CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Butuh Dukungan


__ADS_3

Hari berganti hari, Arsen mulai bisa melupakan permasalahannya dengan Yoga dan Vina, kini dia mulai fokus dengan kehidupan pribadinya dan juga karirnya. Arsen berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan padanya, baik itu oleh Yoga, Jasmine ataupun oleh Tuhan sendiri.


Arsen tidak ingin kembali ke kehidupan bodohnya. Dengan mempercayakan pilihannya kepada orang yang tidak bisa ia amanahi. Seperti kedua orang tuanya, mungkin


Arsen tak ingin tinggal di Bandung lagi. Dengan lisensi yang ia miliki, Ia pun membuka pratik di dekat rumah di mana sang istri tinggal.


Ya, Arsen sengaja memilih lokasi itu agar selalu bisa mengawasi sang istri. Ia berpikir bisa datang tepat waktu jika wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya itu membutuhkannya.


Di samping niatnya itu, Arsen sendiri juga ingin memperbaiki kesalahannya. Setidaknya sampai Jasmine mau memaafkannya.


Apa yang Arsen lakukan mendapat dukungan penuh oleh Agus, pria yang telah menjadi sahabatnya sejak SMA dulu. Namun mereka sempat bersitegang karena masalah yang mereka hadapi.


Tak sengaja, Arsen bertemu dengan Agus di sebuah restoran.


"Gus, menurut elu, kalo tiap hari gue kirim makanan sama uang belanja buat Jasmine, diterima nggak ya?" tanya Arsen pada Agus.


"Mau diterima atau nggak, yang penting lu ada niat baik buat membuktikan bahwa diri lu suami yang bertanggung jawab, Sen. Gue yakin kok, Jasmine bakal luluh, apalagi tujuan lu baik, iya kan?" jawab Agus.


"Sejauh ini gue nggak mau ngomongin cinta dulu, Gus. Tapi gua pengen kami saling menerima. Dia nerima kekhilafan gue dan gue juga mau memperbaiki kesalahan itu, Gus. Tapi jujur, gue takut nggak bisa menyembuhkan trauma dalam diri dia," balas Arsen sesuai ketakutan yang ada di dalam hatinya.

__ADS_1


"Gue ngerti itu, Sen. Tapi kalo lu nggak coba, lu nggak akan pernah tahu jawabannya. Lu paham kan maksud gue?" tanya Agus lagi.


"Bener juga, Gus. Ntar malam gie pengen ke kosan dia. Gue pengen main. Pengen lihat kondisi dia, Gus. Lu mau nemenin nggak? Takutnya dia takut lihat gue," ajak Arsen.


"Boleh, jam berapa?"


"Emmm, gue nggak ada praktik sih malam ini. Gimana kalo jam tujuh. Ntar gue bawa makanan," ucap Arsen.


"Ya, nggak pa-pa. Oke, ntar lu kabarin aja. Ntar gue anter."


! /.qa


"Jangan sungkan, gue seneng kok lu menyadari kesalahan elu. Tapi gue penasaran, secepat itu perasaan lu berubah buat mantan lu?" tanya Agus. Padahal hatinya masih suka berdesir sendiri mana kala bertemu dengan istri bosnya itu.


"Awalanya juga susah, Gus. Tapi gue nyoba ikhlas. Sekarang Vina punya kehidupan sendiri. Gua nggak mau jadi manusia murah dengan menghancurkan hubungan seseorang. Vina dan Yoga tidak salah, gue nggak ada hak ngejugde mereka. Yang brengsek itu orang tua gue, seandainya gue mau menghakimi, harusnya ya mereka. Bukan Yoga ataupun Vina," jawab Arsen dewasa.


"Kamu benar, Sen. Berebut wanita itu tidak lucu. Apa lagi jika hati wanita itu tidak untuk kita. Baiklah, sorry gue nggak bisa lama-lama, bos gue udah telpon sedari tadi. Pasti ada yang penting ini!" balas Agus.


"Oke, Bro, nggak masalah. Hati-hati di jalan. Ntar gue kabari, oke!" ucap Arsen.

__ADS_1


"Siap, Bro. Gue tunggu!" jawab Agus.


Kemudian obrolan mereka berakhir, Agas meninggalkan Arsen terlihat merenung memikirkan apa yang ia bahas dengan Agus, berharap Jasmine mau menerimanya. Membalas niat baik yang bersarang di hatinya.


***


Di lain pihak..


Tampak Yoga sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Kepalanya pusing, mual dan suhu tubuhnya naik.


Yoga gengsi mau meminta sang istri datang ke ruangannya, mengingat tadi pagi ia menuduh Vina masih memikirkan mantan suaminya. Yoga cemburu mana kala mereka membahas tentang Arsen.


"Kamu memang masih menyimpan dia di hatimu, Yang. Makanya kamu suka sekali kalo ku ajak ngobrolin dia," ucap Yoga cemburu.


"Enggak, Yang. Mana ada begitu, Aku sudah memutuskan menikah denganmu. Mana mungkin aku ada waktu buat mikirin pria lain. Cuma kamu, Yang. Sungguh, aku serius!" ucap Vina, serius.


"Ahhhh, entahlah, Yang. Rasanya aku malas saja ketika ingat kamu menatap mantanmu itu. Aku kesal!"


"Aku tahu kamu cemburu, Yang. Tapi jangan menuduh gitu dong. Nggak ada lo, Yang, bayangan dia di hati mata dan pikiranku. Semuanya di penuhi kamu. Jadi mana ada tempat buat dia. Aku nggak mungkin berhianat, Yang. Serius!" jawab Vina, bingung. Sampai tak tahu lagi bagaimana caranya ia bisa membuat prianya ini mengerti bahwa antara dirinya dan Arsen sudah tidak ada hubungan apa-apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2