
Ken berteriak mengatakan dirinya ingin pergi ke kebun binatang, sekarang cuacanya juga sedang bagus, Kenzie tersenyum dan mengangguk, “Baiklah, ayo kita pergi ke kebun binatang dan melihat singa besar.”
Supir Wira yang mengikuti Kenzie dan Ken sambil tertawa dan menyela, “Non Kenzie, jalan menuju kebun binatang, pada akhir pekan sangatlah padat, anda harus bersiap-siap.”
Hello! Im an artic!
Kenzie hendak mengatakan bahwa itu tidak masalah, tapi tiba-tiba dia punya ide bagus, dan dia tersenyum dan bertanya kepada Ken, “sayang, apakah kamu pernah naik kereta bawah tanah?”
Ada stasiun kereta bawah tanah di dekat kebun binatang, dan Asal paman Wira mengantar mereka ke stasiun kereta, mereka akan bisa kesana dengan mudah.
Ken dengan mata berbinar berkata, “Tidak mungkin?! Tante Kenzie, kamu mau membawaku ke kebun binatang dengan kereta bawah tanah?”
Kenzie mengangguk, “Naik kereta bawah tanah tidak akan mungkin macet, nyaman pula, bagaimana Ken, apakah kamu mau mencobanya?”
Hello! Im an artic!
Ken mengangguk kesenangan, “Mau, mau! Aku mau mencobanya! Setiap kali aku ingin mencoba menaiki kereta bawah tanah, setiap kali keluar rumah, kalau tidak naik mobil pribadi ayah, aku harus naik mobil milik Paman Wira, membosankan sekali!”
Paman Wira yang juga senang karena tidak perlu mengantar mereka ke kebun binatang, ia mengantar mereka ke stasiun kereta bawah tanah , melambai tangan kepada mereka dan kembali.
Ken yang baru pertama kali naik kereta bawah tanah, merasa seperti pergi ke dunia lain. Karena semua terasa baru baginya, dia menanyakan banyak sekali pertanyaan, ia sangat bersemangat.
Semua berjalan dengan lancar, dan tiba-tiba sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Saat Ken ingin keluar dari stasiun kereta bawah tanah, kartu kereta bawah tanah milik Ken tidak bisa terdeteksi, sehingga ia tidak bisa keluar.
Pegawai yang sedang bertugas di stasiun kereta bawah tanah adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Ketika dia melihat Kenzie dan Ken kebingungan karena tidak bisa keluar, dia langsung membantu mereka dengan membawa kartu Ken ke kantor kecil di samping pintu keluar dan mengatur ulang kartu Ken, dengan cepat masalah kartu itu pun selesai
Kenzie mengucapkan terima kasih berulang-ulang, “Terima kasih banyak! Maaf merepotkanmu.”
Pemuda itu tersenyum lebar, “Tidak apa-apa, ini adalah kewajibanmu.”, ia melihat ke arah Ken yang sedari tadi menatapnya takjub.
Pemuda itu bertanya, “Apakah ini adikmu? Lucu sekali!”
Adik laki-laki? Kenzie sangat senang mendengarnya. Apakah Ken kelihatan seperti adik laki-lakinya? Apakah Kenzie terlihat masih muda dan kelihatan cantik?
__ADS_1
“Oh, tidak ini adalah putra temanku,” Kenzie bersikap ramah dan tetap tersenyum.
Wajah Kenzie putih dan kecil, matanya bulat seperti bulan, dua baris gigi putihnya berkilau dan rapi.
Pria muda itu nampak sedikit terkesima.
Zaman sekarang kebanyak gadis selalu menggunakan make up yang tebal saat keluar rumah, jadi zaman sekarang jarang sekali menita wanita yang cantik murni tanpa make up!
Tiba-tiba muncul dalam pikiran pemuda itu untuk menanyakan nomor telepon Kenzie, “Berapa nomor teleponmu? Mengapa kita tidak saling bertukar nomor telepon?”
Hei bukankah ini trik legendaris?
Kenzie mengambil telepon genggamnya, dan karena sopan santun, ia tidak enak untuk menolak, dan ia pun memberi tahu nomor ponselnya kepada pemuda itu.
Setelah itu, ia langsung menarik tangan Ken.
Ken yang masih memikirkan hal barusan bertanya, “Tante, apakah paman yang barusan ingin menarikmu?”
Apa? Kenzie tak bisa menahan tawa, dan menepuk kepala Ken dengan lembut, “Apa yang sebenarnya ada di otakmu ini… Anak ini, dewasa sebelum wantuknya…Apakah kamu tahu arti dari “menarik” ?”
