
Saat melihat Kenzie masih melamun, Reyhan menjulurkan tangan mengelus wajahnya, “Hanya memasakkan makan malam saja, apa kamu tidak rela?”
Kenzie terdiam. Menundukan kepala dan mengambil barang belanjaan lalu menyusunnya.
Setelah berpikir senejak, ia baru berani bertanya. “Itu, setelah selesai makan, kamu akan pergi ke kantor atau pulang rumah?”
Sebenarnya maksud dari pertanyaan Kenzie adalah, “Reyhan setelah makan, kamu bisa cepat pergi dari sini tidak?”
Reyhan tidak merasakan maksud tersembunyi dari kalimat itu, lalu ia menjawab dengan lembut, “Pergi kantor dulu, setelah dinas keluar kota untuk beberapa hari, banyak urusan yang menumpuk di kantor.”
Dalam hati, Kenzie diam-diam merasa senang, ia langsung mengambil bahan makan dan pergi ke dapur.
Kenzie mempunyai sayur andalan, ikan daun bawang.
Daging ikan dipotong, ditaburi garam, lalu dimasukkan air jahe dan arak, didiamkan selama 15 menit, lalu digoreng menggunakan minyak panas yang dimasukkan merica dan daun bawang, setelah selesai digoreng, ditaburi irisan cabai dan daun ketumbar. Aroma daun bawang yang kuat, rasa pedas asam yang menyegarkan, meningkatkan nafsu makan.
Saat dia di luar negeri, ia belajar cara masak dari teman Taiwan nya, hasilnya, banyak menyukai masakannya,setiap orang yang memakan ikan ini selalu memujinya.
Kenzie sibuk di dapur, baru saja merendam ikannya, pinggangnya dipeluk Reyhan dari belakang, bibirnya yang membawa hawa panas mendekati lehernya.
“Wei! kamu mau apa!” Kenzie kesal,ia tidak terpikirkan bahwa tangannya masih kotor, ia langsung mengeluarkan tangan dan mendorong dada Reyhan.
“Aku hanya ingin menciummu sebentar saja, kenapa kamu begitu heboh ?!” Kata Reyhan dengan nada lugas.
__ADS_1
“Kamu mau makan atau tidak?” Kata Kenzie sambil menahan ketidakkesenangannya, dan melakukan gerakan seolah akan membuang ikan itu ke tong sampah.
Reyhan merasakan perut yang kosong, ia mencium aroma kuali, lalu melihat di piring ada ikan segar, aura jahatnya pun tidak jadi ia tunjukkan. Dia mengacak-acak rambut Kenzie dengan lembut. “Baiklah, Kamu ini jahat sekali!”
Reyhan keluar dari dapur, Kenzie langsung mengunci dapur dari dalam. Takut Reyhan masuk dan melecehkannya lagi saat ia memasak.
Sayur sudah ditumis, ikan juga sudah digoreng, Aroma makanan memenuhi seluruh area dapur, Kenzie puas dengan masakannya sendiri.
Baru saja ingin berteriak memanggil Reyhan untuk membawakan makanan ke atas meja, Reyhan tiba-tiba mengetuk pintu, a terlihat dari pintu kaca buram sekelompok benda putih tergantung ditangannya, Reyhan tertawa keras sambil menggoyang-goyangkan benda putih di tangannya “Kenzie, kamu kekanak-kanakan! Kamu sudah berumur 27 tahu, masih saja memakai ****** ***** bergambar kartun!”
Kenzie dengan cepat membuka pintu. Tangan Reyhan mengayun-ayunkan ****** ***** yang belum sempat ia cuci. Ekspresinya sangat meledek.
Wajah Kenzie memerah, ia langsung merebut kembali ****** ***** itu “Reyhan! kamu ini psikopat! kamu benar-benar tidak tahu malu!”
Kenzie kesal dan malu, dia mengangkat kaki lalu menginjak kaki Reyhan sekuat-kuatnya!
“Ahh!” Reyhan langsung berteriak berlebihan, seakan sangat kesakitan, ia terjadihke arah sofa yang di belakangnya. “Kenzie, apa kamu tidak tahu kalau kaki pernah luka? Habislah! Kakiku pasti patah!”
Kakinya pernah terluka? Kapan? Otak Kenzie langsung kacau, melihat Reyhan yang kesakitan,ia sedikit panik. “Kamu jangan panik, apa mau cek ke dokter?”
Mata Reyhan berbinar sejenak, lalu menyepitkan matanya, ekspresi kesakitannya semakin berlebihan, alis tebalnya mengekerut kesakitan. “Tidak ada guna cek ke doker, dokter dalam negeri sama sekali dapat memeriksanya dengan baik.”
Kenzie menatap Reyhan, seketika terdiam beberapa detik.
__ADS_1
Lalu, dia berjalan ke samping Reyhan, berlutut dan menjulurkan tangannya, jarinya pelan-pelan memijat telapak kaki Reyhan. “Disini sakit tidak?”
Reyhan menikmati wajah perempuan cantik jelita ia, sambil merintih kesakitan, “Iya, iya, disana… sakit!”
“Apa masih sakit?” Kenzie menggertakan gigi dan langsung berdiri, sekali lagi dia menginjak kaki Reyhan sekuat-kuatnya!
“Kau! Kau…” Reyhan sangat terkejut, matanya membesar melihat Kenzie.
Kenzie tertawa dingin. “Terus! Terus saja, bukannyakamu hampir mati kesakitan? Kenapa tidak sekalian pingsan aja?”
Reyhan sadar jika triknya sudah ketahuan, dia terbahak-bahak. “Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku berpura-pura?”
Kenzie dengan datar berkata, “Orang yang gengsi besar sepertiamu, walaupun gigimu patah pun pasti tetap menjaga mukamu dan berpura-pura baik-baik saja. Mana mungkin berteriak kesakitan! Dadi aku semoat panik sebentar,lalu aku baru sadar aku ketipu! Dengan kepintaranku, membuka kedokmu adalah hal yang gampang!”
Kenzie dengan sombong berkata seperti itu. Dia tidak sadar Reyhan menatapnya semakin lama semakin dalam, tatapannya semakin tajam.
Dia pelan-pelan berdiri, mengangkat dagu Kenzie pelan-pelan, memaksanya untuk menatap matanya. “Kamu tadi panik? Melihat aku terluka, kamu panik?”
Ini… apa maksudnya? Melihat orang lain terluka, bukannya wajar jika kita panik?
Kenzie dengan kikuk sambil mengibas tangannya. “Tidak usah pegang-pegang! Kalau tidak apa-apa, cepat makan, nanti sayurnya dingin!”
Kenzie di dalam hati mengomel dan menambahkan kalimat, “selesai makan, langsung pergi.”
__ADS_1