
Sekarang pun Kenzie tidak bisa pergi, karena Ken sudah bergantung padanya.
Mulai dari kali pertama mengonsumsi ASI Kenzie, Ken jadi tidak pernah mau mengonsumsi susu formula lagi.
Setiap hari ia lebih memilih menangis terus-terusan daripada harus mengonsumsi susu formula.
Reyhan terus menggunakan Ken untuk mengunci Kenzie, setap kali Ken menangis pasti ia berlari dengan penuh tatapan sedih ke sisi Kenzie untuk meminta tolong: “Kenzie, Ken menangis begitu keras, tolong berikan dia ASI!”
Sekali mendengar Reyhan berbicara seperti itu, ia pasti bisa tidak menolak kesempatan untuk menyusui Ken.
Ken seakan tau bahwa Kenzie sudah datang, ia langsung tersenyum kepada Kenzie dengan gigi ompongnya, hati Kenzie sekejap berubah lembut. Hanya dengan melihat Ken, Kenzie akan langsung melupakan segala penghinaan dan kesulitan yang ia alami.
“Sayang, anak baik, ayo makan! Makan yang banyak…”, Kenzie memeluk anak itu sambil menyusuinya, terlihat di wajahnya penuh rasa keibuan, ia bicara dengan suara yang lemah lembut, suara yang dari dulu tidak pernah Reyhan dengar.
Reyhan duduk di sofa berpura-pura membaca koran, tetapi matanya tidak berhenti mengintip Kenzie yang sedang menyusui. Melihat anaknya minum susu dengan penuh sukacita, hatinya terasa hangat.
“Tidak usah pura-pura! Kalau mau lihat, ya lihat saja!”, Kenzie sudah menyadari dari awal kalau Reyhan sedang mengintip, ia pun mencibirnya.
“Kenzie, kamu tidak usah berpikir aneh-aneh! Kamu pikir payudaramu begitu menggoda? Aku hanya merasa penasaran, apakah ASI begitu enak? Kenapa Ken begitu bersemangat meminumnya?!” Reyhan tidak mendengar sindiran Kenzie, malah ingin berdebat dengannya.
“Kamu……!”, muka Kenzie memerah setelah mendengarnya. Ia malas untuk menjelaskannya ke Reyhan, ia pun melanjutkan menyusui Ken.
Bayi itu akhirnya kenyang, merasa puas, dan akhirnya tertidur di pelukan Kenzie.
Kenzie dengan lembut menyanyikan sebuah lagu, dengan penuh hati-hati memasukkan Ken ke dalam ayunan tidurnya.
Reyhan melihat bayi itu sudah tertidur, lalu ia mendekati Kenzie dan berkata: “Kenzie, aku juga mau mencobanya.”
“Coba apa?”, Kenzi terkejut.
“Ini…”, Reyhan menunjuk dan menyentuh bra yang dikenakan Kenzie.
“Kamu! Kamu tidak tau malu ya!”, kata Kenzie kesal. Ia tak pernah menemukan lelaki seperti ini, lelaki yang ingin merebut apa yang seharusnya diberikan untuk anaknya.
“Ayolah Kenzie, biarkan aku mencobanya! Aku ingin tahu bagaimana rasanya, Ken meminumnya dengan lahap setiap hari, sepertinya rasanya lezat.” Reyhan terus menyentuh Kenzie.
“Keluar!!!” Kenzie melepaskan tangan Reyhan dan mendorong Reyhan keluar.
Reyhan menarik pinggang Kenzie dan berkata: “Meski belum pernah meminumnya, tetapi aku telah menjilatnya beratus-ratus kali, untuk apa harus malu?”
Melihat sepasang mata Reyhan, Kenzie merasa dirinya seperti sedang tidak mengenakan pakaian sama sekali. Tangan Reyhan sudah memasuki pakaian dalam Kenzie, Kenzie terkejut sampai tidak tahu bagaimana harus melawannya.
“Brengsek!” rok yang sudah dijahit berkali-kali, kini sudah mulai robek.
“Reyhan!” teriak Kenzie. Sekarang Kenzie benar-benar sudah marah! Sekarang ia hanya punya rok yang itu! Reyhan sialan!
Melihat Kenzie dengan satu tangan di dada dan satu tangan mencoba menarik rok yang robek, Reyhan tak kuasa tertawa: “Kenzie! Apa kamu sadar bahwa kamu kelihatan sangat lucu saat ini? Hahahaha……”
Kenzie yang kesal pun memukul kepala Reyhan dua kali dan berkata: “ini semua karenamu!”
