di tangani dokter, Ifa juga di bawa ke ruangan rawat agar bisa di obati lukanya.
"Neng nya duduk dulu ya kami akan bersihkan dulu lukanya, " Ujar Suster yang menanganinya.
"Gimana kakak saya? " Lirihnya masih dengan isakan.
"Tenang ya semua pasti akan baik-baik saja, kakak nya sedang di tangani dokter, "
Ifa pun tak merasakan sakit saat lukanya di jahit, Dia terus saja cemas memikirkan kakaknya itu.
Dia pun ingat dengan pemuda yang mengantarkannya tadi." Sus apakah orang yang mengantar saya masih ada? "
"Ada, Dia di suruh menunggu di luar, " Ucap suster tersenyum, setelah luka itu selesai di jahit dan di beri perban mereka pun meninggalkan Ifa sendiri.
Suara pintu pun terbuka, pemuda itu pun masuk membuyarkan lamunan Ifa.
"Kamu gak papa kan? " Ujar nya mengelus kepala Ifa.
Ifa pun menatap pemuda itu,Dia pun terkejut ."Rey ngapain kamu di sini? " Ifa pun baru sadar kalo Rey yang menolong mereka.
"Maaf Rey, gue baru ingat kalo loe yang nolongin kita, makasih banyak. " Ujarnya menunduk .
Rey pun tersenyum, Dia pun duduk di kursi menatap tangan Ifa yang di balut perban.
"Luka mu pasti sakit sekali,jangan dulu banyak gerak ya, " Ifa pun mengangguk.
" Maaf aku telat datang, perasaanku gak enak saat akan pergi ke kampus untung saja aku lewat jalan sana, " Serunya, karna biasanya Dia tidak pernah jalan sana, dan kalo ke kampus jarang bawa mobil.
"Gak papa, sekali lagi makasih, bisa anter gue ketemu kakak gue gak? " Ifa pun terus saja gelisah memikirkan Icha.
Rey pun mengangguk dan kini mereka sudah masuk ke ruang rawat,namun Icha masih belum sadarkan diri, untung saja lukanya tidak parah.
Ifa pun berbicara dengan dokter dan bertanya ke adaan Icha, Setelah mendengar Icha baik-baik saja Ifa pun sedikit lega.
"Bisa gue pinjem ponsel loe gak? " Ifa berniat menghubungi keluarga nya di rumah.
Ifa pun memencet no rumah mereka namun tidak di angkat, Dia pun menelpon no rumah Abang dan tak lama terdengar suara dari sana.
__ADS_1
"Hallo Asamualaikum, " Terdengar suara Abang dari sana.
Ifa pun bernafas lega karna bisa mengabari calon suami kakaknya itu.
"Hallo siapa ini? "
"Abang ini gue Ifa ,gue lagi di rumasakit sama Teh Icha kami jatuh dari motor, tolong loe kesini ya dan kasih tau orang tua gue, "
"Loe gak becanda kan, bukannya Icha gak boleh keluar rumah? ini malah ada di rumasakit, "
"Udah nanti gue jelasin, gue di rumasakit H.S, "
Ifa pun mematikan telponnya dan menyerahkannya kepada Rey.
"Makasih banyak Rey, " Ujarnya menunduk, mereka sekarang sedang duduk di depan kamar rawat Icha.
Ifa pun terisak, Rey pun langsung memeluk Ifa, Dia tau Ifa sedang terpuruk dan ketakutan.
Setelah mulai tenang Rey pun melepas pelukannya, dan menggenggam tangan Ifa.
"Udah ya jangan nangis lagi, kamu dengerkan tadi kata dokter kalo teteh kamu baik-baik saja, sebentar lagi pasti baikan, " Ujarnya.
Tak berselang lama Abang pun datang dengan orang tuanya.
"Maaf mas, teh Icha ada di ruang rawat silahkan masuk, " Ujar Rey, karna Ifa masih diam saja tidak bisa di ajak bicara.
Abang pun masuk ke dalam, terlihat Icha terbaring lemah dengan selang infus dan juga perban di kepalanya.
Sedangkan Ibu dan Bapanya memeluk Ifa." Kamu gak papa kan nak, Ibu sama Bapak cemas sekali saat Abang tiba-tiba datang kerumah, " Ujar Bapak.
"Apapun alasannya Ibu marah sama kalian, berani-beraninya keluar tanpa izin, ,gimana keadaan kakakmu? " Ibu terisak.