Kenzie tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, menarik tangannya dan berjalan kedepan, “Dasar bocah kecil, ayo pergi!”
Mereka akhirnya tiba di stasiun kebun binatang, Kenzie dan Ken membeli tiket dan lalu pergi melihat-lihat bagian luar terlebih dahulu.
Bagian luar adalah tempat primata, seperti kera, monyet,simpanse dan lainnya, mereka sangat nakal, melompat-lompat dari pohon ke pohon yang lain, ini membuat Ken tertawa gembira.
Kenzie mengeluarkan kamera dan segera memotret terus menerus. Ia sama sekali tidak merasa lelah, malah merasa bahagia.
Setelah bermain sepanjang hari,dan makan di restoran anak-anak di kebun binatang, Kenzie bisa melihat bahwa Ken sedikit lelah, dia pun memanggil taksi dan mengantarkan Ken pulang kerumah.
Ketika taksi mendekati rumah Reyhan, Kenzie mulai gugup.
Takut bertemu Reyhan, tetapi juga memiliki sedikit keinginan untuk bertemu.
Melihat bahwa yang menyambut adalah Bibi Dewi, Kenzie tersenyum dan segera menyerahkan Ken kepada Bibi Dewi, “Bibi Dewi, Ken sudah mengantuk,begitu naik ke tempat tidur, ia pasti akan langsung tidur.”
__ADS_1
Bibi Dewi tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya ke arah Ken, tapi Ken mendadak memeluk Kenzie, “Tidak! Aku mau! Aku ingin tante Kenzie menemaniku!”
Kenzie agak malu, “Ken, Aku harus pulang,kamu tidur sendiri ya?”
“Tidak, Tidak! Aku ingin dengan Tante Kenzie! Aku hanya ingin dengan Tante Kenzie!” Ken mulai kesal.
Melihat Kenzie yang tidak menyetujuinya, Ken semakin kesal, dan mulai menangis kencang. Tangan Ken menarik leher Kenzie sehingga membuatnya sulit bernafas.
Bibi Dewi bisa melihat kekhawatiran Kenzie, ia pun berkata, “Nona Kenzie, Tuan muda dan Nona baru saja keluar, katanya makan malam. Tidak akan pulang sampai satu setengah jam lagi. Melihat keadaan Ken seperti ini, kalau Nona benar-benar pergi, sepertinya tidak akan ada yang bisa menenangkannya semalaman.”
Kenzie serba salah, tapi ia juga kasihan melihat Ken, jadi ia mau tak mau pun menggendong Ken masuk ke dalam, “Baiklah, tante akan menemani Ken tidur, sudah, jangan menangis lagi.”
Untungnya, Reyhan dan Tania tidak ada di rumah, kamar tidur Ken ada dilantai 2, dan Bibi Dewi memimpin jalan di depan, Kenzie mengikutinya dari belakang sambil menggendong Ken, Ia benar-benar berharap, ia bisa pulang sebelum Tania dan Reyhan kembali.
Ketika sudah tiba di kamar, Kenzie membantu Ken mandi, dan menceritakan beberapa kisah, Ken pun segera tertidur.
Kenzie menatap Ken yang tidur dengan tenang, dia tidak bisa menahan senyum dan menggelengkan kepalanya, anak itu tidur dengan sangat cepat, awalnya masih mengajukan banyak pertanyaan, detik berikutnya langsung tertidur pulas.
Kenzie berdiri dari pinggir tempat tidur, meletakkan buku cerita yang ada tangannya, dan dengan perlahan keluar dari kamar tidur Ken.
Saat ia hendak menuruni tangga ketika mendengar suara ******* yang panjang dan keras.
Suara itu datang dari kamar di ujung koridor lantai dua.
Kenzie berhenti tiba-tiba, dan tangan kanannya menggenggam besi tangga yang berwarna emas.
Siapapun akan mengetahui suara apa itu.
Jantungnya seperti dihantam batu besar, tidak nyaman dan menyakitkan.
Memikirkan Tania yang tidur bersama Reyhan membuatnya tidak nyaman, tapi secara langsung mendengar mereka sedang melakukannya dengan telinganya sendiri, itu membuatnya benar-benar sakit hati.
Air matanya berlinang dan jatuh diatas karpet wol, air mata itupun langsung menghilang tanpa jejak.
Kenzie berusaha mengusap air matanya dan menggunakan semua kekuatannya untuk pergi sesegera mungkin. Sebelum Bibi Dewi, yang sedang membersihkan vas diruang tamu, melihat apa yang terjadi, Kenzie sudah berlari keluar rumah.
__ADS_1