Reyhan tertawa sambil membawa Kenzie dalam pelukannya: “ayo, aku antar kamu membeli pakaian baru!”
Setelah memilih salah satu pakaian bekas Nayra, Reyhan pun membawa Kenzie keluar.
Reyhan membawa Kenzie pergi ke sebuah toko pakian mahal dan membelikannya banyak pakaian.
Karyawan toko menawarkan berbagai pakaian dengan penuh keramahan tetapi Reyhan seakan tidak peduli.
Sampai di depan sebuah rak pakaian, Reyhan mengambil beberapa potong pakaian dan melemparkannya ke karyawan toko.
__ADS_1
Kenzie terdiam tak bisa berkata-kata melihat gaya Reyhan memilih baju, sekaligus merasakan bagaimana rasanya jadi orang kaya.
Reyhan dengan gayanya yang sekarang sudah terlihat seperti orang kaya baru.
Sombong dan penuh keangkuhan.
Saat memilih sepatu Reyhan pun dengan penuh kesombongan, meminta mereka membawakan semua sepatu yang sesuai dengan ukuran Kenzie, dan menunjuk berpasang-pasang sepatu.
Karyawan-karyawan toko pun iri melihat Kenzie.
“……”
Kenzie tak kuasa menahan tatapan mata dari para karyawan, ia pun diam-diam pergi ke daerah sepatu pria dan meninggalkan Reyhan sendirian.
Reyhan membelikan berbagai Kenzie pakaian, satu pakaian ini bisa dipakai berapa tahun lamanya.
Tiba-tiba seorang karyawan toko mendatangi Kenzie, ia tersenyum dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris.
Kenzie sedikit tertegun, ia hanya bisa mengerti kata “suami”,”sepatu pria” sejenis itu, yang lainnya ia tak mengerti sedikitpun.
Reyhan yang sedang memilih sepatu tiba-tiba mendekat dan berkata: “Kamu sudah memilihkan sepatu untukku?”
“Apa?”
Kenzie terbingung, apakah karyawan itu tadi mengatakan: “suamimu sangat berkharisma, sangat cocok dengan sepasang sepatu ini.” ?
Reyhan sama sekali tidak memperhatikan kebinggungan Kenzie, ia berjalan ke sebelahnya, lalu mengambil sepatu hitam cerah dan mengerutkan alisnya: “Kenzie, apakah seleramu seperti ini?”
Sepatu runcing ini sudah bukan trend terbaru lagi, tetapi sepatu itu adalah sepasang sepatu kulit buatan tangan, detail dan pengerjaannya sangat indah.
Kenzie terdiam, ia hanya berdiri di daerah sepatu pria…
Melihat mood Reyhan yang sedang baik, Kenzie memilih tersenyum: “ya, seleraku tidak terlalu bagus, yasudah kembalikan saja sepatu itu.”
Tidak disangka, Reyhan melemparkan sepatu kulit itu ke tangan Kenzie dan berkata: “Pakaian sepatu ini padaku.”
Kenzie menatap Reyhan, tetapi Reyhan tidak menangkap arti tatapan Kenzie, ia malah duduk di sofa dengan kaki bersilang, satu kakinya dijinjitkan, dengan tatapan yang dalam ia menatap Kenzie, seperti sedang menunggunya.
Karyawan yang banyak omong ini terdiam takut, dia terus menatap adegan dimana Kenzie terlihat seperti pembantu yang sedang memasangkan sepatu kepada seorang majikan.
Menarik napas dalam-dalam, Kenzie menyimpan ketidaknyamanan hatinya, berlutut di depan kaki Reyhan untuk menukarkan sepatunya, di posisi ini, ia benar-benar terlihat seperti pembantu.
Sepatu kulit itu sudah terpasang, tetapi Reyhan tidak berdiri ataupun berjalan, hanya duduk di sana, menggoyang-goyangkan kakinya. Sepatu kulit tersebut terlihat tergantung-gantung di kaki, sepertinya ukuran sepatu itu sedikit terlalu besar.
Wajah Reyhan berubah menjadi gelap: “Kenzie, bagaimana cara kamu memilih sepatu?”
Kenzie kali ini kembali tidak bisa berkata-kata.
Sepatu ini dari awal bukan Kenzie yang menentukan bagus atau tidak.
“Kamu tidak tahu ukuran sepatuku?”, Reyhan dengan nada tinggi menegur Kenzie.
“Ehmm……”, Kenzie tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Kenapa Kenzie harus mengingat ukuran sepatunya?