"Sudahlah Bu, mereka kan tidak apa-apa jangan di marahi kasian, liat Ifa ketakutan begitu, "
"Teteh gak papa kata dokter hanya pingsan, bentar lagi juga bangun, maaf Ifa yang salah gak bisa jagain teteh, "
Ibu pun mulai tenang, dan ikut duduk di sana ,menunggu Abang keluar, sedangkan Rey berdiri tak jauh dari sana.
"Apa anda yang udah nolongin anak saya? " Rey pun mengangguk."Terimakasih banyak nak, " Ujar Pa Harun.
"Sama-sama Pak, " jawabnya canggung. " Kenalkan saya Rey, pacarnya Ifa, " Serunya membuat Ifa melongo, namun orang tuanya terlihat tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Saya Harun ayahnya Ifa dan itu Bu Yani istri saya, " Ucapnya,dan Rey pun mengangguk tersenyum, setelah itu Dia menyalami mereka, sedangkan Ifa hanya diam saja.
Abang sendiri duduk di samping Icha yang baru saja sadar dan memegang kepalanya yang masih pusing .
"Aku dimana? "
"Sayang kamu udah bangun, mana yang sakit? " Abang pun menggenggam tangan Icha, Dia senang akhirnya Icha sadar .
"Kamu siapa? " Ujarnya bingung.
"Sayang ini aku, masa kamu lupa sih calon suami kamu, " Ujarnya, Abang bingung apa Icha lupa ingatan pikirnya.
"Aku gak ingat apa-apa, " Jawabnya, membuat Abang cemas.
"Aku panggil dokter dulu ya kaya nya ada yang salah sama otak kamu, " ujarnya, namun Icha menahan tangan Abang agar tidak pergi.
Abang pun menoleh dan Icha pun tersenyum. " Maaf aku cuma becanda, " jawabnya, Abang pun merasa lega Dia duduk kembali dan memeluk calon istrinya itu.
"Kamu tuh benar-benar ya, aku khawatir banget tau malah di becandain, " Ujarnya mencium pipi Icha bertubi-tubi, sungguh Dia sangat rindu sekali sudah satu minggu lebih tidak bertemu.
"Udah ihh, malu tau kalo ada orang yang masuk, " Ujarnya melepaskan pelukan Abang.
Abang pun keluar memanggil orang tuanya Icha agar masuk ke dalam, mereka bersyukur Icha tidak apa-apa.
Tak berselang lama Bunda Cici dan Ayah Edi pun datang bersama Nenek Asmar, mereka langsung masuk ke ruangan rawat Icha.
Terlihat Icha sedang duduk berbincang dengan Abang, sedangkan orang tuanya duduk di sopa.
Di sisi lain Ifa duduk di bangku dekat taman bersama Rey.
"Makasih banyak Rey, Gue gak tau kalo gak ada loe akan kaya gimana, " Jujur saja Ifa sangat takut terjadi sesuatu dengan kakaknya, tapi saat dokter bilang Icha tidak apa-apa Ifa merasa lega, dan sekarang baru terasa sakit di tangannya begitu ngilu.
"Udah kewajiban aku bantuin kamu, karna kamu tanggung jawab aku Fa,aku akan sangat merasa bersalah kalo kamu kenapa-napa, kenapa sih kamu hindarin aku terus? "
Ifa pun mengatap Rey dari samping Dia tak mengerti jalan pikiran Rey, bukannya Dia sudah bertunangan dengan Anggel namun Ifa tak melihat cincin di jari tangannya.
"Udahlah Rey kita udah lama putus, jangan pernah bahas lagi hubungan kita,m, aku gak mau jadi orang ketiga diantara kalian, " Ujarnya menatap jauh kedepan.
"Kalian siapa? pacar aku cuma kamu Fa, emang nya aku punya pacar lagi selain kamu gitu, " Ujarnya menggelengkan kepala,Dia tidak habis pikir kenapa dengan Ifa.
"Bukannya kamu sudah tunangan sama Angel, berita itu udah lama tersebar sebelum kalian berlibur ke luar negri,"
__ADS_1
"Jadi gara-gara berita itu kamu jauhin aku terus blokir nomor aku? Ifa denger sayang aku gak ada hubungan apa-apa sama Angel,Dia bertunangan dengan sepupuku, dan masalah ke luar negri aku terpaksa itu pun urusan pekerjaan," Setelah mendengar penjelasan Rey Ifa pun sedikit tenang.
.