CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 213 Lebih Baik Menyimpan Beberapa Kata


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Bola mata Reyhan pun menyipit, matanya pun dingin seperti angin musim dingin, menatap gambar di koran itu dengan tajam.


Tania melihat arah pandangnya, melihat foto dua orang di koran tersebut, dia langsung teriak, “ini bukannya Kenzie ya? Pria ini, kepala pengadilan di kota A?”


Hello! Im an artic!


Kenzie langsung cepat-cepat mengambil koran di atas meja itu, memang benar, itu adalah fotonya dengan Steven. Pengambil foto tersebut sangat ahli mencari sudut, yang awalnya hanya pertemuan teman lama, tetapi hasil fotonya seperti kencan sepasang kekasih.


Tiba-tiba Kenzie menjadi takut, tanpa sadar, ia menatap ke arah Reyhan.


Alis Reyhan mengerut dengan sangat erat, matanya menatap Kenzie dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku dengan Steven…” Kenzie ingin menjelaskan, tetapi setelah melihat tatapan Tania, dia pun jadi diam.


Hello! Im an artic!


Untuk apa ia menjelaskan semua ini? Reyhan dan kekasihnya sedang berdiri di hadapannya, apa gunanya ia menjelaskan semua ini?


Dan lagi, wajah Reyhan juga tidak menunjukkan ekspresi marah atau cemburu. Dia santai seperti ini, menjelaskan bahwa Reyhan tidak peduli dengan hubungannya dan Steven.


Kenzie merasakan hatinya sakit.


Tania terus memperhatikan ekspresi Reyhan, melihat di wajahnya tidak ada keanehan, hatipun baru tenang. Dia pun menjelaskan dengan sindiran, “Kenzie, kamu ini ingin cepat-cepat menikah ya? Steven itu sudah menikah, anaknya juga sudah berumur empat lima tahun. Istrinya itu anaknya wali kota, hubunganmu dengannya tidak mungkin menjadi resmi!”


Kenzie menegakkan punggungnya, dengan lurus melihat mata Tania, “Resmi? Ingin cepat-cepat menikah? Kalau aku ingin cepat-cepat menikah, lima tahun lalu aku juga sudah menikah, dan kamu tidak mungkin bertunangan dengannya!”

__ADS_1


Lima tahun lalu, sebelum ia pergi, Reyhan sempat melamarnya.


Jika dia setuju, mungkin tidak akan ada Tania di kehidupan Reyhan. Kenzie bukan bicara seperti itu karena ia marah, tapi dia sedang bertaruh, bertaruh bahwa perasaan Reyhan padanya bukanlah hanya bohong belaka. Bertaruh bahwa Reyhan tidak akan berdiri di pihak Tania dan menindas serta mempermalukannya.


Mendengar ucapan Kenzie, wajah Tania pun berubah, “Kenzie, apa maksudmu?”


Apa yang ia maksud dengan jika ia menikah, maka sekarang ia tidak mungkin bertunangan dengan Reyhan? Jangan-jangan, lima tahun lalu dia dan Reyhan hampir menikah?


Kenzie tertawa dingin, “Maksudku, bicara itu ada aturannya. Menghormati orang lain itu sama dengan menghormati diri sendiri.”


Tania menatap Reyhan, “Reyhan, sebenarnya apa maksud pembicaraannya? Apa lima tahun lalu kamu hampir menikah dengannya?”


Reyhan menundukkan kepalanya melihat Tania, matanya penuh dengan kelembutan, tangannya merangkul pinggang Tania, “Bagaimana mungkin? Mana mungkin aku bersedia menikah dengan wanita sepertinya?”


Selesai bicara, dia pun tidak melirik Kenzie sama sekali dan pergi dengan Tania!


Intonasinya yang lambat dan merendahkan, terasa seperti menampar wajahnya!


Apalagi kata-kata itu diucapkan di hadapan Tania!


Jangan-jangan, semuanya itu hanya ilusinya saja? Caranya memanjakan Kenzie, kehangatan pelukannya di malam hari, manis dan lembut ciumannya, itu semua palsu?


Reyhan hanya menyukai tubuhnya saja,bukan?


Yang Reyhan butuhkan adalah wanita seperti Tania yang merupakan keturunan pejabat, yang bisa juga bisa memberikannya banyak keuntungan.


Kenzie sangat kecewa, kepalanya sakit. Perutnya pun juga mulai sakit.

__ADS_1


Sepertinya tamu bulanannya akan segera datang, dengan wajah pucat, Kenzie memaksakan dirinya untuk keluar dari cafe, berdiri di pinggir jalan dan menunggu taksi.


Sangat sulit menemukan taksi di jalan itu, ia sudah menunggu 20 menit, namun tidak ada satupun taksi yang kosong lewat.


Sakit di perutnya pun semakin parah. Dahi Kenzie mulai dipenuhi keringat dingin.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti di hadapannya, jendela mobil perlahan diturunkan, Gunadi mengeluarkan kepalanya, “Kenzie, ini benar-benar kamu! Aku kira aku salah orang!”


Kenzie memaksakan dirinya menyapanya dengan senyum, “Hai, Pak Gunadi…”


Gunadi melihat wajah Kenzie yang pucat, “Kenzie, apa kamu sakit? Wajahmu pucat. Kamu berdiri di sini untuk menunggu taksi? Kamu mau kemana? Biar aku yang mengantarmu.”


Kenzie yang menahan sakitpun gemetar, ia berdiri sambil memegang pohon di pinggir jalan, dia bahkan tidak bisa bicara.


Gunadi langsung turun dari mobil menopangnya, “mau aku antar ke rumah sakit?”


Kenzie menolak, dia tahu itu hanya sakit datang bulan. Sakitnya hanya sebentar saja, sebentar lagi ia akan baik-baik saja.


Gunadi membuka pintu mobilnya, saat hendak naik ke mobil, Kenzie tiba-tiba merasa tubuh bagian bawahnya panas, ada cairan panas yang mengalir keluar.


Gawat! Dia malu sampai mukanya memerah, pasti tamu bulanannya datang,


Kenzie menarik terpaku, ini sangat memalukan, ia tidak mau mengotori mobil Gunadi.


“Kenzie, mengapa tidak naik? Biar aku mengantar mu ke rumah sakit.” Gunadi melihat wajah Kenzie yang pucat, hatinya merasa kasihan.


“Oh, tidak, tidak perlu, aku…aku sekarang sudah baikkan. Kamu pergi dulu saja!” Kenzie malu dan menurunkan matanya, tak tahu bagaimana caranya menghadapi Gunadi, ia juga khawatir darah akan terlihat jelas di celananya yang berwarna terang.

__ADS_1


“Kenzie, celanamu…” benar saja, Gunadi melihat di celana Kenzie ada darah segar.


__ADS_2