Melihat Kenzie yang termenung, Reyhan semakin cemberut! Ia bahkan bisa mengingat ukuran sepatu Kenzie, tapi wanita kecil ini benar-benar tidak tahu ukuran sepatu Reyhan.
Sangat bagus.
__ADS_1
Reyhan baru saja ingin meluapkan emosinya, tiba-tiba mendengar Kenzie memberi tahu karyawan tentang ukuran sepatunya dalam bahasa Inggris.
“Baru ingat?”, wajah Reyhan sedikit tenang tetapi masih bersikap dingin.
“Ehmmm…iya…” Kenzie menjawab dengan sedikit ketakutan. Sebenarnya, Kenzie melihat sepatu yang di lantai, dan di dalam sepatu ada ukurannya.
Mengingat wajah Reyhan berubah menjadi gelap tadi, Kenzie merasa benar-benar tkebingungan. Cuma karena tidak ingat ukuran sepatunya, haruskah sampai semarah itu? Masih menjadikanku seakan pembantunya?
“Ingatlah apa yang sudah kau lihat, kali ini aku maafkan.” Reyhan bersikap dingin. Tetapi bibir tipis nan seksi itu, wajah yang dingin sekejap menjadi sangat lembut.
“Wah……Cepat sini lihat!”
Semua karyawan di toko mengintip, menonton kejadian itu, mereka pun memandang dengan mata memerah dan seperti dibodohi mantra cinta.
Kenzie mau tidak mau mengakui, saat Reyhan sedang tidak marah, ia terlihat sangat tampan.
Saat keluar dari toko baju, Reyhan sudah memakai sepatu baru. Sepatu yang lama sudah dibuangnya ke tong sampah.
Angin malam itu cukup kencang. Kenzie terlihat kedinginan, Reyhan pun menatapnya dan memeluknya.
“Beng……”, sebuah suara tembakan menembus ketenangan malam itu.
Semua orang di jalan berhamburan, kabur kesana kabur kemari.
Kenzie juga menunduk, Reyhan membawanya bersembunyi, dalam sekejap mereka berjongkok di belakang sebuah mobil.
Kenzie yang dalam pelukan Reyhan terkejut bukan main, memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Jangan bergerak, bersandar disini!” Reyhan memeluk Kenzie lebih erat lagi sambil berbicara pelan-pelan .
Selesai berbicara, sesuatu berguling dari belakang mobilke sudut tembok. Kenzie melihat Reyhan berdiri tegak dan dari mengeluarkan pistol saku bajunya.
Dari celah di antara roda, Kenzie melihat dengan jelas di samping ada orang asing dengan sepasang mata yang besar sedang tengkurap, tidak bergerak, ada darah mengalir di kepalanya, dan terus mengalir sampai ke dekatnya.
“Ah……”, Kenzie hampir mengeluarkan suara, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Tadi orang asing ini berjalan di sebelahnya dan Reyhan.
Jika barusan bukan Reyhan yang menarik tangannya, sekarang kepala yang hancur itu mungkin adalah kepalanya!
Di tengah kebingungannya, Kenzie mendengar sekelompok orang Tiongkok menggunakan bahasa mandarin berteriak pelan: “sepertinya lari ke sudut tembok sebelah sana. Kita berpencar!”
Sangat jelas orang-orang ini sedang mencari dirinya dan Reyhan. Hati Kenzie mulai menegang.
Dia menengok ke arah sudut tembok, Reyhan masih berdiri disana. Jika bukan karena Kenzie tahu Reyhan bersembunyi disana, ia mengira itu adalah sebuah pohon.
Bayangan hitam semakin mendekat, hati Kenzie rasanya sudah naik ke tenggorokan.
“Beng, Beng, Beng!” suara tembakan terdengar tiga kali, dan dua tubuh tak bernyawa jatuh. Reyhan sudah mengalahkan dua musuh.
Dan salah seorang lagi terus-menerus menempel di tembok dan perlahan mendekati Reyhan.
Kenzie meneriaki nama Reyhan, membuat Reyhan memperhatikannya, Reyhan tiba-tiba keluar dari sudut tembok itu, dan suara “beng” itu kembali terdengar, bayangan hitam itu jatuh ke tanah.
Kenzie akhirnya menghela napas lega. Belum sempat berteriak “Terima Kasih Tuhan!”, Reyhan sudah menariknya ke sisi jalan kecil lainnya.
Kenzie dibawa lari oleh Reyhan, tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang panas menempel di lengan Reyhan, dan mengalir ke tangan Kenzie.
Hati Kenzie kembali menegang, sambil ia berlari ia bertanya ke Reyhan: “Reyhan, apakah kamu terluka?”
__ADS_1