CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 162 Mengakui Kesalahan Sendiri


__ADS_3

Melihat Ken, hati Kenzie sakit seperti tertusuk pisau, walaupun katanya orangtua tidak boleh berdebat di hadapan anak kecil, tapi dia sudah tidak tahan!


Ia memeluk Kendan berkata kepada Reyhan, “Apa-apaan kamu! Anak kecil sesekali manja, bukankan hal yang wajar? Kenapa kamu malah memukul dia?”


Sebenarnya Reyhan hanya ingin mengajari Ken bagaimana menjadi seorang laki-laki, tidak boleh cengeng seperti anak perempua, tapi akhirnya ia tidak berani berbicara lebih jauh, melihat Ken bersedih, hatinya pun ikut bersedih.


Reyhan berjongkok, dengan perasaan bersalah menatap Ken, “Ken, maaf, ayah hanya, hanya berharap kamu lebih kuat, ayah tidak sengaja…”


Melihat Ken bersembunyi di pelukan Kenzie dengan sepasang mata yang ketakutan, hati Reyhan makin tidak nyaman.


Dia menyalahkan diri, mencoba mengulurkan tangan untuk menggendong Ken, dan sudah menyiapkan hati untuk ditolak oleh Ken.


Ken menatap Reyhan, dengan keraguan sepersekian detik, akhirnya dia kembali kepelukan ayahnya, “Tidak apa-apa ayah, ayah marah karena Ken memaksa Tante Kenzie. Ken anak pintar, tidak perlu ditemani oleh Tante Kenzie.” Ken tersenyum lebar dengan sisa air mata di bulu matanya.


Mata Reyhan merah berkaca-kaca, memeluk erat Ken. Sifat pengertian anak ini membuat orang menyayanginya.


“Ayo, ayah temani kamu naik roller coaster.” Reyhan menggendong Ken dan menaikkannya kepundaknya, lalu berkata kepada Kenzie, “Disana ada yang menjual minuman, kamu duduk saja disana dan tunggu kami!”


Kenzie tidak menghiraukan Reyhan, dengan wajah yang tersenyum melihat Ken “Sayang, Tante Kenzie akan menemanimu!”

__ADS_1


Ken terkejut,sepasang matanya membesar, dan dengan pengertiannya menggelengkan kepala, “Tante Kenzie, kalau kamu tidak suka bermain roller coaster, kamu tidak perlu menemaniku. Aku anak laki-laki, aku tidak mau memaksa bibi.”


Kenzie tertawa, “Tidak, sekarang tante ingin bermain ini.”


Setelah bermain roller coaster, mereka bermain kapal bajak laut dan labirin, Ken sangat gembira, ia memegang perutnya dengan manja berkata kepada Kenzie, “Tente, aku lapar.”


Reyhan menggandeng tangan kecil Ken, “Ayo, kita cari tempat makan yang enak, makan yang banyak!”


Satu tangan Ken menggandeng Reyhan dan tangan lainnya menggandeng Kenzie, dengan nakalnya berlompat, ia terlihat seperti kera nakal yang lucu.


Sepanjang jalan Reyhan melihat peta dan berbicara kepada Kenzie, tapi tidak dihiraukan, senyum dan kehangatan Kenzie hanya untuk Ken seorang.


Reyhan sadar Kenzie masih marah karena dia memukul Ken, didalam hati kecilnya, ia tidak kesal, malah merasa bahagia.


Pada saat Ken pergi ke toilet khusus anak-anak, Reyhan memberanikan diri berjalan perlahan kesamping Kenzie, “Kenzie, kamu masih marah? Ken saja sudah tidak marah, mengapa kamu masih marah?”


Begitu Reyhan membahas ini, Kenzie menjadi emosi lagi.


Dengan suara yang pelan sambil menahan amarah berkata, “Reyhan, kamu benar-benar tidak pantas menjadi seorang ayah!”

__ADS_1


Reyhan sangat sedih, “Apakah seburuk itu? Aku hanya menepuk kepalanya dengan pelan! Mengajari anak memang harus tegas. Kalau anak perempuan, aku pasti tidak akan main tangan.”


Kenzie sangat marah sampai tidak ingin menghiraukannya lagi, setelah beberapa saat ia berkata, “Apakah itu cara mengajarkan anak? Bermain tangan adalah cara yang paling buruk! Itu hanya akan melukai anak! Apakah kamu tidak merasa bahwa Ken sangat penurut? Anak umur 5 tahun, memang sewajarnya nakal, tidak kenal waktu, bahkan jika dia sengaja, nasehati saja dan beritahu kalau itu tidak baik. Kamu malah memukulnya! Jangan bilang padaku kalau kamu hanya menepuknya, apa bedanya itu dengan memukulnya?!”


Kenzie selesai bicara, Reyhan diam sesaat lalu berkata, “Kamu benar, aku terlalu tegas terhadap Ken. Aku hanya takut, karna dia tidak memiliki ibu, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang dididik. Tidak disangka, aku malah terlalu kasar…”


Kenzie tidak menyangka Reyhan akan menyesal sampai seperti itu.


Reyhan orang yang tidak mau mengalah dan selalu memaksa, kuat dan sombong. Tapi sekarang, dia mengakui kesalahannya.


Mungkin, lima tahun ini sudah mengubahnya…


Kenzie menghela nafas dan melembutkan nada bicaranya, “Lain kali harus lebih lembut terhadap Ken! Dia masih kecil, tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, kalau kamu terlalu tegas, kasian dia!”


Cara bicaranya sangat lembut, sinar matahari senja memantul kewajahnya, kecantikan dan sifat pengasihnya seolah seperti seorang dewi.


Reyhan tersentuh, mengurungkan niat untuk mengatakan kata-kata yang ingin dikeluarkannya.


Belum saatnya, dia harus kuat dan menahan diri setahun lagi.

__ADS_1


Sebagai generasi ketiga Group Realtech, dia tidak hanya harus menahan diri, masih harus tegar dan kuat, untuk masa depan putranya yang labih baik.


Tidak ada yang bisa menggantikan Ken di hatinya, bahkan Kenzie sekalipun.


__ADS_2