
Hello! Im an artic!
Wajah Kenzie yang awalnya pucat saat itu memerah sampai ke leher. Ini benar-benar memalukan! Celananya terkena noda darah, dan kebetulan ia bertemu mantan atasannya!
Melihat Kenzie yang tampak malu, Gunadi tiba-tiba sadar.
Hello! Im an artic!
Wajahnya yang tadinya penuh kekhawatiranpun menjadi merah. Dia pun mundur satu langkah, tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan hal seperti ini.
Sekarang musim panas, mereka berdua hanya memakai satu helai baju, jadi Gunadi tidak bisa memberikan sebuah jaket untuk menutupi celana Kenzie.
Di sebelah cafe kebetulan ada toko kecil, Gunadi menatap toko itu, lalu menoleh ke Kenzie, “Kenzie, kamu tunggu sebentar.”
Sambil bicara, dia pun pergi ke toko itu. Hal yang paling penting sekarang adalah membelikan pembalut untuk Kenzie dan membawanya ke toilet cafe, ini seharusnya akan membuatnya lebih baik. Gunadi berpikir di dalam kepalanya, akan sangat aneh bagi seorang pria untuk membeli pembalut wanita, tapi di dalam keanehan ini, ada rasa yang hangat.
Hello! Im an artic!
Beruntung mobilnya boleh berhenti di jalan ini, Kenzie tidak mau naik ke mobil, takut mengotori mobilnya, dan takut orang lain melihat ada darah di celananya, ia mau tidak mau berdiri sedekat mungkin dengan pintu mobil. Perutnya sangat sakit, Kenzie sekuat tenaga memegang pintu mobil agar bisa berdiri dengan stabil.
Gunadi baru pergi, ponsel Kenzie berbunyi.
Ternyata Reyhan yang meneleponnya.
Kenzie mengangkat teleponnya dengan suara lemah, “Halo?” di detik ini, Kenzie sangat membenci pria ini.
“Dimana kamu? Kamu lupa mengembalikan hasil tes DNA itu padaku. ” ucap Reyhan dengan sangat dingin.
__ADS_1
Kenzie baru teringat, hasil tes DNA itu masih ada di tangannya.
Ia menahan rasa sakitnya, suaranya lebih dingin dari Reyhan, “Aku di depan cafe, kemari-lah, ambil saja tes DNA ini!”
Dalam sekejap, mobil Reyhan tiba di persimpangan.
Dia memmarikan mobilnya di belakang mobil Gunadi, lalu turun bersama Tania.
Kenzie menyenderkan tubuhnya di pintu mobil agar mereka tidak melihat celananya. Dia memberikan hasil tes DNA itu pada Reyhan, “ini.”
Reyhan menatap wajah Kenzie yang pucat, dahinya yang mengerut, ia mengambil hasil tes DNA itu, tetapi tidak langsung pergi.
Tania sedikit tidak senang, lalu menarik Reyhan kembali, “ayo pergi!”
Gunadi berjalan ke arah Kenzie sambil membawa sebuah kantong berisi pembalut, melihat Reyhan dan Tania berdiri di sebelah mobilnya, ia sedikit kaget, “Presdir Reyhan, kebetulan sekali, kenapa anda ada di sini?”
Reyhan menatapnya, lalu menatap kantung berisi pembalut yang ada di tangannya, matanya menjadi gelap, “Pak Gunadi, apa ini?”
Tania juga melihat pembalut dalam plastik itu, ia sangat kesal.
Pesona apa yang sebenarnya dimiliki Kenzie, semua pria tertarik padanya! Pak Gunadi ini terlihat pintar dan berwibawa, ia bahkan membelikan pembalut untuk Kenzie!
Tidak cukup menarik perhatian Reyhan, Kenzie masih menarik perhatian Pak Steven, sekarang ia menggoda Pak Gunadi.
Membeli pembalut wanita…bukankah ini hal yang hanya dilakukan oleh pasangan? Kalau ada yang mengatakan Kenzie dan Gunadi tidak pernah tidur bersama, Tania tidak akan percaya!
Kenzie melihat Tania yang menatapnya dengan jahat, hatinya sedikit jijik, dia memegang bahu Gunadi, “Gunadi, ayo kita pergi ! Bukankah tadi kamu bilang kamu ingin mengajakku nonton film? Kalau tidak pergi sekarang, bisa-bisa kita terlambat!”
__ADS_1
Ia tidak peduli lagi bahwa celananya akan mengotori mobil Gunadi, dia menutupi panggulnya dengan tasnya, lalu naik ke mobil dengan elegan. Dia pun sama sekali tidak melirik Reyhan.
Gunadi dengan sopan melambaikan tangannya ke Reyhan dan Tania, “Maaf, kami pamit dulu. Aku dan Kenzie pergi dulu.”
Mobilnya pun melaju pergi, meninggalkan Reyhan yang kaget dan Tania yang kesal.
“Pak Gunadi, maaf…” Kenzie menggigit bibirnya, dan meminta maaf.
Gunadi tersenyum sedikit sambil menyetir mobil,, “tidak apa-apa, aku mengerti.”
“Kamu mengerti?” Kenzie sedikit penasaran, Gunadi mengerti mengapa dia minta maaf?
“Tentu saja aku mengerti. Kamu sengaja memanfaatkanku agar Reyhan marah kan?” hati Gunadi sedikit pahit, ia tadi melihat pandangan mata Reyhan dengan sangat jelas.
Pandangannya marah, cemburu, tetapi juga tertekan. Sebagai sesama pria, dia tahu jelas arti pandangan itu.
Reyhan cemburu. Tapi Kenzie sama sekali tidak melihatnya. Sikap Kenzie hanya membuat keadaan semakin parah.
Kenzie semakin malu karena ucapan Gunadi, “Aku benar-benar maaf, aku yang kehilangan kontrol.”
Gunadi menoleh melihatnya, “Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kamu memanfaatkanku.” Dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, “masuklah ke dalam KFC dan urus dulu masalahmu ini!”
Sambil bicara, ia memberikan pembalut itu ke Kenzie.
Perhatian seperti ini, kehangatan seperti ini…
Kenzie mengangkat matanya melihat Gunadi, tersenyum dengan canggung dan berterima kasih, “terima kasih!”
__ADS_1
Kenzie menggunakan tasnya untuk menutup dirinya dan masuk ke KFC. Gunadi melihat bayangannya, menghela napas panjang, memikirkan kenapa wanita baik ini bukan miliknya?
Tapi, melihat situasi sekarang, Reyhan sudah memiliki kekasih, seharusnya Kenzie sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya. Sepertinya, dirinya masih memiliki kesempatan.